"Asyik, ditraktir Mas Braga!"
Pria yang duduk disebelahku tersenyum pahit begitu tahu kalau pesanan singkongnya langsung ludes diborong Mak Lastri tanpa sisa. Janda beranak empat itu disebut-sebut seorang juragan versi wanita yang mempunyai gurita bisnis di pasar pagi.
(Gurita bisnis: istilah untuk pengusaha yang memiliki beberapa cabang bisnis).
Selain menjalin kerjasama dengan Mas Braga yang berperan sebagai produsen, beliau juga pernah menjalankan kontrak bisnis susu sapi dengan Kak Dekka sekitar empat bulan lalu-dia sendiri yang cerita. Susu sapi yang diperah berasal dari peternakan kakakku dan selalu rutin disetor setiap dua minggu sekali.
Aku, Kak Dekka dan Mas Janit jadi saksi proses negosiasi Mas Braga dengan Mak Lastri. Meskipun tugas Mas Braga dari ibunya hanya mengantar singkong sesuai pesanan, namun pria bertubuh gempal itu enggan jika harus mengangkut pulang singkong yang masih tersisa. Dia sengaja membawa dalam jumlah lebih banyak, dengan harap Mak Lastri mau membayar semua demi mendapat uang tambahan.
Toh setelah itu dia langsung melunasi uang tagihan tomerinya Mas Janit.
Sekarang di seberang meja ada Kak Dekka dan Mas Janit, yang tak berhenti memejamkan mata selagi menikmati harumnya semangkuk soto kuning khas Lamongan. Berbeda sendiri, Mas Braga justru memesan nasi rawon yang dipenuhi irisan daging sapi empuk, ditaburi kondimen kecambah segar serta bawang goreng renyah di atasnya.
"Sambelnya pedas gak, Lin?" tanya Mas Braga. Aku menggeleng singkat, "Nggak, Mas. Segar banget, nih. Cobain deh." kataku mengulas singkat.
"Eh, jangan!" larang Kak Dekka yang mendengar percakapan kami, segera menutup wadah sambal dan menjauhinya dari Mas Braga. "Dia ada asam lambung, ngaco lo Lin nyuruh-nyuruh dia makan pedes." tegurnya.
"Oh? Belum sembuh, Mas?" Ia menggeleng, "Ya elah, dikit doang, Dekk. Dikit. Setetes deh setetes." rayunya diikuti gerakan mata, meratapi wadah merah yang sengaja dipindah jauh ke meja sebelah.
"Udah lo makan pakai ini aja. Sok bergaya pengin nyicip sambal, lambung lo kumat nanti kita yang repot." usul Mas Janit yang diikuti raut kami bertiga kompak mengernyit.
Tebak, benda apa yang dia sodorkan pada Mas Braga? Betul, botol kecap manis berukuran besar yang lebih afdol bila digunakan sebagai pelengkap soto.
"Rawon gue udah item begini masih disuruh tambahin kecap. Agak-agak lo, Nit!" cicitnya.
"Yah daripada gak ada bumbu lain, atau nggak ini, nih. Cuka, nih. Biar makin kecut tuh rawon,"
"kayak yang lagi makan." desibel rendah intonasi Mas Janit sambil mengunyah suwiran ayam tak mendesak Mas Braga ingin membalas, antara gak terdengar atau malah keburu lapar duluan.
Mas Braga mengisi tenaga perutnya lebih dulu sebelum perjalanan pulang. Perut karetnya yang tak bisa diajak kompromi selalu mendorong nafsu makannya dan rajin meminta tambahan porsi nasi sampai empat kali. Tanpa jaim, dia baru saja melahap nasi di piring terakhir yang cukup dihabiskan dalam lima kali suapan.
Beruang, Panda bahkan Gorila bisa kalah saing kalau melihat cara Mas Braga makan. Mulutnya open minded, selalu dibiarkan terbuka lebar seperti orang yang sudah tujuh hari kelaparan.
"Eh Dekk, kambing lo kok masih utuh aja di kandang dari awal bulan? Belum ada yang laku lagi?" tanya pria sebelah Kak Dekka yang sibuk menyisihkan irisan daun bawang.
"Mas Janit, daun bawangnya siniin, biar Delin yang makan."
Tanpa ragu ia segera memindahkan daun bawang dari sendoknya ke mangkukku. "Hehe. Syukurlah gak jadi mubazir."
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Dekka
Ficción GeneralBagi Delin, Dekka adalah sosok kakak yang tingkahnya sulit diprediksi karena mereka tak satu frekuensi. Usai menjadi sarjana, Dekka justru memutuskan untuk tinggal di kampung halaman sendirian. Apesnya, Delin yang masih pengangguran dipaksa menyusul...
