"Kamu hebat kalau soal menembak," puji seseorang.
"Kalian lagi," Balas Shomad sambil tetap fokus membidik.
Jleb. Jleb. Kena lagi. Pemuda itu berhasil menjatuhkan beberapa pria. Dari teleskop bidik, terlihat Lita seorang diri melawan belasan pria bersenjata dengan lincah. Shomad memastikan supaya gadis itu dapat tetap bertempur tanpa hambatan dengan menembaki para penjahat dan menjatuhkan senjata-senjata mereka.
"Kami berterima kasih padamu, nak," ujarnya lagi. "Kau telah menyelamatkan hutan cendana tempat tinggal kami,"
"Nanti saja, setelah urusan ini selesai," tolak Shomad datar.
Shomad akhirnya menoleh ke samping. Di sisinya, tujuh sosok anak kecil dan sesosok tinggi besar duduk mengamati Shomad yang sedang bekerja.
****
Satu hari sebelumnya.
Shomad menatap langit senja di pinggir jembatan beton. Tatapannya penuh harap. Ia memanjat pagar pembatas dan merentangkan kedua tangan. Embus angin sore melalui sela-sela pakaiannya disertai perasaan hangat yang romantis. Ia telah siap untuk terjun ke sungai.
"Jangan!" Cegah seorang anak kecil.
Shomad mengurungkan niatnya. Dia menoleh ke belakang dan kembali melompat turun. Ia tersenyum kepada tujuh anak kecil yang kini tepat berjajar di hadapannya.
"Akhirnya kalian keluar,"
"Aku tidak tahu siapa kamu, pasti kamu orang baik," kata salah seorang anak kecil.
"Iya, memang aku orang baik. Kalian bukan arwah tujuh anak kecil, kan? Kalian adalah para jin yang menghuni hutan keramat di desa?"
"Itu hutan cendana. Tempat tinggal kami. Beberapa orang dari desa menebang pohon dan menyelundupkan kayu-kayu itu melalui sungai. Satu dari mereka membunuh tujuh anak kecil di jembatan ini. Jadi kami menggunakan rupa mereka dan menjadi hantu, demi mengusir para pendatang agar tidak lagi ke sini merusak alam kami," jelas bocah yang lain.
"Cendana, ya?" Shomad menyeringai. "Baiklah, terima kasih atas keterangan kalian. Aku berjanji pada kalian, akan meringkus semua penjahat dan membuat hutan kalian terjaga nantinya. Asal kalian berjanji tidak mengganggu seorang pun lagi setelah ini,"
****
"Nak Shomad," panggil si sosok tinggi besar.
"Ya,"
"Kami permisi dulu. Aku pasrahkan sisanya padamu, nak. Terima kasih banyak untuk segala upayamu. Kami pergi dulu ke tempat tinggal kami, hutan keramat,"
"Baiklah," jawab Shomad dilengkapi senyuman. "Lain kali, kalian harus bisa menjaga tempat tinggal kalian sendiri dari tangan asing,"
"Baiklah. Mohon maaf telah merepotkan,"
Dalam sekejap mata, kedelapan jin tadi menghilang.
"Memang merepotkan," gerutu Shomad pelan. Dia melanjutkan ritual penembakan sampai tiada lagi penjahat yang dapat bangkit.
"Merepotkan seperti dirimu, bocah?"
Degggg.
Shomad terperanjat. Ia mendengar suara makhluk dari dari belakang. Bukan, bukan jin, itu suara manusia.
Shomad seketika berbalik untuk melawan. Tetapi senjatanya terlalu berat!
Dorr dorr dorrr.
"Mati, kau!"
****
Lita terkesiap. Dia tahu Shomad tidak mungkin membawa senjata api. Suara tembakan dari dalam hutan jangan-jangan...
"Hahahaha,"
Mr. Edward tertawa girang. Sembari memegangi tangannya yang dibalut kain, ia bangkit dengan susah payah di antara tubuh para bawahannya. Teleponnya bergetar, jadi dia menyempatkan diri untuk menjawab panggilan itu.
"Ya, Lao. Apa? Kau sudah menembak kepalanya tiga kali? Baiklah cepat ke sini. Singkirkan yang ini juga,"
"Temanmu itu sudah mati! Tunggu giliran kalian. Kalian pikir aku kemari tanpa persiapan?"
Lita menjadi kesal. Ia mengayunkan tumitnya dan menendang bahu Mr. Edward. Lelaki paruh baya itu pingsan seketika.
"Bacot!"
"Lita, kau bawa serumnya?" Tanya Dokter Rhey terburu-buru.
"Ya, aku bawa,"
"Cepatlah ambil, dan suntikkan ke luka tembak kawanmu. Dia punya waktu tiga menit untuk bisa diselamatkan!"
Sesuai perintah sang ayah, Lita segera meluncur membuka bagasi belakang mobil miliknya. Koper perak dia tenteng dengan terburu-buru melompati pagar tanaman kecil menuju hutan.
"Bang, Abang yang bawa pistol. Buat pengalihan untuk biadap itu,"
"Oke," Sahut Ocit cepat. Pemuda itu berlari menyusul Lita.
Dorr!
Satu peluru mulai melesat, namun untungnya Lita masih cukup cepat menghindar. Ocit membalasnya dengan satu tembakan lain sehingga memaksa Tuan Lao bersembunyi dari balik pohon besar. Detik berikutnya, kedua pemegang senpi itu saling berbalas serangan dari balik pohon.
Lita terus berlari dengan cekatan. Ia melompati belukar dan batang pohon secara lincah meski diselimuti kegelapan. Sedangkan Tuan Lao jadi makinpanik dengan pergerakan gadis itu meskipun ia dilengkapi senter dan senjata api.
Whuss.. Brakk!
Satu terjangan tepat mengenai wajah Tuan Lao. Pria itu pingsan seketika.
Lita tidak menoleh lagi. Ia terus lanjut berlari sampai ketemu mayat sahabat karibnya. Ia buru-buru membuka koper perak dan menyuntikkan tiga serum di tiga lubang di kepala Shomad.
"Jangan mati, jangan mati, kak... Aku mencintaimu. Jangan mati..." Harap Lita disertai derai air mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
6. Otets
Mystery / ThrillerShomad telah resmi keluar dari pesantren setelah diwisuda. Dibantu Zuan, dia memindahkan barang-barangnya menuju rumah kost di sebuah perkampungan dekat kampus. Ada sebuah warung kecil di dekat rumah baru Shomad tempat dia mengisi perut, dan di situ...
