"Peraturan adat dirubah terakhir sekitar enam belas tahun yang lalu," jelas Shomad. "Yaitu peraturan tentang larangan ke air terjun saat hujan deras. Kalau peraturan tentang larangan ke hutan adat, sudah disahkan sejak puluhan tahun lalu,"
"Yah, itu mungkin dimaksudkan untuk melindungi hutan cendana di puncak tebing," seloroh Lita. "Kalau aturan tentang air terjun, pada kepemimpinan siapa, kak?"
"Tuan Lao. Anak tertua dari Nyonya Lan, pemilik PT. Nussajaya Mebel. Agak aneh memang keturunan Tionghoa jadi kepala desa di pedalaman. Bisa jadi karena jasanya membangun desa dan mempekerjakan sebagian besar penduduk, dia diamanahkan untuk jadi pemimpin kala itu. Dia membuat aturan baru di penghujung masa jabatannya,"
"Setelah itu?" Tanya Lita berikutnya.
"Beberapa bulan kemudian, Tuan Lao mengundurkan diri dan digantikan olah Pak Kohar, pemilik PT. Bhumi Karya. Proyek pertamanya untuk desa adalah membangun jembatan beton untuk akses desa. Tapi proyek itu terhambat dan dia dipenjara karena skandal tumbal tiang pancang beberapa bulan setelahnya," terang Shomad.
"Aku nggak tahu apa yang kalian bicarakan, tapi segalanya kayaknya jadi makin menarik," Ocit menimpali.
"Aturan tentang larangan ke air terjun saat terjadi hujan, besar kemungkinan kayu-kayu cendana ilegal diselundupkan melalui aliran air saat hujan deras dan sungai sedang tinggi. Arus sungai akan membawa kayu-kayu itu ke PT. Nussajaya dengan sendirinya. Yang membuatku heran, kenapa operasi penebangan cendana ilegal terhenti selama empat belas tahun lamanya?" Lita berpikir keras menggigit bibir bawahnya.
"Mungkin ada sesuatu yang menghalangi operasi penebangan kayu ilegal itu?"
Shomad mengangguk pelan. Dia melepas masker yang dipakainya. Tadi dia baru saja selesai melakukan pencarian di bekas rumah Kepala Desa Kramat Asih. Ia hendak masuk rumah untuk membersihkan diri, tetapi kemudian perhatiannya teralihkan oleh tiga unit mobil pick up yang berhenti di depan pekarangan rumah Buk Juwati.
"Mas, Buk Juwati ne pundi nggeh? (Mas, Buk Juwatinya di mana, ya?)" Tanya salah seorang dari dalam mobil.
"Ke Rumah Sakit, pak. Ada apa, ya?" Tanya Shomad balik.
"Oalah, ini saya sama Pak Abidin mau pindah,"
"Loh, kok rame-rame, pak?"
"Iya, mas. Wes gak kuat ten meriki. Wingit temen. (Sudah tidak kuat di sini, angker sekali). Hampir tiap hari istri saya kesurupan. Pak Abidin dan istrinya juga,"
"Loh, jenengan (anda) tidak ikut vaksin ya, pak?" Tebak Shomad.
"Iya, mas. Saya takut jarum. Hehehe,"
Shomad tersenyum tipis.
"Ya sudah, pak. Silakan lanjutkan. Nanti saya sampaikan saja pada Buk Juwati," ujar Shomad.
Pria paruh baya itu berterimakasih. Sebelum pergi, ia juga sempat menyapa para kawula muda lainnya dengan sopan. Akhirnya ketiga mobil pick up itu berlalu.
"Sesuai dugaanmu, kak. Hanya yang divaksin saja yang kesurupan," ujar Lita.
"Itu dia. Bersiaplah, kita akan menyusul Buk Juwati ke kota,"
****
Di laboratorium Dokter Rhey
"Hai, selamat datang, Mas Shomad," sambut dokter Rhey.
"Ayah!" Seru Lita bahagia. Dia menyerobot Shomad agar dapat bercengkerama manja pada sang papa lebih dulu.
"Aduh anak ayah," kata Dokter Rhey. "Ke sana dulu, sayang, ajak Adel menemui mamanya,"
"Iya, ayah,"
Shomad tersenyum tipis. Dia sedikit senang melihat pemandangan si tomboi ternyata adalah gadis kecil sang ayah.
"Ketemu sesuatu, om?"
"Iya, ada," sahut Dokter Rhey cepat. "Aku memeriksa seluruh tubuh Buk Juwati dan Kholis. Hasilnya, otaknya terinfeksi rabies,"
"Hah? Rabies?" Shomad melongo.
"Benar. Tapi ini varian yang unik. Virusnya hanya menyerang otak dan syaraf belakang. Tidak terdeteksi di cairan tubuh penderita. Dan anehnya, virus itu sekarang sedang tertidur, dan akan aktif jika terpicu oleh sesuatu. Entah si penderita menghirup zat tertentu, atau mendengar sesuatu,"
"Memangnya ada hal semacam itu, om?"
"Ada. aku tahu siapa orangnya," Dokter Rhey mengambil smartphone dari saku celananya. Dia membuka semacam berkas dari galeri untuk ditunjukkan kepada Shomad.
"Dia Mr. Edward. Dosen saya waktu masih kuliah dulu. Beliau ilmuwan gila yang terobsesi pada otak manusia dan mikrobiologi. Aku pernah bekerja padanya dulu. Mr. Edward pernah didakwa mencuri otak pasien di rumah sakit. Tapi kemudian dibebaskan karena kurang bukti. Sekarang, beliau jadi Kepala Dinas Kesehatan Kota Probolinggo,"
"Wah," Shomad geleng-geleng. "Pantas saja pegawai dinas kesehatan semua ikut kong kalikong. Terus, kemarin katanya vaksin antraks, kenapa sekarang jadi rabies?"
"Kamu yakin itu beneran antraks?" Dokter Rhey bertanya sedikit mengejek.
"Aku tidak terlalu tahu soal penyakit berbahaya seperti itu," Shomad angkat bahu.
"Saya sudah baca semua pesan yang kamu kirimkan lewat e-mail," ungkap Dokter Rhey. "Sangat meragukan jika kejadian mengerikan lima belas tahun lalu di desa Kramat Asih adalah wabah antraks. Desa Cendana Asri yang tepat bersebelahan juga tidak ada paparan sama sekali padahal akses jalan keluar masuk pasti melalui Desa Kramat Asih. Juga tidak ada hewan ternak yang terpapar. Itu aneh sekali,"
"Iya juga, sih," Shomad semakin bingung. "Kenapa jadi begini? Lalu bagaimana nasib Buk Juwati dan Kang Kholis?"
"Aku sudah memberi mereka serum terbaru buatanku," jelas Dokter Rhey. "Virus rabies di otak mereka sudah bersih. Mereka hanya perlu rawat inap sehari semalam untuk pemulihan,"
Shomad mendelik sinis.
"Memangnya serum itu sudah pernah dicoba sebelumnya?"
"Belum, ini yang pertama,"
"Anda jadikan mereka sebagai kelinci percoban?!"
Dokter Rhey cuma bisa nyengir.
Tululululutt...
Ponsel Shomad tiba-tiba berdering. Ia meminta ijin Dokter Rhey supaya boleh menjawab telepon saat itu juga. Terlebih dia merasa itu pasti telepon dari orang penting. Lantas, Dokter Rhey juga tak mempermasalahkan.
"Halo, ya, Pak Joko? Oh ya? Dia masih di penjara sampai dua tahun lagi? Lalu, bisa anda kirim anggota nanti malam ke desa? Baik, baik,"
Telepon ditutup.
"Om...."
"Iya?"
"Anda masih punya nomor telepon Mr. Edward?"
"Ada,"
"Tolong buatkan pertemuan dengan dia di Desa Cendana Asri. Kita ungkap semuanya nanti malam,"
KAMU SEDANG MEMBACA
6. Otets
Misteri / ThrillerShomad telah resmi keluar dari pesantren setelah diwisuda. Dibantu Zuan, dia memindahkan barang-barangnya menuju rumah kost di sebuah perkampungan dekat kampus. Ada sebuah warung kecil di dekat rumah baru Shomad tempat dia mengisi perut, dan di situ...
