Kenyataan

3 0 0
                                        

Lita, Ocit, dan Dokter Rhey baru sampai di desa beberapa menit silam. Sementara Natassja dan Adel sengaja dibiarkan tetap di laboratorium untuk alasan keamanan. Lita dan Ocit duduk bersanding pada undakan di kaki lima, dan Dokter Rhey mengisap rokoknya sembari mondar-mandir di halaman rumah. Wajahnya sarat akan kegelisahan.

"Tenang saja, ayah. Ada aku dan Kak Shomad," kata Lita.

"Entahlah. Tetap saja aku khawatir,"

Sesuai kekhawatiran Dokter Rhey, beberapa mobil datang saat itu juga. Mobil-mobil itu melaju cepat dan berhenti buru-buru di jalan depan rumah Buk Juwati. Mereka diparkir begitu saja tanpa memedulikan kendaraan lain yang akan lewat nanti.

Para penumpang mulai membuka pintu mobil. Dokter Rhey segera membuang rokok yang belum habis diisapnya. Ocit dan Lita bangkit membarengi Dokter Rhey untuk menyambut para tamu. 

Di antara para penumpang mobil, ada seorang pria bermata sipit berusia sekitar lima puluhan. Ia terlihat paling tinggi, bersih, dan berwibawa dengan pakaian kasualnya. Ia lantas mendatangi Dokter Rhey demi membicarakan beberapa hal.

"Halo, Rhey. Lama tak jumpa," katanya seraya mengulurkan tangan mengajak bersalaman. Senyuman tendensius terpancar dari wajahnya.

"Mr. Edward, anda masih melanjutkan penelitian?" Jawab Dokter Rhey dengan pertanyaan.

"Tentu saja. Aku masih meneliti bagaimana penyakit mengendalikan otak manusia,"

"Virus rabies, maksud anda?"

Mr. Edward sedikit tertegun.

"Kupikir kau mengajakku ke sini untuk bisnis kayu cendana,"

"Benar. Aku juga tertarik dengan proyek patologi anda, tentu saja termasuk insiden kematian tujuh anak di tiang pancang jembatan lima belas tahun lalu," jelas Dokter Rhey.

Mr. Edward tertawa konyol. Ia menyadari kalau nampaknya Dokter Rhey ingin membahas kasus itu.

"Kenapa diam, Mr? Anda tidak tertarik menceritakan kejadian itu pada kami?"

"Sepertinya kamu terlalu banyak tahu,"

"Anda membunuh banyak penduduk dengan racun yang membuat mereka terlihat mati seperti terkena antraks," tuduh Lita menyerobot pembicaraan. "Benar begitu, Mr?"

"Kau siapa?" Selidik Mr. Edward.

"Oh, dia Lita, anakku," sahut Dokter Rhey.

"Oh, Lita! Kau sudah besar rupanya. Well, ini urusan orang tua, sayang. Sebaiknya jangan ikut campur,"

"Memangnya kenapa?!"

"Lita, jaga ucapanmu," tegur ayah Lita.

"Dia pembunuh, ayah! Bukan, dia pembantai!"

"Shhhh!!" Potong Mr. Edward. "Baiklah, kuceritakan padamu,"

"Lima belas tahun lalu, aku belum mengenal Lao. Dia melanggar aturan desa dengan melakukan pendakian di tebing bersama Kohar. Yah, mereka itu maniak panjat tebing. Mereka menemukan hutan cendana di puncak tebing. Kau tahu? Cendana! Itu sangat mahal harganya. Pantas saja para pendahulu desa melarang siapa pun mendekati hutan keramat di puncak tebing,"

"Lalu?"

"Mereka mengeksploitasi kayu-kayu itu berdua saja. Setiap hujan deras, keduanya menjatuhkan batang-batang kayu melalui air terjun dan dibiarkan hanyut ke hilir. Mereka mengangkut kayu-kayu itu saat sampai dekat lokasi yang saat ini jadi jembatan.  

