05. My Lecturer My Husband

231 26 0
                                        

Selamat Membaca

.
.
.
Hari ini kampus mengadakan bazaar selama dua hari berturut-turut. Tahun ini, suasananya jauh lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya. Stand-stand produk berjejer penuh, mulai dari pakaian, makanan, sampai berbagai barang lain. Sementara aku—seperti biasa—hanya berperan sebagai tukang borong. Urusan jualan atau menawarkan barang jelas bukan keahlianku.

Aku dan Vania berjalan menyusuri deretan stand. Semuanya terlihat menggoda.

Bingung mau beli apa dulu, akhirnya aku asal masuk ke salah satu stand minuman.

“Van, gue pesen es campur tanpa roti, ya. Lo tunggu di sini bentar, gue mau beli camilan dulu,” kataku.

“Sip. Kalau ada yang jual cilok, beliin dua porsi buat gue. Sambalnya dipisah,” sahut Vania.

“Beres.”

Hampir semua makanan terlihat menggugah selera sampai rasanya ingin ku borong semuanya. Tapi aku buru-buru mengingatkan diri sendiri—berlebihan itu tidak baik, dan membuang makanan juga dosa. Jadi, beli seperlunya saja.

Aroma wangi ayam goreng menguar dari salah satu stand. Ayam goreng serundeng sepertinya cocok jadi teman es campur.

“Eh, Ra. Mau pesen apa?”

Aku menoleh. Rani, pemilik stand ayam goreng, tersenyum ramah.

“Dua potong sayap sama satu paha,” jawabku. “Tahun ini jualan makanan juga, lo?”

“Siap dong. Sesekali cari inovasi. Lagian jajanan kayak gini kan paling laku,” katanya sambil cekikikan. “Tumben lo beli sendirian. Biasanya gandengan mulu sama Vania.”

Bukan rahasia lagi di kampus. Banyak yang sudah hafal kalau aku hampir selalu bersama Vania ke mana pun pergi. Bahkan, yang tidak terlalu kenal sering mengira kami saudara.

“Ini, Ra. Jadi lima belas ribu.”

Aku menyerahkan uang pecahan lima ribu. Rani menerimanya dengan wajah sumringah.

“Ran, lo tahu nggak stand yang jual cilok di mana?”

“Bentar, gue tanya Nando dulu.”

Rani menghampiri partnernya yang sedang sibuk menggoreng ayam.

“Katanya lurus aja terus belok kiri. Di sekitar situ ada yang jual cilok.”

Oke, thanks.”

“Sama-sama.”

Aku segera menyingkir karena stand Rani mulai ramai. Untung aku datang lebih dulu, jadi tak perlu mengantre.

Sesuai petunjuk Rani, benar saja—stand cilok ada di sana. Tak ingin membuat Vania menunggu lama, aku langsung memesan empat porsi. Dua untuk Vania, dua lagi untuk papah dan mamah di rumah.

Baru beberapa menit aku pergi, stand es campur sudah penuh oleh antrean. Aku langsung menghampiri Vania dan menyerahkan pesanannya.

“Ini, pesenan lo. Dua porsi cilok.”

“Thanks, Ra. Nih es campur lo. Buruan dimakan, masih belum cair amat,” katanya.

“Iya.”

Es campur dan ayam goreng ala-ala KPC terasa nikmat. Suasana menjelang petang membuat semuanya terasa lebih hidup.

Matahari mulai terbenam. Lampu-lampu stand menyala satu per satu, membuat bazaar ini mirip pasar malam. Semakin ramai, semakin asyik.

Setelah kenyang, saatnya berburu hal lain.

“Sepuluh ribu lima! Sepuluh ribu lima! Dicoba, dicoba!”

Karena tertarik, aku berhenti di permainan pistol air. Aturannya sederhana—siapa yang berhasil mengenai kaleng, akan mendapatkan boneka.

My Lecturer My Husband Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang