Yoongi panik sekali saat ditelepon jika adiknya pergi dari rumah setelah pertengkaran besar yang terjadi. Ia frustasi sekali saat ia bahkan sudah menelpon siapapun yang ia kenal, teman jimin, bahkan guru Jimin pun sudah ia telepon.
Mobil semakin melaju kencang, Yoongi mengambil ponselnya sejenak lalu mengetikkan pesan pada Jin jika ia akan segera pulang bersama Jimin cepat atau lambat.
Tapi setelah kata kata itu sedang ia susun, Yoongi sontak mengerem tiba-tiba. Tubuhnya menegang panik, tangannya gemetar bahkan ponsel yang sebelumnya ada di tangannya sudah jatuh ke samping kursi pengemudi.
Yoongi langsung turun dengan cepat tanpa menutup pintu, anak itu langsung menatap apa yang hampir ia tabrak.
Hingga kalung silver berinisial nama V yang si korban genggam membuat Jantungnya seakan merosot hingga aspal.
"ANDWAE!"
...
Menyesal? Baiklah Taehyung akui ia sangat sangat menyesal. Gelang milik Jimin ia pegang dengan kuat, air matanya jatuh dengan mulut yang terus berujar kata maaf.
Dug dug!
Taehyung berdiri, memegang dada kirinya dengan kuat. Terasa sedikit nyeri hingga membuatnya ingin menangis sekuat tenaga. Rasa takut menyerangnya begitu kuat.
"Jiminie"
Taehyung langsung pergi dari sana lalu berjalan ke arah Kamar Seokjin. Kakinya sedikit gemetar karena panik. Ia langsung membuka pintu itu dengan segera.
"Hyung" jin pun berbalik, menatap taehyung dengan senyum. Membuat anak itu merasa sedikit kehangatan didalam dada.
"Ne?"
"H-hyung disini sakit sekali, t-tolong temui adik kembarku" taehyung tak tau lagi apa yang harus ia lakukan, matanya tak ingin berhenti menangis. Firasatnya tidak baik.
"A-aku akan mencarinya."
"Jangan gegaba, Tae! Percayalah Jimin akan baik-baik saja." Jin langsung memeluk Taehyung dengan erat.
Beberapa menit terlewat, Taehyung tak kunjung tenang hingga Jin pun tak tau harus apa.
"H-hyung" Jin dan Taehyung berbalik, menatap wajah Jungkook yang memerah juga mata yang basah.
"Ada apa kookie? Kenapa kookie—"
"J-jimin hyung" taehyung melepaskan pelukannya pada Seokjin lalu mencekram kuat bahu Jungkook.
"A-ada apa?! Apa yang terjadi pada adikku?!" Jungkook menangis hebat saat itu. Taehyung juga ikut menangis bahkan sebelum mendengar perkataan Jungkook.
"Jungkook, jawab aku!"
"Y-yoongi hyung menabraknya"
Setelah itu Taehyung hanya merasakan gelap di matanya.
..
Saat kelopak mata itu terbuka, ia berada di kasurnya. Mendengar dengan jelas suara beberapa orang yang hinggap ditelinganya.
"Ah, Taehyung-hyung sudah bangun!" Taehyung menatap ke ranjang sebelah dimana Jimin sedang mendapat perawatan dari Yoongi. Ada dua infus pada adiknya.
Yang satu berwarna bening dan satunya lagi berwarna merah pekat.
"J-jiminie" hatinya sakit saat melihat Tubuh Jimin yang lemas dan masih setia menutup matanya. Ia menyesal sekali.
"Choi Taehyung, kau tau betul apa yang kau lakukan bukan? Rasa cemburu macam apa yang membuatmu seakan buta? Jimin itu saudara kembarmu, bahkan jika matahari meledak, Jimin tetap adik kembarmu" Taehyung mengangguk.
"Kelakuanmu ini membuat Jimin benar-benar terluka. Kau tau apa yang aku lihat saat menemukannya pertama kali? Dia terkena hipotermia karena kedinginan, kau lihat bajunya? Ia mimisan tadi. Aku tidak takut dengan luka fisiknya, toh aku bisa mengobatinya. Tapi luka dalam, atau mental dari Jimin tak bisa kita anggap remeh" Mereka semua diam, hanya Yoongi yang berbicara hingga saat ini.
Jin tak lupa bagaimana paniknya Yoongi menyuruhnya menyiapkan banyak selimut, mantel hangat dan baju lengan panjang hangat milik Jimin dengan cepat. Bagaimana kakaknya itu membawa Jimin dengan keadaan pucat pasih. Jin merasa takut setengah mati, Tapi Namjoon dan Hoseok sekuat tenaga menenangkannya.
"Terpaksa aku lagi yang harus mendonorkan darah untuk Jimin, kau sedang tidak Fit, bagaimana mau didonorkan?" Taehyung diam saja. Ia tau ia salah.
"Jika aku boleh Jujur, ini pertama kalinya aku sulit mengenali adikku sendiri. Jimin tadi seperti bukan Jimin, ia seperti orang asing. Kalung inisial nama kecilmu, membuat aku tau kalau itu Jimin." Taehyung merasa bodoh, ia tak punya otak sama sekali tadi. Ia dibutakan rasa cemburu.
"U-ugh" Yoongi menoleh lalu mengusap tangan Jimin.
Anak itu membuka matanya lalu menatap Yoongi lekat.
"H-hyung hiks" air mata menggenang dengan cepat, Jimin sesegukan saat menatap sang kakak. Yoongi memgangguk, tersenyum kecil pada Jimin kecilnya lalu mengusap tangan adiknya.
"Apa yang kau rasakan hum?" Jimin menggenggam tangannya.
"Sakit, Hiks.."
"Apa yang sakit Jimin-ah" Jimin semakin terisak.
"H-hatiku sakit sekali hiks" Taehyung yang mendengar itu meneteskan air matanya. Ia benar-benar saudara yang kurang ajar.
"Jimin-ah, tenangkan dirimu" Jimin menggeleng.
"Biarkan aku marah hyung! Aku kecewa hiks.. aku marah hyung, aku marah!" Mereka semua menatap Jimin.
"aku kurang baik? Aku kurang perhatian? Atau aku kurang apa? Kenapa kalian memperlakukanku seperti itu huh?!" Yoongi memgusap air mata Jimin, adiknya itu benar benar tertekan.
Jimin masih setia menangis. Taehyung yang merasa itu adalah kesalahannya pun bangkit dari tidurnya lalu berjalan kearah Jimin.
"Itu salahku, bukan salahmu" Yoongi menghela nafas, ia bangkit dari duduknya lalu keluar dari sana diikuti saudaranya yang lain. Kedua adiknya ini butuh rempat.
"Jimin-ah, maaf—"
"Semudah itu kau meminta maaf? Semudah itu kau bilang maaf padaku Hyungnim? Berbicara soal kecemburuan, kau pikir aku tidak cemburu saat kau dekat dengan Jin hyung? Kau kira aku tidak cemburu? Tapi aku dengan sekuat tenaga menahan hati! Jin hyung juga saudaraku, untuk apa aku menyalakan api cemburu?"
"Jimin-ah, aku"
"Kau apa? Kau ingin mengakhiri segalanya bukan? Aku juga akan mengakhiri segalanya. Kembalikan kalungku, dan aku akan kembalikan kalungmu ini" Taehyung menggeleng kuat, menggenggam kalung emas bertuliskan "JM" yang ada di lehernya.
"Yak! Kau gil—"
"Aku serius! Kau bilang ingin menyudahi segalanya bukan? Aku ikuti permainanmu, lepas kal—"
"Kubilang tidak ya tidak, Jimin! Kalung jni milikku, selamanya akan jadi milikku. Aku menyesal! Aku sudah bilang aku menyesal! Aku bodoh"
"Setidaknya, Biarkan yang satu ini menjadi milikku. Walaupun kau tidak lagi menganggapku ada disini, tak apa." Taehyung berjalan menjauh, meraih bajunya lalu diletakan di dalam koper.
"Kau tidak perlu kemana-mana, aku yang akan tidur diruang tamu" ucap Taehyung lalu keluar dari sana. Jimin menatap kepergian Taehyung dengan setetes air mata.
Semua sudah berakhir.
Udah end, dadah
Boong tapi, kalo mau end beneran juga boleh wkwkwk
KAMU SEDANG MEMBACA
HYUNGNIM!
Fiksi Penggemar[Slow Update] Seokjin pernah bilang, bersyukurlah kalian jika aku adalah hyung tertua disini. Jika itu adalah Yoongi, maka kalian akan hidup seperti militer setiap harinya. Mari kita pantau, dan rasakan bagaimana kehidupan ketujuh saudara ini dengan...
