Hari telah benar-benar gelap. Shomad, Zuan, dan Naura barusan pulang berjalan kaki dari masjid. Zuan mengajak Naura dan Shomad bicara bergantian, lantaran Shomad selalu membuang muka kepada kekasihnya itu. Sesungguhnya Naura merasa kurang nyaman, tetapi ia berusaha biasa saja. Kalau bukan karena dipaksa Zuan, Naura tidak akan sudi datang ke kosan Shomad.
SIngkat cerita, mereka sampai di sebuah homestay Shomad di lantai dua. Rumah kos terlihat sepi karena dari delapan pintu, baru dua yang terisi. Shomad membuka pintu dan dia langsung masuk bersama Zuan. Naura cuma menunggu di luar saja.
Sama dengan kebanyakan kost putra, isi kamar Shomad amat berantakan. Sebuah tivi diletakkan di atas kursi bersandar di dinding. Barang-barang tidak jelas dihambur begitu saja di samping bantal di atas kasur. Piring-piring dan gelas kotor diabaikan berhari-hari di dekat pintu kamar mandi, sementara buku-buku kesayangan Shomad ditumpuk di pojok ruangan. Tidak ada aset apapun selain lemari kecil berisi baju-baju Shomad.
"Dasar miskin," komentar Zuan.
"Lah, emang gue miskin,"
"Tidak apa-apa. Lain kali kau bersihkan kamarmu,"
"Peduli amat," ujar Shomad sinis.
Shomad mengganti bajunya. Dari sarung menjadi celana panjang, dan dari baju koko menjadi kemeja lengan panjang. Tak lupa dia melepas kopiah dan menaruhnya di atas TV. Dia mengambil tasnya yang digantung di dinding.
"Ayo berangkat. Aku mau ngampus," ajak Shomad.
"Berangkatlah. Aku mau ngantar pacarku pulang," tolak Zuan. "Kamis, loh. Memangnya ada jam?"
Shomad geleng-geleng.
"Aku mau tengok anak-anakku," Shomad memberi alasan. "Mungkin lebih baik mereka tinggal di sini daripada tiap hari numpang di sekretariat,"
"Itu bagus. Mereka bisa membantu membersihkan kamarmu,"
Shomad tersinggung. Dia memukul tengkuk Zuan keras-keras.
"Anak setan!"
Plakkkk!
"Aduhhh!"
****
Dua jam kemudian
Shomad telah kembali dari kampus. Bersama tiga teman fauna, ia melalui jalan yang sama menuju 'rumah'. Sambil memikirkan kondisi keuangannya yang buruk, tanpa sadar sudah hampir sampai di kontrakan.
"Maaf, ya, aku jarang membeli makanan untuk kalian," kata Shomad.
"Tidak apa-apa, papa," sahut Prina. "Orang-orang di kampus baik hati. Mereka sering memberiku makanan,"
"Pitty selalu mencarikan serangga untukku," sahut Tarsy.
Shomad menoleh ke atas. Elang Filipina kesayangannya berputar-putar di angkasa, naik dan turun. Sebentar dia hinggap di atas tiang listrik, lalu terbang lagi.
"Aku bersyukur kalian bisa saling membantu. Tunggulah, gaji pertamaku akan cair dua minggu lagi. Aku akan traktir kalian makan,"
Tiba-tiba terlintas masa saat Shomad membuat perkumpulan tujuh detektif. Dari situlah Shomad mendapatkan tawaran pekerjaan dari Pak Hindarto. Kini Shomad bekerja sebagai pelatih menembak anggota komando pasukan khusus.
Kopassus merekrut banyak masyarakat sipil yang berbakat secara rahasia, dan kebetulan Shomad menjadi salah satu yang terpilih berkat kemampuan menembak yang luar biasa. Jika Shomad mendapat gaji pertama nanti, dia bisa memperpanjang kontrak kos sampai tahun depan. Gaji yang cukup fantastis.
Shomad sampai di depan outlet Moskva Bubblecandy. Dia memutuskan membeli makanan untuk malam ini. Makan mie ayam tadi sore rupanya tak mampu mengatasi lapar untuk waktu lama. Kebetulan si wanita berjilbab sedang membersihkan outletnya yang hendak tutup. Shomad menyuruh para hewan untuk pulang lebih dulu dan menunggu di depan kos-kosan.
"Izvinite (permisi),"
"Da (iya)," respon wanita itu spontan. Begitu dia mengangkat wajahnya dan melihat Shomad, barulah wanita itu tertawa kecil. "Pakai Bahasa Indonesia saja, mas,"
"Aku sedang belajar," Shomad garuk-garuk kepalanya. "Apa ada menu nasi? Makan mie ayam tadi sore belum bisa bikin kenyang,"
"Ada, mas. Nasi campur. Tapi lauknya tinggal telur goreng saja,"
"Boleh. Dibungkus saja ya, mbak,"
Si wanita meninggalkan outlet dengan tumpukan wadah dan kain lap di sana. Ia menghampiri gerobaknya untuk menyelesaikan pesanan Shomad. Shomad cuma berdiri di depan outlet.
"Sejak kapan, mas tinggal di sini?" Tanya wanita itu.
"Baru seminggu, mbak. Saya tinggal di kost milik bu Nailul,"
"Oh,"
"Mbak asli Rusia ya?" Tanya Shomad penasaran.
"Iya, saya lahir dan besar di sana. Menikah dengan orang Indonesia. Anak saya juga lahir dan besar di Rusia. Jadi dia masih belum bisa bahasa Indonesia," jelas wanita itu panjang lebar.
"Yang tadi ngaji di pojokan?"
"Iya, mas,"
"Masnya bisa bahasa Rusia?" Kini giliran si wanita bertanya.
"Sedikit," balas Shomad. "Saya punya beberapa buku bahasa Rusia pemberian teman. Setiap mau baca, selalu buka kamus,"
"Berarti belum bisa mengucapkan alfabet Sirilik?'
"Itu dia masalahnya," Shomad setuju. "Saya tahu bentuk-bentuknya. Kalau ada teks dalam buku, saya bisa menerjemahkannya, tetapi untuk bahasa verbal, apalagi bahasa slang, saya belum begitu paham. Aku menerjemahkan bahasa Rusia seperti sandi,"
Wanita itu telah selesai membungkus pesanan Shomad. Lalu bungkusan itu diberikan kepada Shomad. Dia menerima uang pas dari Shomad.
"Mau kuajari?" Wanita itu menawarkan.
"Benarkah?" Tanya Shomad antusias.
"Tapi dengan syarat, anda harus bisa mengeja nama saya,"
"Siapa?"
Si wanita menengadahkan tangannya ke atas.
"Pinjam HP,"
Shomad memberikan smartphone yang tersimpan di saku celananya. Wanita itu memakai bantuan translator online untuk mengeja namanya dalam alfabet kiril.
натасся Щаськовскйносва
"Natassya Shaskovskinoswa," eja Shomad pelan-pelan.
"Natassja Shchas'kovskynosva," ralat wanita itu dengan lancar.
"Oke. Ini nama yang sangat menyengsarakan," protes Shomad. "Aku benci alfabet seperti huru W berekor ini (Щ)," Shomad menunjuk layar ponsel.
"Bagi seorang penutur asing, bisa butuh waktu lama,"
"Kalau anda bisa membacanya, saya pasti akan mengajari bahasa Rusia,"
"Oke,"
Shomad berlalu.
Sambil masih melihat layar HP dan belajar mengeja dengan benar, dia memutar ulang fitur pengeja berkali-kali. Natassja memerhatikan Shomad dari kejauhan setengah tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
6. Otets
Mystery / ThrillerShomad telah resmi keluar dari pesantren setelah diwisuda. Dibantu Zuan, dia memindahkan barang-barangnya menuju rumah kost di sebuah perkampungan dekat kampus. Ada sebuah warung kecil di dekat rumah baru Shomad tempat dia mengisi perut, dan di situ...
