17_THE GAME HAS ALREADY BEGAN

553 101 0
                                        

Jungkook terbangun dengan alarm alami di tempat ini: sepasang suami istri yang mengganggu tetangganya, dan si tetangga yang berteriak tidak suka pipinya memerah karena si istri tetangga. Ia membuka matanya perlahan, tetapi tidak seperti biasa. Pemuda itu masih enggan untuk bangun dari kasurnya yang nyaman. Entah karena 'alarm paginya' atau memori tadi pagi.

Ia mengangkat tangannya yang sedari tadi digunakan untuk menyangga kepala. Tersenyum seraya memperhatikan bagian tubuhnya itu. Sekejap memandangi telapak tangannya, sekejap memandangi punggung tangannya. Uh, andai ada orang lain yang melihat, mereka pasti berpikir bahwa Jeon Jungkook sekarang tidak lebih daripada seorang idiot.

Beruntung masih ada seseorang yang dengan baik hati menyadarkan si idiot Jungkook itu. Dengan agak malas, ia bangkit menemui siapapun yang membawanya kembali ke dunia nyata. Membuka dengan setengah hati pintu rumahnya yang digedor dari luar.

"Eomma menyuruhmu untuk cepat-cepat sarapan."

Jungkook memperhatikan seseorang yang membawanya ke dunia khayal dan menyeretnya ke dunia nyata kembali. Punggung Chaeyoung yang mungil kembali menjauh. Membiarkan dirinya berdiri di depan pintu dengan senyum yang urung ia tahan. Tak perlu bagi pemuda itu untuk bergabung dengan meja makan keluarga Park.

"Aku belum sempat ke rumah sakit," keluh Lisa selepas menyeruput kuah sup dagingnya. "Eomma, apa kau akan ke rumah sakit hari ini?"

Jihyun mengangguk. Ia juga tengah berkonsentrasi pada makanan. Melihat wajah cemberut Lisa, wanita itu tersenyum geli. "Minta izin pada bosmu saja," ucapnya seraya menoleh ke arah Jungkook.

"Jungkook mana bisa memberi izin, dia juga hanya bekerja di sana. Lisa-ya, pergilah ke rumah sakit selepas pekerjaanmu selesai. Jangan memohon sesuatu yang mustahil."

Semuanya mendadak menoleh ke satu sumber, Chaeyoung yang terlebih dahulu menyambar. Ia bahkan bergerak jauh lebih cepat daripada Jungkook yang kini juga memperhatikannya. Gadis itu seperti tidak mengingat, belum 24 jam lalu dirinya enggan menyebut nama tersebut.

"Kenapa?" tanya Chaeyoung dengan wajah polosnya. Seolah tidak mempedulikan tatapan semua orang di meja makan tersebut, ia kembali sibuk dengan nasi berikut sup daging dan beberapa lauk pagi ini.

Jihyun dan Haejin hanya saling lirik, tak jauh berbeda dengan pasangan Lisa dan Taehyung yang melakukan hal serupa. Beruntung Chanyeol sudah pergi ke kantor pagi-pagi benar, jika tidak mungkin ia adalah orang pertama yang akan bertanya 'keanehan' Chaeyoung pagi ini. Bahkan Jungkook juga merasa gadis itu agak berbeda.

"Kau kenapa?" tanya Jungkook begitu ada kesempatan.

Semua orang sudah dengan aktifitas masing-masing. Haejin sudah pergi bekerja, Jihyun langsung berangkat ke rumah sakit bersama sang suami. Begitupun dengan Lisa dan Taehyung yang justru meninggalkan tempat ini lebih dahulu. Tersisa mereka berdua di tempat itu. Chaeyoung memang bekerja dari rumah, lalu Jungkook juga diberi waktu untuk rehat selepas syuting video musik terbarunya.

"Apa maksudmu?"

"Kau bersikap aneh hari ini."

Chaeyoung mematikan kran lalu melepas sarung tangan plastik yang ia kenakan. "Aku tidak aneh. Aku biasa saja."

"Kau aneh. Kau berbicara 'seperti itu' kenapa bibi. Semua orang memperhatikan, kau tahu?"

Gelak tawa kemudian terdengar di seluruh ruangan. Pelakunya tentu saja Chaeyoung, gadis itu merasa begitu geli dengan alasan yang baru saja diungkapkan Jungkook. "Ya, aku hanya ingin menghentikan Lisa. Dia senang sekali berbicara hal-hal tidak masuk akal."

Jungkook mengernyit. Ia memperhatikan Chaeyoung yang kini kembali sibuk dengan mangkuk, beberapa buah, juga pisau dan talenan. Sudah bisa ditebak, gadis itu akan membuat kudapan. Padahal belum setengah jam lalu mereka selesai makan.

"Kau tidak ada pekerjaan?"

Baru saja Jungkook ingin menjawab, ia dihentikan oleh getar ponselnya. Kedua matanya terbelalak begitu melihat nama Reporter Byun nampak. Pemuda itu mengangkat panggilan tersebut dengan terburu-buru. Ia bahkan tidak mendengarkan teriakan Chaeyoung yang memanggilnya.

"Selamat pagi, Jeon Jungkook-ssi."

Jungkook ingin meludah begitu mendengar sapaan 'ramah' dari seberang. "Apa maumu?"

"Sudahkah kau memeriksa pesan dariku pagi ini?" timpal dari seberang. Dari nadanya yang girang, Jungkook paham dengan berita buruk yang mungkin tengah melambai-lambai kepadanya.

Jemarinya dengan cekatan membuka kotak pesan di ponselnya. Ia menerima beberapa pesan yang sudah masuk terlebih dahulu. Kedua matanya sempurna terbelalak begitu mendapat pesan dari Reporter Byun tersebut. Lima potretnya bersama Chaeyoung tadi pagi di pinggir sungai Han yang nampak begitu jelas. Cukup untuk menjawab pertanyaan, kenapa pria itu menghubunginya pagi-pagi begini.

"Jangan sentuh gadis itu," desis Jungkook.

"Aku tidak bisa menjaminnya, kau tahu." Reporter Byun terkekeh di seberang sana.

Jungkook meremas kepalanya. Masih terbayang dengan jelas potret-potret dirinya dan Chaeyoung pagi tadi. Mereka yang sedang di parkiran rumah sakit, mereka yang sedang berpelukan di pinggir sungai Han, atau ketika keduanya di dalam mobil, bahkan bidikan kedua tangan mereka yang saling terpaut. Sial! Umpatnya dalam hati.

Kali ini aku akan melindungimu dengan benar, Chaeyoung-ah. "Berapa yang kau mau?"

"Santai saja, Jungkook-ssi. Bagaimana jika kita bertemu di ruangan bosmu dulu?"

Ia menutup panggilan tersebut sepihak. Belum sempat dirinya beranjak, pesan dari Jin dan Jimin masuk secara bergantian. Pesan yang sama-sama mengatakan bahwa setelah ia beranjak dari tempat ini, selepas mesin mobilnya menyala, hidupnya dan hidup Chaeyoung akan kembali menjadi taruhan. Jungkook akan kembali menghadapi perjudian seperti yang dulu ia lakukan.

Sebelum memasuki mobilnya, ia melirik sejenak ke arah jendela kamar Chaeyoung. Gadis itu sepertinya memang sudah berada di sana. Dengan semangkuk besar salad buah hasil racikannya sendiri. Mungkin tengah membuat lagu baru atau justru sedang menyunting video untuk konten youtube-nya.

Namun, dugaan Jungkook ternyata salah. Chaeyoung memang sedang berada di kamarnya. Menghadap semangkuk besar salad buah yang baru saja ia buat, berikut komputer menyala yang menampilkan akun youtube-nya. Ada satu video yang hampir saja terunggah, sebelum ia batalkan. Tepat selepas menerima pesan dari nomor yang tidak ia kenal.

Chaeyoung kehilangan cara bernapas untuk beberapa detik ketika lima gambar dari pesan asing itu mendadak muncul. Potret dirinya dengan Jungkook pagi tadi kini terpampang jelas. Bagaimana mereka memasuki mobil di parkiran rumah sakit, bagaimana Jungkook yang memeluknya erat dari belakang, atau ketika ia meraih tangan Jungkook sebelum kembali memasuki mobil.

Sementara dari luar rumahnya, terdengar deru mobil Jungkook. Ia bangkit dan melihat pemuda itu keluar dari garasi tanpa menutupnya kembali. Pertanda bahwa Jungkook sedang diburu waktu. Dan, ia tahu penyebabnya.

"Apa yang harus kulakukan?" bisik Chaeyoung dengan suara bergetar. Belum juga dirinya berhasil mengendalikan diri, kejutan kedua datang. Sebuah panggilan kembali masuk, kali ini walaupun tidak tercantum nama. Ia tahu siapa yang menghubunginya.

- To Be Continued -

[END] THE GUY NEXT DOORTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang