Adel membuka matanya perlahan-lahan.
Sebab tanpa kehadiran sang bunda, dia baru terbangun pasca mentari merangkak naik. Pada kokok ayam jago ke-sekian, barulah nyawa anak itu terkumpul menyeretnya keluar dari alam mimpi.
"Menya nikto ne razbudil (tidak ada yang membangunkanku)," gerutu Adel.
Adel menuruni ranjang kayu perlahan-lahan. Bocah itu memeluk boneka kesayangannya melewati lorong pendek menuju kaki lima. Suara gaduh aktivitas memasak di dapur tidak ia pedulikan sama sekali. Sesampainya di ruang tamu, Adel menemukan Shomad sedang duduk di atas kursi goyang milik neneknya. Kala itu, Shomad tampak sedang berpikir keras membolak-balik lembaran kertas berisi tulisan tangannya.
"Papa..."
"Sudah bangun, cantik?" Sapa Shomad tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kenapa aku tidak dibangunkan?"
Shomad tidak menjawab.
"Papa!" Seru Adel.
"Kamu tidur nyenyak sekali. Papa sibuk mengurus ini,"
Setengah kesal, Adel mendekati Shomad dan mengisyaratkan agar pemuda itu mau memangkunya. Lelaki itu langsung setuju dan tak mempermasalahkan sama sekali.
"Chto eto? (Apa ini?)"
"Tadi malam setelah sampai, aku langsung mencari informasi tentang tujuh anak yang jadi korban tiang pancang jembatan. Keluarga dari tiga di antaranya masih menetap di desa ini. Yang lain sudah pada pergi. Oh iya, omong-omong, desa ini namanya Desa Cendana Asri. Aku juga sudah bertanya pada ketiga keluarga dan pak kades tentang kejadian lima belas tahun lalu,"
"Apa katanya?"
"Data dari ketiga anak ini, Namanya Wisnu, Rama, dan Andri. Sama-sama umur sepuluh tahun. Pergi pamitan pada siang hari untuk mandi di air terjun. Mereka buat janji setelah membantu orang tua mereka di sawah. Dua jam setelah mereka pergi, terjadi hujan deras sehingga arus sungai menjadi sangat kencang. Hal itu membuat para orang tua menyusul ke lokasi karena mandi di air terjun saat hujan deras adalah pantangan besar. Tetapi di sana hanya ditemukan sebagian pakaian dan sandal mereka di tepi sungai. Dua hari pencarian, barulah mayat mereka ditemukan oleh para pekerja saat mereka hendak melanjutkan pengecoran,"
"Oni otoshli? (Mereka hanyut?)"
"Menurut laporan polisi, tidak. Tidak ada tanda-tanda mati tenggelam. Kulit mereka justru mengeras karena terkontaminasi senyawa semen. Lagipula, mayat mereka ditemukan bukan tersangkut di antara beton, tetapi malah ada di dalam bekisting bersama campuran semen. Jadi polisi menduga bahwa mereka sengaja diculik dan dibunuh untuk dijadikan tumbal cor tiang pancang jembatan,"
"Jadi mereka mati setelah ada di proyek jembatan, papa?"
"Betul. Tapi bagaimana mereka sampai di sana, itu aneh sekali. Arus sungai terlalu deras waktu itu. Satu-satunya jalan adalah berputar lewat hutan. Tetapi jejak tanah di kaki mereka tidak menunjukkan kalau mereka berjalan menuju proyek jembatan. Para warga malah menduga tujuh anak itu dapat pamali gara-gara melanggar hukum adat mendatangi air terjun saat hujan deras,"
"Pamali," Adel tertawa kecil tidak percaya. "Mereka naik lodka (perahu), atau sejenisnya. Mungkin,"
"Untuk sungai sederas itu, mustahil. Apalagi mereka tujuh orang. Kecuali kalau ada log kayu yang besar dan kuat, mereka bertujuh bisa naik,"
Shomad dan Adel saling tatap sebentar.
"Benar juga, ya" kata Shomad seperti dapat ide. "Adel, ayo!"
Adel dan Shomad melompat dari kursi. Mereka terburu-buru meninggalkan rumah. Shomad sempat mengambil dua pasang sarung tangan karet dan masker di meja ruang tamu sebelum akhirnya pergi.
"Hey, mau ke mana kalian! Makan dulu!" Teriak Ocit dari dapur.
"Sibuk! Nanti saja!" Teriak Shomad.
****
"Tinggi sekali," keluh Adel agak terpukau. Kini di hadapannya terhampar pemandangan tebing curam indah dengan air terjun yang sangat bening. Sebuah pelangi kecil terbentuk di antara dua tebing, menambah indah lanskap alami tersebut.
"Kata kepala desa, hutan di atas sana adalah hutan adat. Tidak boleh ada yang pergi ke sana. Tapi pasti ada jalan," kata Shomad.
Shomad bersiul kuat beberapa kali. Lengkingan siulan menggaung di antara tebing menciptakan resonansi bertumpuk nan memekakkan. Adel cukup takjub juga dengan kemampuan siulan pemuda itu yang luar biasa.
Sesaat kemudian, seekor elang gagah meluncur dari penjuru langit. Ia menukik cepat mengampiri sang empu bersiap untuk menerima titah.
Shomad mengeluarkan smartphone-nya dari saku. Ia mengatur beberapa hal supaya benda kecil itu berubah menjadi kamera pengintai. Saat usai, si elang filipina telah bertenger di lengan kiri pemuda itu.
"Lama tak jumpa, kawan. Senang berburu di sini?"
Si burung memekik kecil, yang hanya dipahami oleh Shomad.
"Aku butuh bantuan, Pitty. Bawa ini, rekamlah keadaan di atas tebing sana. Aku ingin tahu ada apa di sana,"
Sesuai instruksi, hewan bersayap tersebut meluncur cepat membelah angkasa. Ia menjadi drone pengintai sesaat demi terpuaskan hasrat main detektif-detektifan sang pemuda. Beberapa menit setelah itu, ia kembali kepada si pemilik untuk menyerahkan kembali gadget dari cengkeramannya.
Maka kedua insan sudah siap memutar ulang hasil rekaman tadi.
"Bekas penebangan," komentar Shomad. "Sudah mulai tertutupi pepohonan, tapi masih jelas telihat,"
"I-ini semua pohon cendana?!" Seru Shomad takjub. "Gila, besar-besar sekali pohonnya! pantas saja!"
"Apa itu cendana, papa?" tanya Adel penasaran.
"Itu salah satu kayu termahal, Adel. Bisa ratusan ribu sampai jutaan rupiah per kilogram. Papa bahkan belum pernah lihat pohon cendana sebesar ini. Ini pasti hutan berusia ratusan tahun,"
"Waaahh, pasti bisa kaya kalau punya satu saja," mata Adel sampai berbinar.
"Tapi, Adel, untuk budidaya dan eksploitasi kayu cendana ada prosedur yang sangat rumit karena tergolong kayu langka. Ini pasti bisa jadi kasus besar,"
"Benarkah, papa?"
Shomad mengangguk yakin.
"Pantas saja nama desanya Cendana Asri," lanjut Adel.
"Adel, kita pergi ke bekas rumah kepala Desa Kramat Asih. Aku curiga dengan aturan adat yang melarang penduduk ke hutan adat dan mendekati air terjun saat hujan deras. Orang itu pasti ada hubungannya dengan kasus ini,"
KAMU SEDANG MEMBACA
6. Otets
Mystery / ThrillerShomad telah resmi keluar dari pesantren setelah diwisuda. Dibantu Zuan, dia memindahkan barang-barangnya menuju rumah kost di sebuah perkampungan dekat kampus. Ada sebuah warung kecil di dekat rumah baru Shomad tempat dia mengisi perut, dan di situ...
