"Huh, tadi itu hampir saja," Ocit mengeluh.
"Yah. Pada akhirnya cuma dapat beginian," gerutu Lita.
Lita membolak-balik map plastik di tangannya. Sekilas, gadis tangguh itu menatap ke luar jendela mobil. Telah lepas waktu magrib, sebentar lagi akan melewati jembatan angker.
"Pelan-pelan," titah Lita. "Kita akan lewat jembatan angker,"
"Kamu percaya hal-hal seperti itu?" Ocit menyeringai.
"Setidaknya setelah kenal Kak Shomad, terlalu banyak terjadi hal di luar nalar sih,"
"Oke,"
Sesuai permintaan Lita, Ocit memelankan laju mobilnya. Mobil melewati sedikit jalan sempit menanjak sebelum melewati jembatan pendek bertulang beton. Tidak ada suara apa pun selain deru mesin bercampur suara aliran sungai.
Kemudian, seperti yang terjadi kemarin lusa, tujuh anak kecil bermain-main di sekitaran jembatan. Mereka berteriak kegirangan dari satu sisi ke sisi yang lain. Lita meringkuk ketakutan, sedangkan Ocit bengong tak percaya.
"Inikah yang dimaksud?" Bisik Ocit. Lita tidak menjawab.
"Hey, sudah, sudah!" Teriak seseorang tiba-tiba di luar.
Lita terkesiap. Dia tahu itu suara siapa. Jadi Lita bergegas melihat ke luar jendela.
"Kak Shomad!" Serunya.
"Jangan ganggu lagi. Mereka temanku," kata Shomad setelah itu. Entah bagaimana ceritanya, ketujuh anak kecil tersebut menghilang begitu saja.
Mobil Ocit berhenti tepat di samping Shomad. Pemuda itu muncul dari kegelapan, berjalan santai menggandeng si gadis kecil mengampiri pintu mobil. Ia masuk begitu saja tanpa permisi dan duduk di kursi belakang. Shomad masih menenteng berkas yang ia temukan tadi siang, ditemani seekor monyet nokturnal kecil bergelayut di pundaknya.
"Takut?" Shomad memulai percakapan dengan pertanyaan.
"Akhirnya aku percaya," sahut Ocit sedikit tegang. Ia mulai menjalankan mobil kembali.
"Apa yang Kakak lakukan di sini?" Tanya Lita.
"Aku dapat beberapa dokumen," Shomad menyerahkan map tua miliknya pada Lita. Hal yang sama dilakukan Lita dengan map yang dia miliki. Masing-masing mereka mengamati berkas di tangan mereka setelah pertukaran.
"Lima belas tahun lalu, Desa Kramatasih dilanda penyakit antraks. Bukan pandemi, tapi percobaan senjata biologis," jelas Shomad. "Aku tidak tahu apa hubungannya, hantu tujuh anak kecil itu adalah korban tumbal tiang pancang jembatan tadi,"
"Kata siapa? Di sini tidak ada keterangan," tanya Lita skeptis.
"Pengakuan mereka sendiri,"
"Pengakuan hantu mana bisa dijadikan bukti," Lita mendelik sinis.
"Karena itu aku memintamu mencari bukti," kilah Shomad. "Hanya ini yang kau punya?"
"Aku hampir mati dikejar-kejar sama semua pegawai pabrik gara-gara itu!" Seru Lita kesal.
"Iya, iya. Ini juga sudah lumayan,"
"PT. Nussajaya Mebel, ditutup lima belas tahun lalu karena bangkrut," kata Shomad. "Nussajaya adalah penyuplai utama berbagai keperluan kayu untuk PT. Bhumi Karya, perusahaan kontraktor yang membangun jembatan beton tadi. Sekarang perusahaan sudah ditutup karena skandal tumbal tiang pancang jembatan. Di tahun yang sama, terjadi wabah antraks di Desa Kramatasih. Sebagian besar warga tewas karena minimnya fasilitas kesehatan. Sisanya pindah ke luar desa atau ke desa sebelah yang masih aman. Di samping akses ke faskes terdekat belum memadai karena jembatan beton belum selesai dibangun,"
"Senjata biologis?" Tanya Lita.
"Benar. Anehnya, semua terjadi di saat yang bersamaan. Senjata biologis, tutupnya PT. Nussajaya, dan skandal tumbal PT. Bhumi Karya. Apa kedua perusahaan itu terlibat dalam pengembangan bioweapon? Nggak masuk akal banget, sih. Mereka kan bukan perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan," Shomad mengernyitkan dahi.
"Lagipula, Pak Kohar, pemilik PT. Bhumi Karya juga masih dipenjara karena skandal tumbal jembatan beton. Pemilik PT. Nussajaya, Nyonya Lan juga sudah meninggal karena usia tua," Lita menambahkan.
"Ahli warisnya?"
Lita angkat bahu.
"Bisa jadi ahli warisnya salah satu pegawai negeri di departemen kesehatan,"
Shomad dan Lita diam sejenak. Kini Shomad melirik pada gadis kecil di sisinya. Rupanya ia telah tertidur pulas.
"Seram sekali di sini," komentar Ocit memecah keheningan. Mobil kembali melambat melewati puing-puing desa mati Kramatasih.
"Setelah melewati pos, belok kanan," perintah Lita.
"Oke,"
"Sekalian stop di pos. Aku mau bertanya tentang keluarga tujuh anak," pinta Shomad. Seketika para penumpang menatap pada pemuda itu tajam.
"Apa??" Tanya Shomad sewot.
****
Tut.... Tut.... Tut....
Kholis mengamati sekeliling ruang perawatan. Ia dan ibunya sekarang telah berada di ranjang laboratorium tempat ayah Lita bekerja. Sesuai pesanan Shomad, keduanya diantar menuju laboratorium kesehatan milik ayah Lita untuk mengetahui penyebab kesurupan lebih lanjut. Namun, sampai saat dia dan ibunya berbaring di ranjang dengan banyak alat terpasang, ayah Lita belum juga datang.
Crekk....
Pintu ruangan terbuka cepat. Sebentar setelahnya, seorang pria gagah berbaju serba putih terburu-buru mendekati Kholis sambil memakai sarung tangan karet.
"Malam, pak. Saya Dokter Rhey. Orang tua Lita," kata si dokter sambil memperkenalkan diri.
"Apa memang harus seperti ini, dok? Ini terlalu berlebihan," komentar Kholis.
Dokter Rhey tersenyum kecil.
"Seharusnya sih, tidak," kata sang dokter. "Tapi karena Mas Shomad yang minta, jadi prosedurnya seperti ini,"
"Memangnya dia bisa dipercaya, dok?"
"Entahlah. Tapi, setiap dia meminta saya menyelidiki sesuatu, selalu ada hal mengejutkan nantinya,"
Kholis menghela napas panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
6. Otets
Детектив / ТриллерShomad telah resmi keluar dari pesantren setelah diwisuda. Dibantu Zuan, dia memindahkan barang-barangnya menuju rumah kost di sebuah perkampungan dekat kampus. Ada sebuah warung kecil di dekat rumah baru Shomad tempat dia mengisi perut, dan di situ...
