Selamat Membaca
.
.
.
Lorong kampus pagi itu dipenuhi mahasiswa. Ada yang duduk bergerombol di lantai, ada yang bersandar di dinding, entah bergosip, bertanya soal mata kuliah, atau sekadar membunuh waktu karena jam pertama masih lama.
“Selamat pagi, Pak.”
“Pagi.”
Kak Neill berjalan melewati lorong dengan langkah panjang dan wajah datar. Setelah membalas sapaan para mahasiswi, ia langsung berlalu begitu saja—tanpa menoleh, tanpa melirik, seolah aku tidak ada di sana.
Dadaku terasa sedikit sesak.
Kenapa harus mencampuradukkan perasaan pribadi dengan hubungan dosen dan mahasiswa? Kalau memang ingin bersikap profesional, bukankah cukup bersikap netral saja? Tidak sedingin ini.
“Ra, Pak Rasya kok tumben amat jutek gitu, sih?” bisik Vania.
“Mana gue tahu, Van.” Aku mengangkat bahu, berusaha terdengar santai. “Masih pagi gini, ngapain juga ngurusin kehidupan orang lain. Mending kita gabung aja. Sebentar lagi pertandingan basket mau mulai.”
“Iya juga.”
Kami berjalan menuju stadion kampus. Suasana jauh lebih ramai dari yang aku bayangkan. Hampir semua bangku terisi, sorak sorai sudah terdengar meski pertandingan belum dimulai. Antusiasme mahasiswa benar-benar terasa—seolah ini pertandingan nasional, bukan sekadar laga antar angkatan.
Hari ini pertandingan antara mahasiswa tingkat satu dan dua.
“Eh… itu Alfred, kan?” Vania menunjuk ke arah lapangan.
Aku menyipitkan mata. Benar saja. Sosok tinggi dengan jersey basket itu jelas Bang Alfred.
“Lah, sejak kapan Alfred ikut UKM basket?” tanyaku refleks.
“Kayaknya baru-baru ini deh,” jawab Vania.
“Padahal setahu gue Alfred paling males ikut kegiatan beginian.”
“Udah ah, gue mau fokus nonton pertandingannya.”
Giliran aku jawab malah dicuekin. Dasar, anak satu ini.
Aku menghela napas, lalu menoleh ke sisi lain stadion. Mataku langsung menangkap sosok yang familiar.
Eh… itu Joana, kan?
Kenapa dia duduk bareng Manda? Bukannya biasanya dia gabung sama gue dan Vania?
Ah, sudahlah. Aku mengalihkan perhatian kembali ke lapangan.
Kedua tim akhirnya memasuki arena. Tepuk tangan dan sorakan langsung menggema. Tim Bang Alfred mendapatkan bola pertama.
Dan sejak detik itu, aku benar-benar terdiam.
Bang Alfred bergerak lincah, tenang, dan penuh perhitungan. Setiap dribble-nya rapi, setiap operannya presisi. Cara dia membaca pergerakan lawan… luar biasa.
Aku benar-benar speechless.
Nggak nyangka Bang Alfred sehebat ini main basket.
“Kapan-kapan gue harus minta dia ngajarin main,” gumamku tanpa sadar.
Dari kejauhan, terlihat ada sedikit argumen di lapangan.
“Hei, santai dong! Nggak usah dorong-dorong!”
Keributan kecil terjadi di lapangan. Adek tingkat dengan nomor punggung sebelas terlihat sengaja mengincar Bang Alfred sejak awal. Berkali-kali mencoba memblok, bahkan mulai main kasar.
Dorongan itu jelas disengaja.
Untung wasit sigap. Peluit ditiup sebelum situasi makin panas.
Akhirnya adek tingkat itu ditarik keluar oleh pelatihnya. Mungkin takut pertandingan berubah jadi ajang baku hantam.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lecturer My Husband
Storie d'AmoreKiara menyimpan perasaan yang tak seharusnya ia miliki-kepada dosennya sendiri, Rasya O'neill Joseph. Di antara masa lalu yang saling terhubung dan batas yang tak boleh dilanggar, cinta itu tumbuh dalam diam, lewat tatapan dan jarak yang dipaksakan...
