AMW. 25

4.6K 683 304
                                        

yang kuat gaiss, semoga bab ini bisa ngejawab semua pertanyaan kalian

follow akun aku biar ga ketinggalan pengumuman♡

(*belum aku baca ulang, tolong koreksi kalau ada kesalahan penulisan)

Jika sebelumnya Jungkook merasa tak masalah jikaLisa tak menginap di apartemennya, maka kali ini rasanya berbeda

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jika sebelumnya Jungkook merasa tak masalah jikaLisa tak menginap di apartemennya, maka kali ini rasanya berbeda.

Pemuda itu belum menyentuh ranjang bahkan belum memasuki kamarnya. Jam digital yang berada diruang tamu menunjukkan pukul 7 pagi, yang mana sepertinya ia tak berniat untuk tidur sama sekali.

Bagaimana bisa ia tidur nyenyak jika setiap berusaha memejamkan matanya bayangan Lisa selalu terlintas. Membuat rasa bersalah tercokol dihatinya.

Penampilan Jungkook begitu berantakan, seragam sekolah yang masih terpasang kusut, rambut acak acakan, muka pucat dan mata yang merah. Terlihat begitu kacau.

Jungkook desis geram mendengar bel yang berbunyi. Memilih tak perduli untuk beberapa detik namun suara bel yang berbunyi berkali kali membuatnya mengumpat. Segera berdiri untuk membuka pintu.

"Oh god!"

Jungkook menatap datar adik Eunji yang terlihat terkejut menatapnya. Segera berbalik membiarkan pemuda yang lebih muda 2 tahun darinya itu untuk masuk.

"Siapa yang menyuruhmu? Yoongi? Ryujin?" tuding Jungkook begitu duduk di sofa panjang, membiarkan Jeno duduk di single sofa.

"Tidak ada."

"Aku bolos," lanjutnya kemudian menatap sekeliling. Ia kira Jungkook akan frustasi atau gila sampai menghancurkan seisi apartemennya seperti di film. Bukan berarti ia mengira Jungkook tak frustasi. Oh, lihatlah penampilan pemuda itu.

Pemuda yang Jeno akui lebih tampan darinya itu kini terlihat seperti orang gila. Yang sialnya tetap tampan.

"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

Perkataan Jeno membuat Jungkook meliriknya sekilas, kemudian menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata.

"Kukira kita tak cukup akrab sampai kau datang kesini hanya untuk bertanya."

Jeno terkekeh, ia bertopang dagu dilengan sofa. "Ini pertanyaan umum."

Jungkook berdehem mempersilahkannya berbicara kemudian.

"Kau pernah berpacaran?"

"Itu urusan pribadiku."

"Benarkah? Kukira itu pertanyaan biasa. Maksudku, orang orang biasa menanyakan itu hanya untuk meminta saran atau memastikan sesuatu."

Kali ini Jungkook membuka matanya, menatap Jeno curiga yang langsung membuat pemuda itu kelabakan berusaha meralat kalimatnya.

"Bukan! Bukan seperti yang kau pikirkan! Ya Tuhan, tidak seperti itu!"

At My WorstTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang