┆Dunia Watanabe Haruto mulai berubah saat siswi dari Korea Selatan itu membalas perasaannya di festival musim panas. Gadis itu adalah aktris utama mimpinya, tetapi bukan siapa - siapa di dunia nyata. Karenanya, hidup Haruto pun seakan terbelah; tak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sejak aku kecil, aku tidak pernah diajari bagaimana cara menangani serangan dinosaurus yang katanya jenis dan ukurannya belum bisa terprediksi.
Maka dari itu, meski hati rasanya ingin meledak ketakutan, aku masih duduk tenang di taman belakang sekolah, memerhatikan lalu lalang orang yang berlatih pedang dan panah.
Para jendral yang tak kutahu mengapa jadi jendral adalah para sensei. Sibuk membentuk pleton demi pleton guna mengantisipasi dinosaurus karnivora yang katanya berlari secepat mobil. Ada juga pleton tentara (yang terdiri dari teman-temanku) diperintahkan menjaga pagar terdepan supaya dinosaurus yang katanya perusak bangunan tidak masuk ke sekolah.
Katanya, katanya.
Memang cuma katanya. Aku kan tidak punya peran, aku cuma penonton.
Tiba - tiba seseorang memerintahkanku pergi karena aku sedang menduduki kotak berisi bola basket. Katanya, itu buat senjata penyerangan dinosaurus yang terbang. Jadi meriam, katanya.
"Kamu pergi lah ke ruang UKS, jadi bagian medis."
"Apa?" Aku tidak salah dengar.
Medis.
Lucu juga Watanabe Haruto alias aku mengobati orang. Selain mengobati, mungkin aku akan adu mulut dengan pasien. Namun tentu, itu semua jauh lebih baik daripada mati terinjak dinosaurus, bukan?
Satu ruangan di pojok lorong entah mengapa kutahu adalah ruang medis. Sepi, bahkan kesibukan sudah terdengar jauh disana. Apa bakal ada hantu mengejarku? Apa sekumpulan dinosaurus akan mencaplok kepalaku? Aku mengetuk pelan sebelum menajamkan semua indra, lantas membuka pintu.
"Siapa?" tanya seseorang.
Angin mengelus lembut wajah dan memainkan anak - anak rambut. Aku mendadak berada di rooftop sekolah dimana langit terlalu cerah untuk kiamat dinosaurus. Hah?
"Ah, kamu."
Aku?
Duduk menekuk lutut, disanalah seorang gadis dengan seragam sama denganku. Kepalanya merunduk, menutupi wajah dengan tirai rambut seperti Sadako. Aku tak tahu siapa dia, tetapi karena aku tak takut mati digigit seorang gadis, aku mendekatinya.
"Jangan tanya, aku sedang tidak apa-apa."
"Idih," cercaku. "Kenal juga tidak."
Saat ia menengadah, kutabok mulut dalam angan. Jang Wonyoung dengan mata sembab dan merah menatapku sedih. Tatapan itu membuatku bersiap balik arah. Masalahnya, tak berselang lama, tangisnya pecah dan mengagetkanku seketika.
"Aku ingin kembali ke negaraku. Aku benci disini," rengeknya.
Aduh, kasihannya. Jarang-jarang, nih, aku merasa iba. Memang cuma di mimpi saja aku merasa iba. Bahkan berani duduk mendekatkan diri sampai pundak kami bersentuhan. Aku diam - diam mengulum senyum.
"Orang bilang aku tidak tahu diri, Suzuka-chan saja mengosipiku yang tidak - tidak," isaknya. Aku mengerjap bingung. "Tapi aku juga tidak mau seperti ini. Sama sekali. Aku tidak mau belajar, tidak mau bicara, tidak mau bersosialisasi. Aku cuma mau pergi disini."
Seperti biasa, diamku adalah jawabanku. Sejujurnya aku tak tahu harus apa. Aku merasa akan ditendang kalau aku malah memeluknya.
"Eomma mana mau tahu kesulitanku. Tidak ranking satu, tidak berguna sama sekali. Mau di Jepang atau dimana pun, pikiran Eomma enggak berubah, enggak peduli ini sulitnya bikin aku kepingin mati," lanjutnya.
Wonyoung tiba - tiba mengeluarkan kertas yang terlipat dan melemparkannya ke dekat kaki.
"Sekarang tidak ranking satu dan Eomma bilang karena aku sering main. Padahal terakhir aku diam - diam membantah Eomma kan waktu ... aku ... kamu ... huaaa."
Nani? Aku, kamu, apa?
"Aku mau mati saja."
"Eish, kalau tidak jadi yang terbaik kan bisa jadi yang terburuk," kataku.
Wonyoung melototiku ganas. Kulipat lengan di dada dan memandang langit.
"Keinginan ibumuㅡeh iya, kan Eomma itu ibu?ㅡtidak harus jadi seluruh tujuanmu. Kamu, ya, kamu. Cuma kamu yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri."
"Begitu, ya."
Responku sudah benar tidak, ya? Kendati dia tidak terisak lagi, dia tidak menunjukkan dia merasa lebih baik.
"Sudah lah, kamu sudah melakukan yang terbaik. Jadi Wonyoung-san yang payah juga keren. Aku saja tetap keren, tuh, walau payahnya keterlaluan," kataku.
Lalu dia tertawa. Kuulangi, Jang Wonyoung ter-ta-wa.
Gila.
Maksudku, aku. Aku yang gila. Bukan dia.
Lebih gila lagi waktu aku malah mengusap rambutnya pelan-pelan seperti mengelus anak kucing. Penuh kehati-hatian seolah dia harus diperlakukan seperti barang pecah belah yang rapuh.
Dan saat itulah kusadari tubuhku bereaksi aneh untuk pertama kali. Reaksi ini tidak tahu apa namanya, bingung juga menanganinya bagaimana. Yang pasti damai dan tidak mau berhenti mengelusnya, membuatku tersenyum tanpa bisa ditahan.
Bahkan timbul keinginan kuat untuk lompat ke lapangan sebab dengan perasaan ini, aku pasti memantul ke angkasa dan tidak pulang - pulang. Berteman dengan alien lalu memamerkan tanganku yang keren banget karena mengusap kepala seorang gadisㅡeh, eh, apa, sih, yang kupikirkan.
"Maaf, ya, aku baru tahu namamu Watanabe Haruto," gadis itu merunduk lebih dalam, membuat tanganku diam. "Memalukan sekali aku selalu memanggilmu Hamada-senpai."
Hah?
Apa katanya? []
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terima kasih ya selalu dukung cerita ini. Aku selalu terharu tiap lihat vote kalian T___T