10. My Lecturer My Husband

218 21 7
                                        

Selamat Membaca

.
.

Makan malam syukuran Kenzo akhirnya selesai. Semua orang terlihat senang, tawa memenuhi rumah. Anak-anak panti tampak begitu bahagia—bahagia yang polos, yang jujur. Beberapa dari mereka memandangi burger di tangan seolah itu benda langka.

Ada rasa sesak di dadaku ketika melihat seorang bocah kecil menggigit burgernya pelan-pelan, matanya berbinar seperti sedang mencicipi keajaiban dunia.

Sedih… tapi juga bersyukur.

Aku bersyukur terlahir dari orang tua yang berkecukupan. Bersyukur tanpa harus merasa lebih tinggi.

Pandangan mataku menyapu seisi ruangan. Om Radit masih ada, terlihat asyik mengobrol dengan Papah dan beberapa kerabat lain.

“Kiara, toilet sebelah mana?”

Aku menoleh.

“Kak Marsha lurus aja terus, belok kanan. Kalau ada orang, pakai toilet kamar aku juga nggak apa-apa.”

“Oke, Ra.”

Seperti biasa—tanpa izin—dia mencium pipiku.

Aku mendecak pelan.

“Emang pipi aku permen Yupi, apa?”

Aku kembali fokus menyiapkan buah untuk pencuci mulut. Baru saja aku hendak mengangkat nampan, sebuah suara muncul di belakangku.

“Ada yang bisa aku bantu?”

Aku menoleh.

“Kalau nggak keberatan, tolong bawakan buah ini ke depan. Aku mau potong semangka dulu.”

“Iya.”

Nada suaranya lembut. Terlalu lembut.

Aku mendesah pelan dalam hati.

Pribadinya memang cocok dengan Kak Neill. Terlihat serasi, saling melengkapi. Kalau mereka menikah nanti, mungkin anak-anaknya akan sesempurna ilustrasi iklan keluarga bahagia. Asal sifat buruk bapaknya saja tidak ikut turun.

Aku mengangkat semangka.

Berat juga.

“Aw—”

Pisau buah itu menggores jari telunjukku. Cukup dalam. Darah langsung mengalir dan menetes ke lantai dapur.

“Dasar ceroboh.”

Aku menegang.

“Kak Neill?”

Aku tidak membantah. Tidak juga menarik tangan. Aku hanya diam, seperti anak kecil yang tertangkap basah.

Tanpa berkata apa-apa, Kak Neill meraih tanganku dan—
mengisap jari telunjukku.

Jantungku nyaris berhenti.

“Cuci bersih dulu,” katanya datar, seolah yang baru saja dia lakukan hal biasa. “Habis itu obati pakai betadine.”

“Rasya,” suara lain menyela. “Tadi aku dengar teriakan. Kenapa?”

Ya ampun. Tepat waktu sekali.

“Kiara terluka,” jawab Kak Neill cepat. “Kamu obati dia. Biar aku yang potong semangkanya.”

“Iya. Kiara, kotak P3K di mana?”
Aku menarik tanganku.

“Ini cuma luka kecil. Aku bisa sendiri.”

Nada suaraku dingin.

Aku kesal. Sangat.

Aku berbalik, meninggalkan dapur tanpa menoleh lagi.

Dasar Kak Neill jahat.

Om-om genit. Menyebalkan.

My Lecturer My Husband Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang