Selamat membaca
^^^
Kak Neill dengan sabar merawat dan menjagaku sejak kami pulang dari bazaar kampus. Kondisi fisikku masih sangat lemah, membuatku belum mampu melakukan apa pun seorang diri. Keluarga besarku sudah mengetahui apa yang menimpaku malam itu. Bahkan aku sempat mendengar kabar dari Kak Neill, mamah sampai pingsan saat mengetahui kejadian tersebut.
“Cuci tangan dulu, baru setelah itu sarapan,” ujar Kak Neill lembut.
“Iya, Kak,” jawabku pelan.
“Aku sudah menyiapkan pakaian baru buat kamu. Bajunya punya Marsha, adikku. Sekitar jam delapan nanti keluarga besar kamu akan datang ke sini, dan Ayah juga ingin bertanya sesuatu sama kamu.”
Aku membalas ucapannya dengan senyum kecil.
Rasa takut itu masih sering menghantuiku. Tadi malam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, aku merasa seolah penjahat itu masih berada di sekitarku.
“Kamu tunggu di sini sebentar, sepertinya ada tamu,” ucap Kak Neill lagi.
“Iya, Kak.”
Maafkan aku, Kak Neill. Hari ini aku tidak sepenuhnya mematuhi ucapanmu. Diam-diam aku mengikutinya dari belakang, lalu bersembunyi di balik tembok yang memisahkan ruang tamu dan ruang TV.
Padahal belum menunjukkan pukul delapan, tetapi keluargaku sudah datang lebih awal. Aku mencari-cari sosok Kenzo dengan pandangan mata—di mana anak itu? Kenapa dia tidak ada?
Om Radit pergi ke ruangan lain bersama Kak Neill. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Berbeda dengan mamah yang sejak tadi terus menangis. Isakannya terdengar pilu, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
“Kenapa semua ini harus terjadi pada Kiara, Mas?” suara mamah bergetar.
“Tenanglah, Sayang. Jangan menangis. Semua ini adalah takdir. Kita tidak mungkin mengubahnya,” ujar papah berusaha menenangkan. “Sudah… jangan menangis lagi.”
“Tapi, Mas Rendi… kenapa hal buruk seperti ini harus terulang kembali? Tidak cukupkah aku seorang diri saja yang merasakan pahitnya kejadian beberapa tahun lalu?”
“Jangan mengingat itu lagi,” suara papah ikut bergetar. “Hatiku jauh lebih hancur setiap kali mengingat masa lalu itu. Kamu adalah Maura Anastasya Hakim—wanita tangguh dan kuat yang pernah aku temui. Ibu yang hebat untuk Kiara dan Kenzo.”
Aku menekuk lututku perlahan. Dadaku sesak mendengar kisah masa lalu kedua orang tuaku. Mamah juga pernah menjadi korban pelecehan. Bedanya, saat itu papah bergerak cepat menemukan mamah, sehingga beliau masih bisa diselamatkan. Kesuciannya tetap terjaga.
Tak lama, Kak Neill dan Om Radit keluar dari ruangan.
Aku segera keluar dari persembunyian dan berlari ke arah papah dan mamah. Tangisanku pecah seketika. Kupeluk keduanya dengan erat.
Mamah berkali-kali mencium keningku, seolah ingin memastikan aku benar-benar ada di hadapannya.
“Mah, Pah… Kiara takut.”
“Iya, Sayang,” jawab mamah lembut. “Jangan takut. Mamah akan menjagamu. Mamah tidak akan membiarkan hal seperti itu terulang untuk kedua kalinya.”
“Pah. Mah.”
Tangisan kembali memenuhi pagi itu. Bahkan papah—yang biasanya terlihat dingin, berwibawa, dan tegar—kini menangis terisak.
“Sayang, temani Kiara istirahat di kamar,” ujar papah. “Biar masalah ini menjadi urusan para laki-laki.”
“Iya, Mas,” sahut mamah.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lecturer My Husband
RomansaKiara menyimpan perasaan yang tak seharusnya ia miliki-kepada dosennya sendiri, Rasya O'neill Joseph. Di antara masa lalu yang saling terhubung dan batas yang tak boleh dilanggar, cinta itu tumbuh dalam diam, lewat tatapan dan jarak yang dipaksakan...
