07. My Lecturer My Husband

184 20 0
                                        

Selamat Membaca

.
.
Aku sudah memutuskan untuk kembali masuk kuliah.

Keputusan itu kuambil bukan karena aku baik-baik saja—justru sebaliknya. Rasa kecewa terhadap sikap Kenzo menumpuk di dadaku, mengeras seperti beban yang tak tahu harus diletakkan di mana. Terlalu penuh sampai aku memilih menjauh. Dari dia. Dari mereka. Bahkan dari Vania.

Bukan karena benci—tidak pernah.
Tapi aku belum siap. Belum siap menghadapi apa pun yang mengingatkanku pada Kenzo dan segala luka yang belum sempat ku urai.

Perubahanku jelas terasa. Dan Vania, tentu saja, menyadarinya.

“Kiara, hari ini lo kenapa sih?” Vania menghentikan langkahku di koridor. Wajahnya tampak gelisah, alisnya berkerut seperti orang yang terus mengulang satu pertanyaan di kepalanya. “Lo masih marah sama gue gara-gara gue nggak ngangkat telepon lo? Atau… gue ada salah yang lain?”

Aku berhenti. Menghela napas panjang.

Gemuruh di dadaku berusaha keluar, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Aku tidak ingin menangis. Tidak di sini. Tidak di depan Vania.

“Gue lagi pengen sendiri, Van,” jawabku datar, setenang yang ku bisa. “Lebih baik lo tanya langsung sama Kenzo.”

“Ra… Kiara.” Suaranya melemah, nyaris seperti orang yang kehilangan pegangan.

Maaf, Van.

Kamu harus ikut kena imbasnya.

Aku tidak membencimu. Aku sungguh tidak.

Yang ada hanya rasa kecewa yang terlalu kusut untuk dijelaskan dengan kata-kata. Aku butuh waktu. Banyak waktu. Untuk bernapas. Untuk menyusun ulang diriku sendiri.

Perpustakaan adalah tempat paling aman untuk menenangkan pikiran. Sunyi. Dingin. Dan yang paling penting—tidak menuntut ku untuk tersenyum atau berpura-pura baik-baik saja.

“Pagi, Kak Adit,” sapaku pelan.

“Pagi, Ra.” Kak Adit tersenyum tipis. “Tumben sendirian. Mana soulmate kamu?”

Aku mengangkat bahu, senyum kecil yang dipaksakan nyaris tak terasa. “Sibuk mungkin.”

Dan jujur saja, aku benar-benar tidak ingin membahas Vania atau Kenzo hari ini. Satu penyebutan nama saja rasanya sudah cukup untuk membuat dadaku kembali sesak.

Aku memilih duduk di pojok perpustakaan, membuka majalah fashion. Membiarkan mataku menyusuri warna, potongan, dan konsep desain—berharap pikiranku ikut teralihkan. Siapa tahu ada inspirasi. Atau setidaknya, jeda singkat dari kekacauan di kepala.

Namun ketenangan itu rapuh.

Ribut.
Sangat ribut.

Suara gaduh terdengar dari luar perpustakaan. Tawa, teriakan, bisik-bisik penuh sensasi. Satu per satu mahasiswa berhamburan keluar, wajah mereka dipenuhi rasa penasaran yang nyaris berlebihan.

“Ada apa sih?” gumamku, menutup majalah.

Rasa ingin tahu akhirnya menang. Aku ikut keluar.

“Gila, itu bukannya Candra and the genk?”

“Lah, iya, ya!”

“Guys, guys, liat deh! Pak Anton, ketua yayasan, mukulin tangan mereka pakai rotan. Ketahuan pakai tato!”

“Serius? Coba gue liat!”

Aku mendengus pelan.

Kapan sih orang-orang kayak mereka mau tobat?

Berani-beraninya pakai tato, padahal masih mahasiswa di kampus seketat Dirgantara Indonesia. Satu kesalahan kecil saja bisa jadi tiket keluar permanen.

Niat hati mencari kedamaian, malah disuguhi pemandangan menyebalkan.

My Lecturer My Husband Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang