┆Dunia Watanabe Haruto mulai berubah saat siswi dari Korea Selatan itu membalas perasaannya di festival musim panas. Gadis itu adalah aktris utama mimpinya, tetapi bukan siapa - siapa di dunia nyata. Karenanya, hidup Haruto pun seakan terbelah; tak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat angin musim semi berhembus lembut bersama helai bebungaan ke dalam kelas, tirai dan lembar buku - buku pun ikut tertiup. Seiring pergerakannya, angin memainkan helai - helai rambut Watanabe Haruto yang menumpukan kepala ke sebelah tangan. Sinar matahari terjatuh lembut di atas matanya, menyoroti sepasang warna coklat terang yang terarah pada langit, tetapi kekhusyukan itu terpecah saat sebuah tepukan dan selembar kertas oleh teman sebangkunya.
[Beri penilaian cewek paling cantik di sekolah!!!!]
"Baka." Haruto berdecih malas sembari meremas kertas itu. Yamazaki Kazue melotot lantas merobek lagi lembar belakang buku dan menulis kalimat baru.
[Kalau kamu enggak suka cewek, sebutin cowok paling ganteng di sekolah!!!!]
Kali ini Haruto yang melotot. Menepis kekekiannya, Haruto meremas kertas tersebut, mengembalikan atensi pada langit hingga tak lama berselang, ia membukanya lagi dan menulis singkat.
[Aku.]
Kazue mendelik dongkol selagi Haruto menyeringai.
Kepedean, ejek Kazue tanpa suara. Biarin, balas Haruto tak peduli. Pelototan dibalas sungutan menantang. Sekali sikut, dibalas dua kali sikut. Sentilan demi sentilan tak mungkin mengalah. Akhirnya setelah mencebik, Kazue melempar pelan satu - satunya pulpen Haruto ke bawah meja samping temannya. Paham betul ini kelemahan temannya.
"Coba ambil kalau berani," ejek Kazue.
Haruskah? Haruto lantas memutar mata.
"Berani - beraninya menyuruh aku, hah?" Akan tetapi teman sampingnya, seorang perempuan, mengembalikan langsung pulpen itu tanpa sepatah kata, tahu bahwa mana mungkin Haruto bicara padanya sekali pun demi diri sendiri, melirik saja tidak. Malah Kazue lah yang berterima kasih.
"Takut, ya?" tukas Kazue bangga sebab merasa di atas angin.
"Ini," Haruto mengangkat kertas robekan tadi, "Kulaporkan kamu ke sensei loh."
Dasar menyebalkan. Mau ditaruh dimana wajah Kazue kalau ketahuan sensei! Dengan muka merah padam, Kazue menggurutu kecil lantas mengulang hal sama untuk dioper ke meja lain. Mustahil meminta pendapat Haruto, tidak asik, bikin dongkol.