04. My Lecturer My Husband

227 28 0
                                        

Selamat Membaca
.
.

Neill POV

Aku mengutuk diriku sendiri.

Apa yang Kiara katakan tadi tidak salah—bahkan sepenuhnya benar. Tapi entah kenapa dadaku terasa sesak, kesal tanpa alasan yang jelas. Aku sudah berusaha menjaga jarak, bersikap perhatian secukupnya, menahan diri sekuat mungkin. Namun di matanya, semua itu seolah tak pernah berarti apa-apa.

Apakah semua yang kulakukan benar-benar terlihat seperti perhatian biasa?

Atau memang aku saja yang terlalu berharap?

Jika aku jujur tentang perasaan yang sudah lama kupendam, aku takut Kiara justru menjauh. Ini pertemuan pertama kami setelah sekian lama berpisah—dan ironisnya, untuk pertama kalinya juga aku kehilangan kendali hanya karena seorang perempuan.

“Kak Rasya, cepetan turun! Makan malam!”

“Iya,” jawabku singkat.

Aku buru-buru turun sebelum Marsha mulai dengan ceramah khasnya. Kalau tidak, telingaku bisa pecah.

Gila. Ini benar-benar gila.

Langkahku terhenti begitu melihat Kiara duduk berbincang dengan Bunda. Aku memastikan sekali lagi—dan ya, itu benar-benar dia. Syukurlah malam ini aku tidak mengenakan celana kolor Spongebob. Reputasiku sebagai dosen bisa tamat.

“Selamat malam, Om, Tante.”

“Malam, Rasya.”

Om Rendi dan Tante Maura selalu terlihat menawan, meski usia tak lagi muda. Ada wibawa yang tenang dari mereka.

“Hai, Kak Neill.”

“Hm.”

Responsku pasti terdengar dingin. Aku tahu itu.

“Ternyata masih marah, toh,” ucap Kiara pelan.

“Siapa yang marah?” sanggahku, menahan gengsi. “Jangan lama-lama lihat aku. Nanti naksir lagi.”

Marsha tersedak minumannya. Aku refleks menyodorkan tisu.

“Sejak kapan Kak Rasya jadi tukang gombal? Ih, geli!” protesnya.

“Sudah,” suara Ayah memotong. “Tidak sopan bercanda di meja makan.”

“Iya, Yah,” jawab kami hampir bersamaan.

Makan malam berlangsung sunyi. Setelah itu, para orang tua pergi berbincang di ruang lain. Kiara dan Marsha sibuk karaoke, sementara aku hanya duduk memperhatikan.

Kiara tampak begitu hidup saat tertawa. Mungil. Hangat. Terlalu mudah membuatku ingin melindunginya.

“Kak, ambilin minum dong,” pinta Marsha.

“Kamu mau apa, Ra?” tanyaku sengaja.

“Eh, aku yang minta,” protes Marsha.

“Air putih,” jawab Kiara singkat.

“Aku orange juice!”

Saat kembali membawa minuman, Kiara sudah tidak ada. Marsha tertidur di sofa.

“Kiara ke mana?” tanyaku.

“Ke taman belakang,” jawab Marsha setengah sadar.

Dadaku mengeras.

Aku mencarinya ke luar.

“Tolong…”

Suara itu membuat jantungku berhenti sesaat.

“Aku di sini… kakiku kram.”

Tanpa pikir panjang aku terjun ke kolam. Kepalanya sudah tak terlihat. Dunia seakan runtuh.

My Lecturer My Husband Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang