Selamat Membaca
.
.
Kehidupan yang baru perlahan akan segera dimulai, seolah semesta memberi kesempatan kedua bagi semua orang untuk kembali menata hidup mereka masing-masing. Segalanya kembali berjalan normal seperti sedia kala. Kasus berdarah yang sempat mengguncang banyak pihak itu akhirnya resmi ditutup, dan pengadilan memutuskan bahwa Pak Bambang dinyatakan bersalah karena terbukti bekerja sama menyembunyikan kejahatan anaknya sendiri. Atas perbuatannya, ia dijatuhi hukuman maksimal lima tahun penjara serta denda sebesar seratus juta rupiah yang akan diserahkan kepada keluarga Sinta—korban pemerkosaan dan pembunuhan berencana.
Hari-hari kembali berjalan dengan ritme yang dulu, seolah luka-luka lama hanya disimpan rapi di balik ingatan.
“Kiara.”
“Hoi, Van. Buruan, kita berangkat!” seruku sambil mengenakan helm. “Hari ini mata kuliah Kak Neill.”
“Seriusan, lo?” Vania langsung bereaksi. “Bukannya jadwal beliau jam satu? Kenapa jadi pagi?”
“Mana gue tahu,” sahutku santai. “Emangnya gue pacarnya?”
“Ngarep banget lo. Paling Pak Rasya diam-diam udah punya cewek.”
“Sok tahu banget, Van. Buruan naik, gue tinggal nih!”
Ngaco memang Vania ini. Memangnya ada perempuan yang mau sama Kak Neill? Pria super dingin yang kadang mendadak melankolis tanpa aba-aba itu?
Aku dan Vania akhirnya kembali seperti dulu. Semua rasa kecewa, marah, dan salah paham perlahan menghilang, seolah ditelan bumi begitu saja.
“Van, lama banget sih bawanya?” keluhku.
“Lo nggak lihat apa depan macet? Ada kecelakaan.”
“Pokoknya kalau kita telat, lo yang tanggung jawab.”
“Enak aja. Namanya musibah nggak ada yang tahu. Tuh lihat, jalan baru bisa dibuka pas polisi datang.”
“Iya, iya, bawel.”
Akhirnya kami berhasil lolos dari kemacetan.
Sepuluh menit kemudian, kami sudah tiba di kampus. Baru saja aku dan Vania hendak masuk kelas, tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar—dan sukses membuat jantungku refleks berdetak lebih cepat.
“Siapa yang mengizinkan kalian masuk?”
Hah?
Aku melongo saat melihat Kak Neill berdiri tak jauh dari kami, melangkah tenang namun berwibawa menuju pintu kelas.
Bukannya masih ada dua menit lagi sebelum kelas dimulai?
“Kenapa malah bengong?” katanya datar. “Silakan kalian belajar di luar. Saya sudah pernah bilang, tidak ada toleransi bagi siapa pun yang tidak patuh.”
“Tapi, Pak,” Vania memberanikan diri. “Masih ada sekitar dua menit sebelum kelas Bapak mulai.”
“Berani kamu membantah saya?” Nada suaranya langsung berubah dingin. “Belajar di luar, atau poin mata kuliah kamu saya kurangi sampai tidak lulus.”
Dasar menyebalkan.
Dia pasti sengaja.
Pengen rasanya aku smackdown, tapi aku masih sadar diri dengan ukuran fisik. Mau tidak mau, aku dan Vania keluar kelas dan duduk di luar hingga mata kuliah selesai.
“Sumpah ya,” bisik Vania. “Gue syok sama tingkat kedisiplinan Pak Rasya. Lebih killer daripada Bu Anita.”
“Apalagi gue,” sahutku lirih.
“Bukannya merenungi kesalahan, malah enak bergosip.” Suara itu terdengar jelas dari dalam kelas. “Apa mau saya tambah hukuman kalian?”
“Maaf, Pak.”
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lecturer My Husband
RomanceKiara menyimpan perasaan yang tak seharusnya ia miliki-kepada dosennya sendiri, Rasya O'neill Joseph. Di antara masa lalu yang saling terhubung dan batas yang tak boleh dilanggar, cinta itu tumbuh dalam diam, lewat tatapan dan jarak yang dipaksakan...
