"Ini gedungnya?" Tanya Ocit.
"Kayaknya benar, bang,"
Lita mengecek maps sekali lagi untuk meyakinkan apakah lokasi tujuannya sudah benar. Dirasa tak ada kesalahan, dia memarkirkan sedannya di tempat agak tersembunyi. Dia mengamati keadaan di luar mobil dan menemukan sebuah bangunan besar. Lantas, gadis itu mengganti bajunya dengan catsuit bertudung ketat.
"Hati-hati, Lita," pesan Ocit. Lita mengangguk yakin.
Turun dari mobil, gadis itu dengan lincah menyebrangi jalan dan memasuki halaman rumah seseorang. Dari situ, ia mendengar suara mesin ketam dan hiruk pikuk para pekerja. Lita loncat ke atas pagar pembatas setinggi dua meter, lalu memanjat dinding dan sampai ke atap bangunan besar di sebelahnya. Ia mencari celah supaya bisa masuk ke area bangunan. Dari situ, dia juga memprediksi denah bangunan di bawah.
Lita menemukan lubang saluran AC tak terpakai. Ia memutuskan untuk masuk dari sana.
Berjalan mengendap-endap, dengan tubuh basah lantaran terkena hujan, ia bisa melihat para pekerja dari celah panel difuser. Setelahnya, dia menemukan ruangan yang sama sekali berbeda. Seperti ruang kerja pribadi dengan meja dan setumpuk dokumen. Di situ, ada dua orang penjaga bersenjata. Merasa curiga, dia pun memutuskan turun ke sana.
Lita balik lagi panel sebelumnya. Dia mengeluarkan alat semacam sedotan. Dia memakai itu untuk menembakkan dua buah jarum kecil kepada para pekerja. Dua pekerja langsung jatuh pingsan. Hal itu membuat pekerja lain panik, sehingga memancing para penjaga bersenjata keluar ruangan untuk membantu mengangkat tubuh pekerja yag pingsan.
Ketika ruang kerja tadi sudah kosong, Lita mengangkat panel perlahan-lahan. Laewat situ, dia melompat ke bawah, setelah itu mengunci pintu keluar.
Lita melihat-lihat sekitar, barangkali ada sesuatu yang bisa jadi petunjuk. Ketika melangkah, dia merasa ada tekstur aneh di bawah kakinya. Maka Lita menyibak karpet, dan nampaklah pintu kayu tertutup menuju basement. Dia pun masuk.
****
Setelah hujan mereda, Shomad dan Adel berjalan mengelilingi kampung. Keduanya terus berjalan sampai ke ujung kampung. Setelah melewati pos ronda, Shomad menyerahkan sebuah masker kepada gadis kecil itu.
"Pakailah," pinta Shomad usai memakai maskernya sendiri. "Spora Anthrax bisa bertahan puluhan tahun. Hati-hati,"
Adel mengangguk yakin.
Mereka terus menyusuri jalan tanah lebar sampi beberapa puluh meter. Tiba di rumah kosong ke sekian, suasananya menjadi sedikit aneh. Shomad dan Adel menemukan sebuah rumah besar kumuh dengan tanda silang di pintunya. Rumah tersebut nampak mencolok di antara rumah lain lantaran hanya rumah tersebut yang terlihat sangat megah.
"Mau masuk?" Shomad menawarkan.
"Khorosho (boleh saja),"
Sekarang Shomad memakai sarung tangan. Berhati-hati dia menaiki kaki lima, bersiap untuk mendorong pintu rumah.
"Seharusnya Adel tidak boleh ikut papa ke sini. Jadi, nanti jangan beritahu siapa pun kalau kita dari sini,"
"Baik, papa,"
"Jangan sentuh apa pun. Oke?"
Adel tidak menjawab.
Shomad mendorong pintu tua tersebut dengan mudah. Tidak di kunci. Sesampainya di dalam, Shomad dan Adel mengamati interior rumah tersebut. Nampak mewah, dengan jam tua kuno dan lampu gantung di tengah ruangan. Shomad berkeliling membuka semua pintu ruangan.
"Katanya, ini dulu rumah pejabat setempat. Entah kepala desa atau apa, kayaknya bukan orang sembarangan,"
"Iya, papa," sahut Adel. Dia sendiri juga sibuk mengamati ruangan itu.
"Ini dia," ujar Shomad. Dia telah menemukan ruang yang dimaksud. Seperti sebuah ruang kerja, dengan banyak lemari dan tumpukan dokumen di atas meja. "Ayo mulai mencari," kata Shomad setelahnya. Dia melemparkan sepasang sarung tangan karet untuk si kecil Adel.
"chto my ishchem, papa? (Apa yang ita cari, papa?)"
"Dokumen apa saja, yang berkaitan dengan penyakit yang melanda desa ini,"
"Oke, papa,"
Shomad mulai mencari, begitu pula Adel. Sesekali Shomad mengamati Adel yang sedang sibuk, ia takjub. Anak sekecil itu sudah pandai menelusuri dokumen dengan cepat.
"Papa, papa..." Panggil Adel. Seketika lamunan Shomad langsung buyar. Dia cepat-cepat mendekati si gadis kecil.
"Ketemu apa?"
"Project Bio Weapon..." kata Adel. Di tangan gadis kecil itu terdapat banyak foto seputar desa dan percobaan. "Bukannya Bio Weapon itu senjata biologis, papa? Adel pernah baca di buku cerita,"
"Hmmm, betul," Shomad mengangguk setuju. Keningnya berkerut memerhatikan foto-foto di map. "Tapi ini... Kenapa ada foto pembangunan jembatan di sini?"
"Jembatan yang ada hantu tiang pancangnya?" Adel bergidik.
"Iya. Lokasinya persis sama, pasti di sana,"
Sebentar kemudian, Adel dan Shomad saling tatap. Setelah itu Shomad berdiri mengambil map di tangan Adel dan beranjak. Adel segera mengikuti papanya dari belakang.
"Papa mau bertemu mereka?"
"Pasti,"
"Papa tidak takut?"
"Tidak. Kita pulang dulu dan bersihkan badan,"
"Baik, papa."
KAMU SEDANG MEMBACA
6. Otets
Mystery / ThrillerShomad telah resmi keluar dari pesantren setelah diwisuda. Dibantu Zuan, dia memindahkan barang-barangnya menuju rumah kost di sebuah perkampungan dekat kampus. Ada sebuah warung kecil di dekat rumah baru Shomad tempat dia mengisi perut, dan di situ...
