Selamat Membaca
.
.
POV Kiara
Sudah dua hari ini aku tidak melihat batang hidung Kak Neill.
Ke mana dia pergi?
“Mamah sama Papah ke mana, Ken?” tanyaku sambil menatap Kenzo curiga.
“Nggak tahu.”
“Mereka ke rumah sakit.”
Aku menoleh cepat. “Hah?”
Ah… siapa yang sakit?
“Bang Alfred kenapa dibocorin,” gerutu Kenzo. “Dasar kompor meleduk.”
Gerak-gerik mereka mencurigakan.
“Ra..?”
Kenzo refleks menutup mulut Bang Alfred, seolah ada rahasia besar yang tidak boleh keluar. Bau-bau konspirasi.
Tanpa pikir panjang, aku mendorong tubuh Kenzo sampai dia terjungkal.
“Bang, siapa yang sakit?”
Kenzo buru-buru menutup mulut Bang Alfred lagi. Terjadi aksi dorong-dorongan kecil yang sukses membuat Bang Alfred kesal. Kalau sudah begini, kami berdua langsung duduk manis. Bang Alfred kalau marah itu… menyeramkan.
“Kalian ini seperti anak kecil,” tegurnya tajam. “Kiara juga berhak tahu.”
“Iya, Bang,” jawab Kenzo patuh.
Rasain. Enak kan kena omel.
“Bang Rasya yang sakit,” lanjutnya akhirnya. “Dia dirawat karena babak belur.”
Dunia seolah berhenti berputar.
“Kak Neill… masuk rumah sakit?”
“Abang cuma dengar sedikit,” kata Bang Alfred. “Jadi dengarkan baik-baik.”
Aku mengangguk pelan.
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Bang Alfred seperti pisau yang mengiris dadaku. Aku terdiam, tak mampu berkata apa-apa. Air mataku jatuh tanpa izin.
Aku tidak menyangka…
Kak Neill melakukan semua itu demi melindungi aku.
Dan sekarang, dia terbaring lemah di rumah sakit. Karena aku. Karena martabatku. Karena aku dan sahabatku.
“Sekarang Kak Neill dirawat di mana?” tanyaku lirih.
Dengan sayang Bang Alfred mengelus kepalaku.
“Rumah sakit keluarga. Kamu mau jenguk?”
“Iya,” jawabku cepat. “Ini juga karena dia melindungi aku.”
“Nanti Abang antar.”
Aku menggeleng. “Aku pergi sama Vania saja.”
Aku tahu diriku. Aku tidak yakin bisa kuat melihat kondisinya tanpa bersandar pada seseorang.
“Ya sudah,” Bang Alfred mengalah. “Kalau ada apa-apa, telepon Abang. Tenangkan pikiran dulu.”
“Iya, Bang.”
Aku ingin menyiapkan sesuatu untuknya. Terlepas dari apa pun perasaanku, dia tetap dosenku. Aku membuat puding dan beberapa mini cake. Semoga dia suka.
Aku lalu menghubungi Vania.
“Nanti jam empat temenin gue ke RS.”
“Siapa yang sakit?”
“Nanti gue ceritain.”
“Oke.”
Saatnya bertempur menuju rumah sakit.
Akhirnya aku sampai.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lecturer My Husband
RomanceKiara menyimpan perasaan yang tak seharusnya ia miliki-kepada dosennya sendiri, Rasya O'neill Joseph. Di antara masa lalu yang saling terhubung dan batas yang tak boleh dilanggar, cinta itu tumbuh dalam diam, lewat tatapan dan jarak yang dipaksakan...
