15. My Lecturer My Husband

428 22 3
                                        

Selamat datang kembali, kisah Kiara Neill semakin menarik. Terus berikan dukungan kalian untuk karya saya ini 🥳🥳

Selamat Membaca

^^^
Restoran itu kini benar-benar kosong.
Lampu gantung masih menyala temaram, memantulkan cahaya kekuningan di atas meja kami. Sisa bunga putih dan lilin kecil yang hampir habis seolah lupa bahwa pesta sudah berakhir. Dunia di luar sana mungkin masih berisik, tapi di sini—hanya ada aku dan Kak Neill.
Hanya kami.

Aku duduk diam, jari-jariku masih memainkan cincin di jari manis. Setiap kali logam kecil itu berputar, dadaku ikut bergetar. Nyata. Terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

“Kamu kenapa dari tadi diem?” suara Kak Neill pelan, nyaris berbisik.

Aku menggeleng. “Takut salah napas.”
Ia terkekeh kecil. “Kenapa?”

“Takut kebahagiaan ini pecah,” jawabku jujur. “Kayak kaca.”

Kak Neill tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mendekat. Degup jantungku mulai tak beraturan saat ia berhenti tepat di depanku.

“Lihat aku,” pintanya lembut.

Aku mengangkat wajah.

Tatapan itu… terlalu dekat. Terlalu dalam. Membuatku lupa cara bernapas.

“Kebahagiaan bukan kaca,” katanya. “Tapi kalau kamu takut, aku akan pegang erat-erat.”

Tangannya meraih tanganku, menarikku berdiri. Jarak kami menyempit. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya, aroma khas yang selalu membuatku tenang. Wangi daun mint.

“Kak…” suaraku nyaris hilang.

Ia menunduk sedikit agar sejajar denganku.

“Kamu gugup?”

Aku mengangguk, jujur tanpa sisa.

“Iya. Aku nggak tahu harus bersikap gimana sekarang.”

Ia tersenyum lembut. “Kita sama.”

Tangannya naik, berhenti di pinggangku—tidak memeluk, hanya menyentuh. Seolah memberi ruang untuk aku mundur jika mau.

Tapi aku tidak mundur.

Aku justru melangkah setengah inci lebih dekat.

Napas kami kini saling bercampur.

“Sejak kapan kamu seberani ini?” bisiknya.

“Sejak aku resmi jadi tunangan Kakak,” balasku lirih, malu tapi berani.

Ia tertawa pelan, suara rendah yang membuat bulu kudukku merinding.

“Kalau begitu… aku harus hati-hati.”

“Hati-hati kenapa?”

“Takut kehilangan kendali.”

Aku menelan ludah.

Tangannya naik ke pipiku, ibu jarinya mengusap lembut kulitku. Gerakan kecil itu membuat seluruh tubuhku melemah. Aku menutup mata sesaat, menikmati sentuhan yang terasa seperti janji.

“Kamu cantik sekali malam ini,” katanya. “Aku tadi nahan diri supaya nggak mencium kamu di depan semua orang.”

Jantungku seperti mau meloncat keluar.

“Aku juga,” bisikku spontan. “Aku nahan diri buat nggak terus lihat Kakak.”

Ia tersenyum, lalu mendekat lagi. Terlalu dekat. Hidung kami hampir bersentuhan.

Aku membuka mata.

Wajahnya hanya beberapa senti dariku.

Sunyi.
Begitu sunyi sampai aku bisa mendengar detak jantung kami yang saling berpacu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 10 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Lecturer My Husband Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang