Selain baca bismillah, biasakan tekan vote-nya dulu yuk sebelum membaca. Komen-komen juga, ya. Terima kasih 🙏
***
Duduk termenung sendirian bukan berarti sedang merasa kesepian, tapi bisa juga disebabkan banyak pikiran. Aku tak berhenti mendengkus selagi lurus menatapi pemandangan yang luas. Kali ini yang kulihat bukan hamparan sawah penuh hijau, bukan pula area peternakan yang disinggahi sapi, ataupun kebun belakang penuh tanaman punya Kak Dekka.
Melainkan kolam ikan lele milik Mbah Warno, yang dipenuhi hijau lumut di tepi dinding dan tentu saja, hewan berkulit licin yang tengah asyik berenang kesana kemari. Suara gemericiknya lincah terdengar di telinga. Aroma anyir terlalu kuat kuhirup, mungkin sudah waktunya kolam dikuras.
Aku disuruh Kak Dekka menjaga kolam lele Mbah Warno selagi ia pergi ke pasar. Sementara sang pemilik tengah berpergian menjenguk cucunya. Aku tak tahu lokasi daerah yang dijuluki Kota... ada di mana, sudah jelas bukan Ibukota.
Gara-gara kambing Kak Dekka gak laku-laku dijual-mungkin dia terkecoh dengan ucapanku kemarin, sekarang dia jadi makin sibuk menjual kambing-kambingnya. Kalau biasanya dia hanya pergi setiap Hari Pahing, hari di mana pasar hewan dibuka, kali ini dia mulai mendatangi pasar lain, yang mana aku sendiri belum pernah ke sana. Aku jarang sekali mengeksplor daerah kampung halaman orangtuaku sendiri, yang bila dibayangkan mulai dari rute perjalanannya saja sudah membuatku letih duluan.
Seandainya Kak Dekka coba mendengarkan dan menuruti saranku, melepas kambingnya agar dijual pada Dita, pasti sampai hari ini dia masih leha-leha menikmati uang hasil jual ternaknya. Dia gak perlu repot-repot berkeliling kesana kemari, menawarkan kambing ke pasar-pasar yang jaraknya cukup jauh dari rumah.
Ah, biarkan dia dibendungi rasa penyesalan berhari-hari. Rasain tuh!
Dan sekarang aku harus menjalani tugas baru dari Kak Dekka yang mana aku sendiri gak paham harus ngapain di sini. Bilangnya sih cuma disuruh jagain lele, tapi kenapa aku malah dipegangi tongkat galah? Dan bagian ujung galah terpasangi jaring yang kuat dililiti kawat, supaya tidak mudah terlepas sewaktu digunakan.
"Kata Kakung, kolamnya dibersihin kalo daun jatinya udah banyak yang jatuh. Kalau satu-dua daun nanti Mbak kecapekan. Terus juga gak harus repot-repot pindahin lelenya dulu kok, Mbak."
Sifa berujar selagi menyuguhiku minuman pop es rasa cokelat ditaburi parutan keju dan biskuit oreo. Dia kebetulan baru pulang membelikanku aneka minuman ice blend di rumah tetangga seberang. Satu cup berukuran besar dijual seharga tiga ribu rupiah, kalau pakai toping dikenai tambahan seribu rupiah. Biasanya ada toping parutan keju, boba tapioka yang bentuk bulatnya asal-asalan, dan remahan bubuk biskuit berwarna hitam.
Kenapa aku bisa tahu? Karena aku sempat baca pricelist-nya sewaktu disuruh beli sama Kak Dekka beberapa minggu lalu. Kalau di Ibukota, kisaran harga minuman sejenis yang dijual sekitar 20-25 ribu ke atas dengan aneka toping yang lebih beragam. Jelas aku tetap memilih yang terakhir, karena dari segi rasa jauh lebih nikmat, lebih kental, dan lebih enak, ketimbang ice blend buatan tetangga kami yang teksturnya lebih mudah encer seperti es lilin.
Kembali ke situasi terkini, daun-daun jati yang tumbuh di sekitaran kolam lele Mbah Warno memang sering berguguran kalau kuperhatikan. Pohon-pohon jati tua yang menjulang tinggi dan tumbuh lebih dari sepuluh pohon itu sudah lama dirawati. Maklum, kolam ikan lele Mbah Warno dibangun di atas lahan yang semula hanya difungsikan sebagai kebun pribadi. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba lahan seluas satu hektar digunakan hampir separuhnya untuk kolam ikan lele.
Aku masih ogah-ogahan beranjak membersihkan daun-daun gugur yang mengambang di permukaan kolam. Duduk di gazebo yang atapnya ditutupi alas ijuk, Sifa yang berada di sebelahku sejak tadi tak berhenti menanyakan tentang Kak Dekka. Aku muak ditodongi ribuan pertanyaan yang acapkali dilayangkan teman-temanku saat pertama kali melihat sosok kakak kandungku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Dekka
General FictionBagi Delin, Dekka adalah sosok kakak yang tingkahnya sulit diprediksi karena mereka tak satu frekuensi. Usai menjadi sarjana, Dekka justru memutuskan untuk tinggal di kampung halaman sendirian. Apesnya, Delin yang masih pengangguran dipaksa menyusul...
