04. Pria Asing dan Aneh

105 10 0
                                        

Semalam aku terlelap entah sampai pukul berapa. Kesadaran yang teringat hanyalah pada saat Kak Dekka membangunkanku. Mandor ternak itu pulang dari rumah Budhe membawakan tampah sedang beralaskan lembaran daun pisang. Ditata rapi isiannya seperti nasi putih, potongan ayam goreng kampung, lalapan beserta sambal. Tak ketinggalan satu mangkok bubur sumsum, beberapa iris kue lapis dan air putih yang dihidang dalam kendi kecil.

Kak Dekka sempat menyuruhku untuk makan namun kutolak. Perutku tak nyaman bila diisi asupan tengah malam. Aku tidak terbiasa menyantap makanan lewat dari jam yang seharusnya. Jelas, aku harus menjaga bentuk bodiku agar tetap ideal dan tidak melebar. Masih menaruh rasa kesal gara-gara pesan terakhirku tak dibalas, aku memilih untuk melenggang ke dalam kamar lalu melanjutkan tidur malam.

Paginya, sayup-sayup indera pendengaranku menangkap bunyi jendela kamarku yang terbuat dari papan kayu tanpa kombinasi kaca terbuka lebar-lebar. Kak Dekka melakukannya secara sengaja agar angin sejuk huyung-huyung masuk menyelimuti kamar. Mungkin ini salah satu strategi lain supaya adik bungsunya lekas terbangun. Aku merasa lebih baik daripada dia repot-repot membawa ayam jantan kesayangannya seperti hari pertama, pasti bakalan ribut lagi.

Meskipun aku tak lantas bangun setelahnya, Kak Dekka tetap berupaya membangunkanku dengan memberikan sebuah PR.

"Lin, piring numpuk di belakang, cuciin ya. Air gentong di dapur udah gue isiin. Terus itu kan cucian baju udah gue jemur, nanti diangkat sama dilipet kalo udah kering terus masukin ke lemari. Sama kalo bisa lo bersihin beras yang di karung deket lemari dapur buat dimasak ntar sore. Pagi ini lo sarapan pake nasi yang semalam dari Budhe aja, udah gue angetin ada di meja makan.."

"..Jangan lupa sapu halaman, daun-daun pohon mangga udah pada rontok, tuh. Sekalian siramin taneman-taneman depan rumah. Kalo belom capek, lo pel juga nih lantai. Di lap kering aja, kalo basah lama keringnya." panjang lebar Kak Dekka berpesan seperti seorang majikan pada babunya. Bahkan aku tidak sampai 100% mencerna ucapannya, akibat hawa ngantukku yang masih terasa kuat.

"Gue mau servisin TV sama Mas Braga, nanti kalo ada apa-apa WA aja. Kalo ada tamu, jangan sembarangan main buka. Teriak aja bilang 'GAK ADA ORANG DI RUMAH'." tutupnya. Kemudian langkah kakinya di lantai kayu perlahan menghilang.

'Bilang aja gak ada orang?? Bukannya makin ketahuan kalo bilang begitu? Aneh ih!' batinku.

Barulah sekitar jam 10 pagi aku terbangun. Benar-benar tersadar saat cahaya matahari menyoroti ruang kamar tanpa batas lewat jendela, menyilaukan netraku yang masih terpejam pulas. Ditambah suara pintu rumah yang digedor amat kencang, mirip sekali seperti tingkah debt collector yang menagih utang nasabah di rumah kosong. Ingin rasanya aku maki-maki jika bertemu dengannya meski belum tahu siapa yang datang. Alhasil aku terpaksa beranjak dari ranjang sebab diimbuhi suara panggilannya yang tak kunjung berhenti.

Rambutku yang masih acakadut dibiarkan menganga seperti bulu singa. Garuk-garuk pipi halusku yang terasa gatal. Buru-buru aku hendak membuka pintu tanpa mengecek dari jendela. Penasaran siapakah sosok pelaku dari penggedoran pintu rumah yang terlalu tidak sopan.

Bentuk kunci rumah tradisional yang dibuat dari kayu itu kugeser pelan ke kanan. Begitu dibuka, hadirlah seorang pria asing dihadapanku berperawakan besar dan tinggi. Ia mengenakan pakaian kaos berwarna putih berlengan panjang, lengkap dengan celana olahraga berwarna hitam bergaris strip putih di kedua sisi.

Pria itu tersenyum lebar diikuti kerlingan yang begitu berbinar, seperti ada galaksi di sana. Aku berdecak terkagum-kagum pada keindahan matanya.

Pertemuan kami tuk pertama kali memberikan kesan yang seketika membuatku terpesona. Pandangan pertamaku, dia betul-betul penggambaran seperti pria desa yang dewasa. Akan tetapi sebelum telanjur goyah akan visual tampannya, aku segera kembali fokus dengan membalas tatapan penuh intimidasi.

Unexpected DekkaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang