13. My Lecturer My Husband

181 16 10
                                        

Ayo, berikan aku banyak cinta agar semakin semangat.

Selamat Membaca

.

Neill POV

Aku sudah berusaha bersikap baik pada Susan. Ada rasa bersalah karena sikapku yang belakangan ini terkesan acuh tak acuh. Manusiawi jika Susan menaruh hati padaku, dan sampai detik ini, hanya dia yang masih bertahan di sisiku.

Entah sampai kapan aku mampu bertahan dengan perasaan bertepuk sebelah tangan ini. Jika kali ini pun tidak ada pergerakan darinya—dari Kiara—aku akan melepaskannya dengan ikhlas. Meski aku tahu, menata kembali hati yang patah bukan perkara singkat.

Ujung bibirku terangkat samar, teringat kebersamaan kami berdua yang tak pernah benar-benar bisa kulupakan.

“Kak Rasya, buruan turun. Ayah sama Bunda sudah nunggu lama.”

“Iya, bawel.”

Marsha memang paling hobi mengacau saat aku sedang larut dalam pikiranku. Meski begitu, aku tetap menyayanginya.

Aku melirik jam. Sudah pukul empat sore. Hampir saja aku lupa kalau hari ini kami akan ziarah ke makam Ibu. Ibu yang melahirkanku ke dunia, namun takdir berkata lain—beliau pergi tak lama setelah aku hadir.

Karena malam nanti aku juga sudah berjanji bertemu Susan, aku membawa baju cadangan agar tidak perlu kembali ke rumah.

“Semua sudah siap?” tanyaku ringan.

“Lama amat sih, Kak. Ngapain juga bawa tas ransel segala.”

Benar-benar cerewet. Mirip sekali dengan Ayah.

“Sudah, jangan bertengkar lagi,” ujar Bunda lembut. “Ayah juga sepertinya sudah selesai panasin mobil. Marsha, kamu harus lebih lemah lembut kalau bicara sama kakak.”

“Iya, Bunda.”

Aku menjulurkan lidah, meledek Marsha yang baru saja kena omel. Seperti biasa, dia langsung merajuk dan mendekat ke Ayah mencari perlindungan. Ayah hanya tersenyum tipis melihat drama kecil itu.

“Ayah, mana kunci mobilnya? Biar aku saja yang nyetir.”

“Belum Ayah cabut,” jawabnya santai. “Kamu itu paling bisa diandalkan. Ayo, Sayang.”

“Kamu itu, malu dilihat anak-anak,” protes Bunda, wajahnya memerah.

Aku tersenyum melihat Ayah dengan penuh kelembutan membukakan pintu mobil untuk Bunda. Sudah lebih dari dua puluh empat tahun mereka menjaga rumah tangga. Dari merekalah aku belajar—terutama dari Ayah—bagaimana memperlakukan seorang istri dengan baik. Bekal untuk masa depanku kelak, jika aku benar-benar membangun mahligai pernikahan.

Perjalanan menuju TPU dilalui dalam keheningan. Tak satu pun dari kami berbicara, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Aku sendiri sedang mempersiapkan hati dan mentalku. Jika malam ini Kiara tidak datang saat aku berpura-pura melamar Susan—maka aku akan benar-benar berhenti berharap. Aku hanya ingin tahu satu hal: apakah masih ada perasaan di hatinya untukku.

Jika dia tidak datang, aku akan melupakannya. Meski berat. Karena Kiara adalah wanita pertama—dulu hingga sekarang—yang benar-benar aku cintai.

“Akhirnya sampai,” ucapku saat mobil berhenti. “Kalian turun duluan. Aku cari parkir.”

“Baik.”

Marsha sibuk membawa keranjang bunga, sementara Ayah menuntun Bunda dengan hangat menuju makam Ibu. Aku tersenyum lirih. Aku benar-benar orang paling beruntung—terlahir dari seorang ibu yang luar biasa dan dibesarkan oleh Bunda yang penuh kasih, tanpa pernah membedakan aku anak kandung atau bukan.

My Lecturer My Husband Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang