[ 手紙 ]

243 58 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pada hitungan ke sebelas, gedoran di pintu aula hilang, tetapi hitunganku masih lanjut seiring kulambatkan laju napas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Pada hitungan ke sebelas, gedoran di pintu aula hilang, tetapi hitunganku masih lanjut seiring kulambatkan laju napas. Adrenalin menguasai darah dan menjaga tubuhku tetap awas. Telingaku menegang guna menangkap suara sekecil apa pun tetapi sampai hitungan ke-32, tidak ada bunyi apa-apa lagi.

Kutegup saliva dan menyandarkan tubuh ke dinding. Mata masih tak mau lepas dari pintu meski otot-ototku mulai bisa mengendur.

Kabur kemana lagi biar selamat dari zombie-zombie itu?

Aku memikirkan soal persediaan makanan dan senjata ketika menyapukan pandangan ke penjuru aula. Hanya ada dua pintu masuk dan keluar, serta satu ruangan penyimpanan kursi dan alat kebersihan. Jelas ruang di pojok aula itu pilihanku. Barangkali saja ada sapu super yang membantuku terbang kabur dari sekolah ini.

Aku mendorong sampai ada celah kecil tetapi tetap mempersiapkan tarikan mantap jika ada sosok zombie mendadak muncul. Sudah sampai seukuran tubuhku, tidak ada penyerangan apapun sehingga kubuka pintu itu penuh percaya diri.

Kosong. Dan ini lorong.

Aku tidak tahu mengapa sudah musim panas di balik pintu ini. Seingatku, zombie tidak bisa hidup di bawah terik ganas matahari...

... tetapi tidak lucu juga, sih, kalau zombie berkeliaran di bawah pohon Sakura yang merah muda.

Lorong kosong melompong tidak menyediakan apapun yang bisa dijadikan senjata. Satu-satunya yang mungkin membantu hanya deretan loker. Yah, mungkin aku bisa melempar buku atau apa saja yang kutemukan. Lokerku sepertinya pernah kutaruh gunting besar bekas tugas prakarya.

Kucoba buka loker lain satu per satu, barangkali ada yang terbuka, tetapi ketika sampai lokerku, memang cuma punyaku yang bisa terbuka. Kucari gunting besar itu dari balik buku. Pojok-pojoknya agak berdebu, aku harus mengernyit sembari mengeluarkan buku-buku (dan sampah yang lupa kubuang) guna mencari senjata. Namun selain buku, cuma ada alat tulis yangㅡAstaga!

Seorang zombie menyodorkan surat berwarna pink sambil merunduk sampai rambutnya membentuk tirai.

Zombie?

"Watanabe-san, tolong terima iniㅡ"

Dia mengintip sedikit, aku terkesiap. Napasku tercekat dan suaraku nyaris tak keluar.

"ㅡdari temanku."

Jantungku tersentak kala ia menyelipkan paksa suratnya di tanganku sebelum lari sekencang-kencangnya. Tubuh gadis tinggi dengan seragam sama, rambut panjang sedada, dan suara yang sudah lama tak kudengar.

Di ujung surat, tertulis nama yang membenarkan dugaanku.

Terima kasih sudah bertahan dan memberikan vote

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Terima kasih sudah bertahan dan memberikan vote.
It really means to me T__T

Kayaknya aku bakal agak lama update karena Wattpad error lagi dan aku ga bisa login huhuhu Ada yang pernah ngalamin juga enggak?

Btw, enggak lama kok, paling seminggu aja hihihiw ditunggu, ya, semua! Terima kasih <3

𝐓𝐨 𝐓𝐡𝐞 𝐅𝐮𝐭𝐮𝐫𝐞 𝐘𝐨𝐮✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang