01. Kembali Jumpa

158 18 0
                                        

Kesengsaraanku dimulai.

Hewan-hewan saling unjuk gigi meski pagi belum tampak dihadiri mentari. Suaranya merdu berpadu kompak bak pertunjukkan konser megah yang bisa didengarkan tanpa biaya. Siapa lagi kalo bukan sekumpulan unggas yang berkandang. Ini baru pagi, belum lagi saat bulan menerbitkan diri. Biar gelap gulita, suara jangkrik-jangkrik sanggup bermelodi sepanjang malam. Tak ketinggalan ikan lele yang asyik liuk-liuk menyelami air di kolam sebelah milik tetangga.

Seluruh tubuhku menghangat kecuali ujung kaki. Tak sengaja terbuka sedikit akibat gerik lelap tak sadarkan diri. Buru-buru aku lekas beringsut kembali ditutupi kain berbulu tebal. Cuaca mendadak berangin dingin sampai suhunya mendekati angka 21 derajat.

Aku larut dalam alam bawah sadar yang kemudian menyeret pada kenyataan.

"Delin! Bangun kek! Udah terang begini masih aja ngejogrok di kamar!" teriakan kakakku emang minta disumpel mulutnya. Terlepas dari cara ia membangunkan ala militer, nada pekiknya sungguh terdengar bising di telinga.

"Del! Bangun ih! Mentang-mentang baru nyampek kemaren malem. Malah disengajain siang bangunnya." sergahnya jajal menggoyang-goyangkan kakiku. "Kak! Berisik ah!" sahutku mengerang kesal.

Tak berhasil, laki-laki pemilik suara terberat di rumah ini langsung keluar kamar tanpa menutupnya. 'Aish! Iseng banget, sih?'. Angin-angin dari luar geruduk masuk tanpa aba-aba. Masih terlalu malas bangun, aku memaksa diri meringkuk lagi walau sudah kepalang sadar sepenuhnya. Barangkali sisa kantuk bisa menuntunku kembali terpejam.

Tentu saja hal itu tak berlangsung lama. Sebab sosok pengganggu yang sempat pergi rupanya kembali dengan membawa sesuatu. Ia tetap berupaya membangunkanku dengan cara yang tak biasa. Digendongnya salah satu unggas piaraannya—ayam jantan kampung, yang tanpa berdosa diajak bersua sambil didekatkan ke telingaku agar berkokok. Selain berhasil membuat adiknya terbangun, Kak Dekka juga sukses memancing amarahku.

"KAK DEKKA LO NGAPAIN BAWA AYAM KE KAMAR GUE?! KELUAR!" teriakku menyalak. Selimutku terbang akibat ditendang hingga tersangkut jambul si ayam, sementara guling empuk kulempar asal mengenai wajah Kak Dekka. Tersenyum tawa bagai psikopat, pelaku hanya cengar-cengir sembari ngacir membawa pergi ayamnya.

Samar-samar pandangan netra pada sekeliling selagi aku menyadari diri sedang berada di sini. Di rumah pertama orangtuaku yang kini dihuni Kak Dekka. Dekorasi kamar sederhana yang lama tak aku jumpai masih sama bentuk dan rupa—mungkin lampunya pernah diganti. Reyotan ranjang kayu berbunyi sekilas begitu aku beranjak diri.

Belum sampai 24 jam, aku sudah dibikin jengkel akibat ulahnya. Keluarnya ia tanpa mengucap sepatah kata, menggiringku untuk sungguh-sungguh terbangun penuh meski tak ikhlas.

Kesialanku bertambah ketika aku tergesa-gesa menyereti kaki justru berakhir adu bentur dengan pintu kamar. Ibu jariku refleks memerah mengenai kuku bercat marun, "Kampret! Gara-gara Kak Dekka, nih!" umpatku sengaja.

"DELIN JANGAN NGOMONG KASAR, NANTI MBAH UTI MARAH!" sahutnya dari dapur belakang. Biarpun ukuran rumahnya luas, namun bukan berarti kami bebas mengekspresikan kata-kata—terutama kata tak pantas—dengan suara gelegar. Jangankan teriak, bisik-bisik lewat telinga saja bisa terdengar tak sengaja karena bukan jenis rumah yang bisa kedap suara. Furnitur serba kayu mendominasi isi rumah yang jumlahnya tak seberapa. Kemudian batas dinding antar ruang hanya disusun menggunakan papan kayu.

"Ngapain marah? Orangnya aja udah nggak ada!"

Kedinginan aku usai bermigrasi dari kamar menuju ruang televisi. Tak ada kursi ataupun sofa, hanya tersedia alas tikar gulung anyaman keemasan yang bolong-bolong serta robek di bagian pinggir. Aku refleks meringkukkan lutut kaki, sibuk menghindari hawa dingin sambil melamun sendiri. Dua menit berjalan, getaran langkah kaki terasa akibat alas lantai kayu yang terpasang. Siapa lagi yang datang kalau bukan Kak Dekka.

Unexpected DekkaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang