Tak terasa sudah hampir sebulan aku tinggal bersama Kak Dekka di rumah pertama. Setiap hari aku terus membantunya mengurus berbagai macam hal yang bisa dikerjakan di rumah, di kebun maupun di peternakan.
Aku juga menyiapkan makanan untuk Kak Dekka ketika dia hendak pergi mencari rumput untuk sapi dan kambingnya, mengurus telur-telur ayam dan bebek yang setiap hari kian bertambah jumlahnya.
Jika awal-awal kepindahanku selalu mengeluh karena tidak bisa menguasai tungku, sekarang aku sedikit mahir mengatur kayu-kayu bakar supaya tetap menyala apinya selagi memasak di dapur.
Belum lama ini Kak Dekka juga membelikanku kompor dua tungku menggunakan LPG serta kulkas mini bekas. Itupun berkat bujuk rayuku didukung adanya sponsor terbesar kami—uang bapak.
Aku mengeluh pada Bapak beberapa hari lalu karena tak kuat jika harus selalu menunggu di depan tungku selama berjam-jam. Pedih mataku setiap merasakan kabut asap bermunculan diimbangi hawa panas menusuki wajah, kulitku seperti dibakar secara perlahan.
Begitu juga kulkas mini yang akan sangat berguna untuk mengawetkan telur, daging serta sayuran segar, juga menyimpan air dingin dan membuat es. Selama ini aku hanya menenggak air dari dalam kendi yang rasanya seperti air tanah.
Jaman sudah modern, tapi Kak Dekka belum mau meninggalkan kesan traditional vibes-nya selama tinggal di sini. Bahas soal selera, Kak Dekka punya jiwa kepribadian yang cenderung old vibes. Dia sangat menyukai segala sesuatu yang berbau lawas atau vintage. Lihat-lihat segala perabotan dan furnitur yang digunakan saat ini, sebagian besar merupakan bekas peninggalan almarhum kakek dan nenek.
Mulai dari koleksi-koleksi piring dan gelas hias, bingkai-bingkai foto, lemari yang dipenuhi ukiran kayu, kelambu besar, kursi anyaman bambu, meja besi berkarat, serta peralatan dapur yang didominasi dari tanah liat.
Dia tak terlalu tertarik dengan perkembangan teknologi yang makin hari makin pesat. Dia melek secara teori, namun tidak dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Barang modern yang paling terkini di rumah ini ya hanya televisi LED, ponsel pintarnya dengan ruang penyimpanan 32GB dan laptop—windows 7 tapi. Jangan berharap di sini menemukan AC, kipas angin, lemari pendingin—sekarang sudah ada, penanak nasi, mesin cuci, blender dan lain-lain yang tidak membuatnya terdesak untuk membeli.
Dia selalu beralasan belum butuh setiap kali kusarankan. Terus mau sampai kapan Kak Dekka hidup dengan cara-cara yang sudah mulai ditinggalkan oleh orang-orang? Entahlah. Sebaliknya, kalau di rumah kedua justru peralatan yang kusebutkan tersedia sangat lengkap. Bapak dan Ibu juga tidak gagap teknologi, mereka selalu update perihal barang-barang elektronik yang semakin efisien penggunaannya.
Gara-gara terbiasa serba manual, semua yang bisa kulakukan sampai saat ini merupakan hasil ajarannya Kak Dekka. Meski awalnya diri ini acuh tak acuh dan malas, makin ke sini aku jadi disadarkan dengan kesibukan Kak Dekka yang semakin padat dan mulai tak terkendali.
Hal yang baru kukuasai masih sekedar urus-mengurus rumah termasuk dapur, sih. Paling sering aku disuruh ikut membantu dia mengurus lahan kebun di belakang rumah.
Kalau urusan ternak, tetap Kak Dekka yang paling cekatan. Adaptasiku terlalu buruk ditambah mental ciutku yang telanjur parno usai insiden digigit kambing. Belum lagi aroma tak sedap yang selalu membuatku mual bila mendekati kandang-kandangnya.
Untunglah Kak Dekka meluluh, sehingga dia sudah jarang menyuruhku untuk memandikan sapi dan kambingnya sekalian membersihkan kandang.
"Daripada hewan gue stres semua kalo lo yang ngurus." ujarnya yang kuingat-ingat belum lama ini.
Kemarin aku hanya disuruh menjaga sapi-sapi yang tengah dilepas supaya memakan rumput liar di sekitar peternakan. Urusan soal mencari pakannya, dia lebih memilih pergi bersama Mas Janitra yang lebih banyak waktu luang—lebih tepatnya menganggur—ketimbang dua temannya. Mas Sangga sibuk kerja di kelurahan, sedang Mas Braga sibuk mendistribusikan singkong di beberapa pasar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Dekka
Ficción GeneralBagi Delin, Dekka adalah sosok kakak yang tingkahnya sulit diprediksi karena mereka tak satu frekuensi. Usai menjadi sarjana, Dekka justru memutuskan untuk tinggal di kampung halaman sendirian. Apesnya, Delin yang masih pengangguran dipaksa menyusul...
