Kak Dekka akhirnya pulang setelah seharian meninggalkan adiknya di rumah. Pekerjaan rumah yang diperintahkan tadi pagi sudah selesai kukerjakan semua—tentu saja berkat dibantu Mas Sangga. Mas Janit yang belum pulang juga dari tadi masih duduk-duduk di teras. Dia berujar tak akan segera pulang sebelum Kak Dekka datang. Sebab ia sempat dihubungi Kakakku dan meminta tolong untuk segera menjenguk kondisi adik temannya.
Mandor ternak baru saja sampai rumah sendirian sekitar pukul 6 sore. Sementara Mas Braga masih berada di kota karena urusannya yang belum selesai. Takut semakin larut, Kak Dekka terpaksa membawa TVnya sendiri menaiki kendaraan roda dua bututnya. Motor yang kerap ia pasang gerobak di sampingnya untuk mengangkut kambing-kambingnya ke pasar.
Selain membawa pulang TV yang usai direparasi, Kak Dekka juga memberiku satu kotak pipih berukuran besar yang tak asing dengan mereknya. Seketika aku berjingkrak-jingkrak tak percaya, "INI PIZZA? SERIUS KAK?"
Wajahnya tetap datar tanpa bereaksi, "Iye. Awas aja gak dihabisin, gue aduin lo ke Bapak!" tunjuknya mengancam.
"Pasti abis, lah! Makasih Kak Dekka!" ungkapku tulus tersenyum riang.
"Iya. Sama-sama." angguknya kecil. Lalu ia berbersih sebentar ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia yang sudah mandi beraroma gentle kembali ke ruang tengah, untuk membantu Mas Janit yang kesulitan memasang antena TV, karena harus dipasang secara manual.
"Kak Dekka, kenapa gak pasang sekalian pake parabola aja, sih?"
Kak Dekka yang masih sibuk mengatur kabel-kabel televisinya berbalik badan, "Banyak maunya lo, ye. Udah tahu sinyal di sini susah!" galaknya. Sudut kedua netranya menajam disertai rasa kesal usai mendengarku bicara.
"Kan cuma saran, Kak..." cicitku pelan.
"Ssst. Jangan pada berdebat, deh. Udah Lin, mending kita abisin aja pizzanya!" ceria Mas Janit yang asyik menikmati satu potong pizza. Makanan khas Italia yang dibawa Kak Dekka penuh sekali ditaburi keju mozarella, sosis, dan bawang bombai yang menggugah selera.
Sumringah penuh kegirangan, "Oke deh! Kan katanya disuruh habisin, tuh. Kolanya nih, Mas Janit, diminum juga, ya." kataku menyuguhkan segelas minuman soda padanya. Alih-alih ikut mengunyah pizza, dengan melihat mulut Mas Janit yang penuh justru membuatku kenyang. Padahal aku baru menghabiskan separuh porsi potong pizza yang dilumuri saus pedas.
"Ah.. Dah kelar!" Kak Dekka berdiri melihat hasil karya sambung-menyambung kabel TV pada antena.
"YES! AKHIRNYA NONTON TV JUGA!" ungkapku bahagia. Cukup sederhana, ya. Tanpa berlama-lama aku segera mengambil remot di dekat TV, lalu menekan tombol merah sekali. Namun saat layarnya menyala, hasil gambar yang ditampilkan masih tampak semu dan dipenuhi semut-semut yang tak kunjung menghilang.
"Ih kok gak bisa jernih sih, Kak?"
Apa karena tak ada sinyal di sini? Masa iya aku tak jadi menonton TV lagi, sih?
"Kak... Ini gimana? Kok TVnya masih begini, nih?" rengekku pada Kak Dekka yang malah disahut jutek. "Duh! Itu nanti juga bisa ilang, Lin. Tapi harus nunggu dulu. Sabar, kek!" respons Kak Dekka mulai tak mengenakkan.
"Tapi kapan?! Delin mau nonton sinetron, Kak... Keburu abis nanti!"
Kak Dekka semakin terpancing akibat suara bawelku, sebelah tangan kiri yang melayang ingin menjitak kepalaku segera ditengahi Mas Janit. Sebelum terjadi lagi adegan baku hantam antara kakak adik seperti kemarin.
"Lin, bisa itu, Lin. Emang lama. TV Mas Janit juga begini, kok. Udah kalian jangan berantem mulu. Nih Dekk bagian pizza lo, dimakan dulu." nimbrung Mas Janit.
Ia bertindak seperti Bapak yang kerjaannya melerai percakapan kami yang selalu berakhir bertengkar. Masing-masing dari kami segera diberi jatah pizza yang masih tersisa tiga potong dengan maksud supaya anteng.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Dekka
Ficción GeneralBagi Delin, Dekka adalah sosok kakak yang tingkahnya sulit diprediksi karena mereka tak satu frekuensi. Usai menjadi sarjana, Dekka justru memutuskan untuk tinggal di kampung halaman sendirian. Apesnya, Delin yang masih pengangguran dipaksa menyusul...
