Gangguan Mistis

27 2 8
                                        

Mendekati tengah malam, Shomad dan Kholis berjalan rileks memasuki pekarangan rumah.

Hampir sejam mereka berkeliling kampung, membahas banyak hal tentang perbedaan kehidupan kota dan pedalaman. Juga membahas tentang keluarga mereka masing-masing. 

Shomad sempat pula bertanya perihal jembatan angker yang dilewati  magrib tadi. Kata Kholis, jembatan tersebut memang dibangun dengan tumbal nyawa anak-anak. Saat ini, kasus tersebut telah selesai ditangani pihak berwajib dan kontraktor serta para pihak yang terlibat dalam penculikan dan pembunuhan anak-anak sudah dijebloskan ke bui.

"Kampung ini sepi amat, kenapa?" Selidik Shomad. Berdasar kemampuan  deduksinya yang tajam, seharusnya Shomad mengetahui hal itu. Tapi dia memilih pura-pura tidak tahu.

"Banyak orang pindah dari sini," ungkap Kholis. "Semenjak jembatan baru selesai di bangun, kampung ini jadi wingit. Orang-orang mulai kesurupan dan mendadak gila,"

"Padahal jembatan itu letaknya lumayan jauh dari sini,"

"Benar. Tapi kata orang pintar, para penghuni gaib lokasi jembatan itu sudah eksodus ke sini karena kehilangan tempat tinggal. Sementara yang sekarang gentayangan di sana, katanya arwah para anak korban tiang pancang itu,"

"Oh, ya?" Tanya Shomad seperti tak percaya.

"Kau tidak percaya?"

"Aku percaya. Aku melihatnya sendiri waktu di jembatan tadi. Penghuni gaib benar-benar ada. Tapi setahuku tidak ada arwah orang mati bergentayangan,"

Mereka melepas lelah di teras rumah. Kholis mematikan senternya. Malam semakin dingin, Shomad menarik resleting jaket hingga ke leher.

"Kenapa kalian tidak pindah juga dari sini?"

"Mana bisa. Ibu selalu menolak. Katanya, kampung ini penuh kenangan. Dan lagipula kendaraanku hanya motor butut, tidak mungkin membawa ibu pergi dengan kendaraan seperti itu. Sementara saudara-saudaraku juga tidak peduli dengan nasib kami,"

"Mereka tinggal di mana sekarang?"

"Sebagian di Madura. Ada yang merantau ke Kalimantan,"

Tiba-tiba Shomad merasa dingin di tengkuknya, seperti desir angin. Bulu kuduknya berdiri meski tanpa diperintah, pertanda bahwa dia akan ada kejadian mistis lagi.

"Lihat, tuh,"

Kholis menunjuk ke atas. Di tengah kegelapan malam di antara rimbun pepohonan, setitik cahaya kuning melesat cepat. Pelita itu seperti turun di sebuah lokasi di pedalaman hutan, tapi tak nampak jelas lokasi turunnya lantaran terhalang oleh rumah dan pepohonan di seberang jalan.

"Banaspati?" Tanya Shomad.

"Kalau kuning dari Banyuwangi, kalau biru dari Mojokerto, merah atau ungu dari Jombang. Aku sampai hapal,"

"Kau tidak takut melihat itu?"

Kholis angkat bahu.

"Di sini sudah biasa. Hampir tiap hari. Orang-orang menyebut hutan di sana Alas Wingit. Mau cari sajen model apa pun juga lengkap. Istilah kerennya, di sana adalah server ilmu hitam seluruh Jawa Timur," jelas Kholis. "Kau sendiri?"

"Entah. Aku tidak pernah takut lihat hal mistis. Rasanya seperti biasa saja,"

"Soal yang barusan, tolong jangan beri tahu Lita, Mbak Natassja, dan Adel ya," pinta Kholis. "Aku khawatir mereka ketakutan lalu pulang besok pagi,"

"Tentu tidak. Kalo soal gangguan mistis, bisa kuatasi sendiri,"

****

Adel terbangun.

Gadis kecil itu mengusap-usap matanya. Dia mendapati dirinya kini mengenakan setelan piyama, tidur dalam pelukan sang bunda. Lita juga tengah tertidur tepat di hadapan Natassja, dengan posisi tubuh terlentang lurus dan tangan bersilang di dada. Bahkan saat tertidur pun, gadis itu masih dalam posisi siaga.

"Adel..."

Adel melihat langit-lagit kamar. Dia seperti mendengar bisikan seseorang.

"Sini, nak,"

Adel melepas pelukan ibunya perlahan-lahan. Dia turun dari ranjang, mengikuti sumber suara dengan langkah kecil pelan. Dia keluar kemar.

Lita membuka mata. Tanpa bergerak sama sekali, dia tidur seakan hanya memejamkan mata. Tubuh terlatih Lita mampu merasakan gerakan kecil bahkan ketika tidur. Dengan sigap ia turun dan membuntuti ke mana Adel pergi.

Saat sampai di depan kamar, Lita memandang ke arah pintu depan yang terbuka lebar. Di sana, Shomad dan Kholis sedang berbincang ringan. Saat itu pun Shomad langsung diam dan menoleh ke dalam rumah. Pertama kali Shomad menjumpai Lita itu cuma memakai kaus lengan pendek tanpa jilbab. Rambutnya lurus sebatas leher. Lita menaruh telunjuk di depan bibir dan memberi isyarat Shomad supaya masuk ke rumah perlahan-lahan. 

Adel berbelok ke dapur. Dia masih berjalan pelan, diikuti Lita, dan Shomad jauh di belakang. Mereka seakan tahu kalau sesuatu sedang membimbing Adel.

Tiba di dapur, Adel terus berjalan sampai ke pojok ruangan. Dia berdiri mematung. Shomad dan Lita hanya melihat dari balik tembok dapur.

"Papa... Ya po tebe skuchayu, papa (Aku marindukanmu, papa). ya khochu poyti s toboy (Aku mau pergi dengan papa)," kata Adel pada sesuatu yang tak terlihat.

"Cepat hentikan," bisik Shomad.

Jika ingin jujur, sebenarnya Lita sendiri merasa ngeri. Namun karena ada Shomad di belakangnya, dia memberanikan diri mendekati Adel.

"Adel," sapa Lita. Adel pun menoleh ke belakang. "Adel ngomong sama siapa?"

"Sama papa. Papa di sini, sestra. Papa mau ngajak Adel pergi,"

Lita bergidik.

"Mana, papa?"

"Itu," Adel menunjuk pojok dapur. Jelas tidak ada siapa-siapa di sana.

"Tidak ada apa-apa di sana, sayang," Lita menepuk pundak Adel. "Ayo, kita tidur,"

"Iya," jawab Adel singkat.

Adel digandeng Lita kembali ke kamar tanpa perlawanan.

"Tangani, lah," ujar Lita kala berpapasan dengan Shomad di pintu dapur.

Setelah Lita dan Adel kembali ke kamar, Shomad tidak putar balik. Dia melangkah ke tempat Adel sebelumnya berdiri. Ia menatap tajam ke sudut dapur.

"Kamu bisa melihatku?" Kata makhluk di hadapan Shomad.

"Menurutmu?" Shomad balik bertanya.

"Kami butuh satu nyawa lagi untuk menyempurnakan ritual,"

"Ritual bapak kau! Itu hanya tipu daya kalian saja. Kalian terlalu lemah dan tidak punya kendali atas nyawa seseorang. Tumbal dan sesaji hanya istilah untuk menipu manusia saja," jelas Shomad. "Kuharap kalian jangan mengganggu keluargaku, apalagi anakku,"

"Baiklah, kami tidak mengganggu kalian. Kami hanya butuh satu anak. Tidak lebih dari itu,"

"Kuharap kalian juga jangan mengganggu orang-orang di kampung ini," perintah Shomad lagi.

"Itu bukan kami,"

"Kalian akan kena masalah denganku,"

"Kubilang itu bukan ulah kami!" Katanya tegas.

Shomad tidak peduli dengan ucapan lelembut itu. Dia balik badan dan memutuskan meninggalkan makhluk gaib itu di sana.

"Kalian harus segera pergi. Di sini berbahaya," ujar si gaib.

6. OtetsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang