Bagaimana kisah Kiara Neill, apakah kalian masih setia dengan kelanjutannya? Jangan lupa terus dukung author dengan cara like, komen dan follow....
Selamat Membaca
.
.
Aku benar-benar kaget setengah mati melihat reaksi Kak Neill yang sama sekali di luar perkiraanku. Dengan cepat, ia meraih gelas di atas meja lalu menghantamkannya ke lantai. Suaranya memekakkan telinga, gelas itu hancur berkeping-keping.
Tubuhku bergetar hebat. Bukan ini… bukan ini yang aku harapkan.
Saat ini sosok Kak Neill terasa sangat menakutkan. Kakiku seperti kehilangan tenaga, sulit digerakkan. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menunduk, menahan gejolak di dada yang semakin menyesakkan, diam saat kedua bahuku dicengkeram erat olehnya.
Tatapan mata Kak Neill bagaikan badai salju yang siap menghantam tanpa ampun.
“Sudah puas kamu, Kiara?!!”
Bibirku terasa getir. Tak satu kata pun sanggup keluar untuk menjawab kemarahannya.
“A-aku—”
“Kamu sudah melewati batas!” bentaknya. “Apa dengan cara ini kamu pikir aku akan bersimpati padamu? Jawab aku, Kiara!”
Air mataku kembali jatuh. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Wajar jika Kak Neill marah—ini semua memang sudah keterlaluan. Aku bodoh. Bahkan Vania sudah memperingatkan untuk membatalkan rencana konyol dan berbahaya ini.
“Bercanda kamu itu sama sekali tidak lucu, Kiara Randolph Abiansyah,” lanjutnya tajam. “Aku berusaha melupakan kamu, seperti yang kamu inginkan. Tapi tiba-tiba kamu datang dan mengacaukan semua rencanaku. Di mana pertanggungjawaban kamu padaku? Apa kamu bahagia sekarang karena berhasil dengan tujuanmu?”
Entah kenapa, di sisi lain aku merasa beruntung karena tidak ada siapa pun di ruangan ini selain kami berdua. Setidaknya, kekacauan ini tak disaksikan orang lain.
“A-aku—”
Aku terus menunduk, sama sekali tak berani menatap wajahnya. Saat Kak Neill marah, aku benar-benar takut. Ini kali pertama aku melihatnya semarah ini. Selama ini, sekalipun ia kesal, ia tak pernah berkata kasar. Namun malam ini, semua itu sirna. Marahnya orang pendiam ternyata mengerikan.
“Kenapa kamu tidak bisa menjawab, Kiara?” suaranya meninggi. “Apa kamu pikir aku semudah itu untuk kamu lukai dan permainkan? Setelah semua yang pernah aku berikan, kamu sama sekali tak memberi respons. Apa kamu mau bertanggung jawab jika Susan kecewa dan membenciku selamanya karena ulahmu yang pura-pura hamil itu?! Jawab aku! Apa yang akan kamu lakukan?!”
Tubuhku akhirnya merosot ke lantai. Aku tak sanggup lagi mendengar kata-katanya. Air mataku tumpah deras, bagaikan air terjun Niagara yang tak bisa dibendung.
Jika memang akhirnya seperti ini, mungkin lebih baik aku menyelami lautan samudra saja. Tenggelam, kehabisan napas. Aku memang sebodoh itu.
Aku bersimpuh, memeluk kedua lututku. Lalu tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan melingkari tubuhku, menarikku ke dalam pelukan hangat.
“Maafkan aku, Kiara. Sepertinya aku sudah kelewatan.”
“Maksud Kak Neill…?” suaraku bergetar.
Aku masih enggan mengangkat wajahku. Hangatnya pelukannya terasa begitu nyata.
“Selamat! Kamu kena prank!!!!”
Aku langsung mendorong tubuh Kak Neill begitu mendengar suara yang sangat aku kenal.
Kenzo.
Aku spontan menoleh ke sekeliling.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lecturer My Husband
RomanceKiara menyimpan perasaan yang tak seharusnya ia miliki-kepada dosennya sendiri, Rasya O'neill Joseph. Di antara masa lalu yang saling terhubung dan batas yang tak boleh dilanggar, cinta itu tumbuh dalam diam, lewat tatapan dan jarak yang dipaksakan...