Tapi kemudian, Lao jadi serakah. Dia sengaja membiarkan anak-anak bermain di air terjun saat hujan, menyuruh ketujuh anak untuk naik log kayu menuju pembangunan jembatan. Dia membunuh ketujuh anak dan memasukkan mereka ke dalam bekisting dan membuat mereka bertujuh terlihat seperti mati dicor. Dia merancang agar Kohar, si pemilik proyek jembatan beton bersalah, dan membuat laki-laki itu dipenjara. Lao mengancam akan menghabisi keluarga Kohar kalau sampai Kohar menceritakan kepada polisi soal penebangan cendana ilegal mereka.

Di saat yang bersamaan, aku kebetulan sedang melakukan studi bersama anak buahku ke desa ini. Jelas, sekalian mencari orang yang cocok untuk kujadikan bahan percobaan. Dan karena aku cukup pintar, aku langsung tahu kebenaran soal ketujuh anak itu. Aku mengancam balik Lao dan meminta bagi hasil penjualan kayu cendana. Kau tahu kan Rhey, waktu itu aku butuh dana sangat banyak untuk penelitian. 

Lao juga mempersilahkanku untuk mencoba racun terbaruku, racun yang membuat penderitanya mati seperti terkena penyakit. Aku membuat rekayasa seolah-olah setiap anak yang pergi ke air terjun saat hujan akan menjadi hantu, bergentayangan, dan membawa wabah ke desa. Aku dan Lao sama-sama diuntungkan untuk itu. Aku juga menaruh berkas palsu soal biweapon di rumah Kohar untuk pengalihan,"

"Kau benar-benar pembunuh!" komentar Lita sedikit emosi.

"Hey, kita semua pembunuh! Kau pikir hanya aku yang berdosa?"

"Lalu kenapa penebangan itu dihentikan selama empat belas tahun lebih?" Tanya Dokter Rhey mencoba tetap tenang.

"Ah, si tua bangka Nyonya Lan itu akhirnya tahu semuanya. Karena pabrik Nussajaya kepunyaannya, dia sengaja memailitkan perusahaan itu. Dia membuat surat wasiat jika kematiannya secara tidak wajar, Lao tidak akan dapat warisan sepeser pun. Belum lagi si idiot yang namanya Dullah itu juga ternyata juga sudah tahu kalau aku mulai melakukan percobaan proyek penyakit rabies. Untung saja tua bangka itu sudah mati setahun lalu, dan aku bisa menyingkirkan Dullah setelahnya,"

"Bangsat! Kau yang membunuh ayahnya Adel!" Umpat Lita. Gadis itu hendak lompat menyerang, tetapi dicegah oleh ayahnya. Para anak buah telah siaga dengan senjata tajam untuk baku hantam.

"Hahahahaha," Mr. Edward tertawa puas.

"Aku tahu kamu kuat, Lita. Tapi tidak jika dikeroyok sebanyak ini," ejek Mr. Edward. 

Mr. Edward mengeluarkan pistol dari pinggangnya. Dia mengarahkan ke kepala Dokter Rhey, bersiap untuk melesatkan satu peluru. Tetapi Dokter Rhey malah menanggapinya dengan santai.

"It's over, Rhey,"

Dzingg... Tangg...

"Aduhhh," Mr. Edward berteriak kesakitan. 

Pistol di tangan Mr. Edward terlepas dari genggaman. Ocit dengan sigap memungut pistol tersebut dan menodongkan ke sekeliling, mencegah supaya tidak satu pun dari para penjahat itu mendekat.

"Siapa ini yang menembak?!" Teriak Mr. Edward disertai erangan. Sebuah panah kayu kecil bersarang di tangan kanannya, disertai kucuran darah yang amat banyak. Para bawahan Mr. Edward memerhatikan sekitar mencari pelaku penembakan tersebut.

"Tentu saja pasukan kami yang lain," ujar Lita sombong.

****

Di hutan

"Ini sangat menyenangkan sekali," ujar Shomad kegirangan sembari mengamati perkumpulan menggunakan teropong bidik.

Ckrek.... Jlebb!

"Satu lagi, jackpot!"

6. OtetsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang