08. My Lecturer My Husband

174 20 0
                                        

Selamat Membaca

.
.
Baru saja aku merasa sedikit tenang.
Sedikit damai.

Pelaku dari semua kekacauan ini akhirnya tertangkap. Untuk pertama kalinya sejak malam itu, pikiranku berani berharap-bahwa mimpi buruk ini akan berakhir hari ini juga. Bahwa aku bisa bernapas tanpa rasa takut.

Namun harapan itu terlalu naif.

Karena Kak Candra masih saja berulah, seolah kegilaannya belum menemukan titik akhirnya.

"Kiara!!"

Teriakan itu memecah udara. Tubuhku refleks menegang, jantungku kembali berpacu tak karuan.

"Kak Kiara, awas!!"

Dor!
Dor!
Dor!

Tiga kali bunyi timah panas memekakkan telinga, bertabrakan dengan jeritan panik yang langsung memenuhi area luar ruang psikologi. Semuanya terjadi terlalu cepat-terlalu brutal-untuk diproses oleh pikiranku yang masih terjebak dalam ketakutan.

"Aaakkkhhhh!!"

Darah segar membanjiri lantai. Mengalir tanpa ampun. Beberapa mahasiswa menjerit histeris, sebagian lainnya terpaku, seolah kaki mereka membeku di tempat.

"Aaaakkk!!"

Teriakan itu terdengar hampir bersamaan, bercampur dengan suara tembakan aparat kepolisian.

"Candraaaa!!!"

Suara Pak Bambang menggema penuh keputusasaan. Jeritannya pecah saat melihat anaknya sendiri terkapar bersimbah darah-tubuh itu tak lagi bergerak setelah kegilaan terakhir yang ia lakukan dengan tangannya sendiri.

"Kenzooo..."

Suaraku tercekat.

Aku berlari. Tidak peduli apa pun lagi.

Hanya Kenzo.

Tubuhnya sudah terkapar tak berdaya. Tergeletak miring, tangan kirinya menekan perut kanan-darah merembes di sela-sela jarinya. Luka tusuk itu... luka yang ia dapatkan saat melindungi dirku.

Dadaku seperti diremas.

Entah setan apa yang merasuki Kak Candra hingga ia masih sempat menusuk Kenzo di detik-detik terakhir hidupnya. Dan karena tindakan brutal itu, aparat kepolisian tak punya pilihan lain.

Tembakan dilepaskan.

Kak Candra tewas di tempat.

Peluru menembus jantung dan perut kirinya, mengakhiri semua kejahatan yang telah ia lakukan.

"Amankan korban jiwa! Bawa segera ke rumah sakit!"

"Baik, Pak!"

Tim medis bergerak cepat. Kenzo diangkat ke atas tandu. Darahnya masih terus mengalir, membasahi seragam putih para petugas.

"Kenzo... bangun, Kenzo..." suaraku bergetar, hampir tak terdengar.

Darah.

Terlalu banyak darah.

Kak Neill menghampiriku dan ikut masuk ke dalam ambulans. Wajahnya tegang, tapi ia berusaha tetap tenang-demi aku.

"Kenzo, bangun," pintaku lagi, putus asa. "Kenapa kamu lakukan semua ini?"

Mata Kenzo terbuka sedikit. Bibirnya membiru, napasnya tersengal-tanda tubuhnya sudah terlalu lemah.

"Syukurlah..." suaranya lirih, nyaris hilang. "Kakak... baik-baik saja."

"Dasar adik bodoh!" bentak Kak Neill. Suaranya bergetar, marah dan takut bercampur jadi satu.

Hooekk-
Kenzo tiba-tiba muntah darah.

My Lecturer My Husband Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang