"Unnie tidak perlu tanggung jawab apapun, lagian bukan salahmu juga" ucap Sinb
"Tapi kan kalau bukan karena aku ter--
"Sstt, udah unnie, aku akan menelfon sahabatku yang kerja dirumah sakit saja, siapatau ada jalan lain" ucap Sinb
Yerin melepaskan pelukannya. Ia agak kaget dengan perlakuannya sendiri. Bagaimana tidak, memeluk sahabatnya sendiri saja jarang, dan sekarang dia memeluk seseorang yang baru beberapa jam ia kenal.
Sinb menelfon Umji, sahabatnya yang bekerja di rumah sakit besar dan meminta sarannya. Umji meminta Sinb untuk melakukan video call untuk melihat lukanya.
"Eo, jjamkaman Eunbi. Siapa wanita yang bersamamu?" Tanya Umji yang tidak sengaja melihat Yerin saat Sinb membalik kameranya untuk melihatkan kakinya
"Oh ini, kenalin ini--
"Yerin unnie"
"Yewon-ah?"
"Loh, kalian saling kenal?" Tanya Sinb
"Woah daebak .. bagaimana bisa" ucap Umji
"Yaa Yewon-ah, sudah lama kita tidak ketemu" ucap Yerin
Sinb heran karena sahabatnya dan Yerin malah saling kenal. Sinb memberikan hpnya kepada Yerin untuk berbicara dengan Umji.
Mereka mengobrol agak lama dan Sinb mengambil kesimpulan bahwa ternyata Yerin itu sepupu jauhnya Umji. Mereka berdua sudah lama tidak saling berkabar, terakhir mungkin saat keduanya masih kuliah. Umji juga nggak pernah cerita soal Yerin karena memang mereka sangat jarang bertemu.
"Ekhem" Sinb memberikan kode kepada Yerin
"Astaga aku lupa, kamu nelfon Yewon karena mau konsultasi ya" ucap Yerin, ia langsung mengembalikan hpnya kepada Sinb.
Sinb pun menceritakan semuanya kepada Umji. Setelah melihat kondisi kaki Sinb, Umji meminta Sinb dialihkan ke rumah sakitnya saja untuk ditangani oleh Umji langsung.
Umjipun menulis surat untuk klinik tersebut. Sinb pun segera mengurusnya. Mereka dibolehkan keluar setelah membayar biaya pengobatan di klinik tersebut.
"Kamu yakin bisa bawa motornya?" Tanya Yerin
"Sebelumnya juga kan aku yang membawanya unnie" ucap Sinb
"Geure, tapi harus hati-hati ya" ucap Yerin
Sinb mengangguk dan memakaikan helm untuk Yerin lagi.
"Gomawo Sinb-ah" ucap Yerin
Mereka langsung pergi ke rumah sakit tempat Umji bekerja sebagai dokter.
Diperjalanan, keduanya saling diam. Sinb yang sibuk memikirkan kondisi kakinya yang ternyata cukup serius, dan Yerin yang masih merasa bersalah kepada Sinb.
Setelah agak lama di jalan, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Sinb memarkirkan motornya. Saat ia telah menurunkan kaki kirinya, dan akan menurunkan kaki kanannya, itu terasa agak kaku dan perih.
"Mwoya .. " ucap Sinb
"Wae wae?" Tanya Yerin panik
"Tenanglah unnie, ini hanya sedikit kaku" ucap Sinb
"Jinjja? Aku akan telfon Yewon" ucap Yerin
"Aniy jangan unnie, ayo kita jalan" ucap Sinb
"Kamu yakin? Sini aku bantu" ucap Yerin meraih tangan Sinb untuk membantunya jalan
Beberapa langkah maju, Sinb masih bisa memaksakan kakinya untuk bergerak. Namun saat ia akan meneruskan langkahnya, kaki kanannya seolah tidak memiliki tulang, ia terjatuh begitusaja.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Journalist [SINRIN]
FanfictionPekerjaan ini berbahaya, dan ntah berujung dimana. Tapi pada akhirnya aku bersyukur karena pekerjaan ini mempertemukanku dengannya - Jung Yerin.