02. Belum Sehari

114 11 2
                                        

"Kita mau kemana sih, Kak?"

Aku dan Kak Dekka sudah melampaui dua puluh langkah meninggalkan rumah. Bermodalkan pisau celurit dan dua karung beras kosong di tangan kanannya. Ia menatap lurus ke depan urung menjawab pertanyaanku. Terik sinar matahari sebetulnya tak begitu menyengat meski tubuhku terasa panas akibat disengat emosi sejak pagi. Aku mengenakan baju dress krem sebetis, sedangkan dia memakai kaos jersey putih berlogo almamaternya. Warnanya pudar, terlalu sering dipakai barangkali.

Di tangan kiriku, ada satu paket rantang besi berisi lima wadah yang disusun rapi serta berat. Untuk perbekalan nanti di jalan? Entahlah. Aku tak tahu isinya jenis makanan apa, karena hanya Kak Dekka yang menyiapkan semua. Dia sendiri menenteng ceret aluminium berukuran sedang untuk mengusir dahaga.

Laki-laki jangkung setinggi 177cm itu terlalu jauh mendahuluiku berjarak sepuluh meter. Padahal dia tak terlalu cepat berjalan, hanya saja langkah kakinya yang besar membuatku tak sanggup untuk menyamakan.

"Kak pelan-pelan aja, sih. Delin capek." sambatku yang kesekian kali. Kalau aku punya catatan kecil, pasti sudah kutulis seberapa banyak aku mengeluh hari ini.

Biar kurekap kembali, daftar kejadian apa saja yang telah menimpa Radelin Al Vira sejak datang ke sini:

1. Dibangunkan ayam Kak Dekka

2. Kaki terbentur pintu

3. Koper terkena pup kambing

4. Bokong terjungkal di atas tungku

5. Tangan cemong ditambah batuk-batuk terkena asap tungku.

Dari sekian kesialanku hari ini, nomor empat menjadi kejadian yang paling membekas. Bokongku jadi korban nyeri yang belum mereda sampai sekarang. Jangan lupa tulang-tulang area bawah punggung terasa ditekuk. Pegal linu luar biasa kurasakan akibat jarang berolahraga.

Kak Dekka merespons, "Lo duluan deh kalo gitu." aku memicingkan mata heran seketika. "Kita mau ke mana aja gak dikasih tahu, malah suruh jalan duluan. Gimana, sih?"

"Ya udah, cepetan kalo gitu jalannya." niatnya kini terurung dan terus melangkah maju membelakangiku. Huft.

Wilayah area rumahku termasuk sepi dari lingkungan warga sekitar. Hanya ada sekitar 4-5 rumah yang bertetangga dengan kami. Jaraknya pun lumayan jauh, sekitar lima puluh hingga seratus meter. Di sini masih banyak sekali lahan tanah kosong yang dimanfaatkan warga untuk ditanami pepohonan jati serta tanaman budidaya lainnya. Biasanya mereka menyewa langsung ke pemilik tanah, atau ikut lelang undian kebun dari kelurahan yang tanpa dikenai biaya.

Suara kicauan burung semakin terasa jelas saat aku celingak-celinguk sekitar. Mungkin karena sepanjang jalan aku hanya melihat pohon-pohon jati menjulang seperti di hutan. Aroma khas pedesaan yang telah lama tak tercium kini dapat kurasakan kembali, bahkan setiap hari aku bisa mengendus-endus sebelum suasananya berubah.

Kata orang yang telah bermigrasi dari kota ke desa selama bertahun-tahun, mereka sudah tak bisa merasakan lagi keasrian pedesaan yang sebetulnya masih bisa dirasakan oleh pendatang sepertiku. Berhubung aku sendiri tak tahu kapan kembali lagi ke Ibukota, mungkin inilah saatnya aku berpuas diri sambil menikmati semilir angin yang lumayan sejuk.

'Aku betul-betul berada di kampung sekarang..'

Tanda-tanda kehidupan di kampung terlihat saat beberapa warga lalu lalang lewat menaiki sepeda onthel. Sepeda yang menggunakan rem dengan cara menahan pedal, aku baru tahu saat seorang warga menghentikan laju roda duanya. Membunyikan dering bel sambil menyapa Kak Dekka ramah. Dia membalas dengan sunggingan bibir diikuti lambaian tangan. Di depan orang lain dia bisa seluwes itu, mustahil sekali dia bakal melakukannya padaku.

Unexpected DekkaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang