Malyshka?

20 2 0
                                        

Pagi-pagi sekali, Shomad telah keluar meninggalkan kost-nya.

Dia membawa koper besar berisi crossbow kesayangannya. Shomad mulai terbiasa membawa berat benda itu hingga kali ini dia tidak lagi merasa kewalahan.

Shomad melewati rumah Natassja. Dia menemukan wanita itu sedang memersiapkan dagangannya di outlet. Shomad berhenti sebentar untuk mendekati Natassja.

"Devushka," sapa Shomad. 

"Da?"

"Natassja Schaskovsynosva?"

"Vse yeshche nepravil'no, (masih salah)"

"Arrrgghhh!"

Shomad menghela napas. Tanpa permisi, dia langsung pergi begitu saja. Natassja tertawa kecil.

****

Sore hari, Shomad telah kembali.

Pulang bekerja, dia kembali dengan perasaan letih luar biasa. Kabar baiknya, para prajurit senang dengan cara Shomad melatih mereka menembak. Bahkan ada yang mentraktir Shomad makan. Jadi Shomad mungkin hanya perlu mengisi perut setelah pulang kuliah nanti malam.

Shomad berhenti lagi di depan outlet. Dan kebetulan Natassja sedang melayani beberapa pelanggan.

"Natassja Schchaskovskynosva," kata Shomad.

"Pochti pravda (hampir benar)," kata Natassja.

Oke, salah lagi.

Shomad langsung pergi dari sana.

"Tidak mau mencobanya lagi?" Natassja menawarkan.

"Cukup satu kali setiap lewat," ujar Shomad kesal tanpa menoleh.

****

Ini sudah sabtu Sore. Kali keenam Shomad lewat di depan rumah Natassja, dan selalu gagal.

"Natassja Shchas'kovskynosva," ucap Shomad malas.

"Pozdravlyayu! (Selamat!) Akhirnya benar juga," kata Natassja.

"Vam reshat' (Terserah),"

Shomad kelihatan kurang semangat. Dia sudah tidak lagi berminat belajar bahasa Rusia lantaran di kepalanya hanya nama Natassja saja yang berputar-putar.

"Nasi campur, lauknya apa saja," pinta Shomad. Dia langsung naik ke karpet.

"Oke, siap!" Respon Natassja menahan geli. "Yang ini gratis, deh,"

Shomad bertemu kembali dengan anak perempuan Natassja di pojokan. Gadis kecil itu menangis lagi. Buku Iqro-nya sampai basah oleh air mata. Lembar kertas terlihat kumal, tampak bahwa itu selalu basah oleh air mata setiap hari.

"Papa..." bisik anak perempuan itu.

Shomad ingin mengacuhkannya. Namun lama-lama dia kasihan juga. Dia mengerti bagaimana perasaan anak yang ditinggal mati orang tuanya.

"Kalau anda bisa, tolong buat anak saya berhenti menangis," bisik seseorang yang rupanya Natassja. Dia sudah berada di sisi Shomad dan meletakkan makanan di meja. Wajahnya cemas, suaranya lirih.

Setelah Natassja pergi, Shomad mengambil ponselnya. Dia membuka aplikasi penterjemah online, kemudian mendekati si gadis kecil.

"Malyshka (nona kecil)..." sapa Shomad lembut.

Gadis kecil itu mengangkat kepalanya.

"Kenapa kamu menangis?"

Dia tidak menjawab. 

6. OtetsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang