Kerumunan terjadi di pojok pasar hewan, tempat di mana kambing-kambing dijajakan untuk di jual. Di tengah-tengah sibuk bertransaksi, para pedagang bersama pembeli-serta yang sedang lewat-beramai-ramai mengepungi tiga ayam Mbah Warno yang kabur. Usai kulepas tali yang mengikat di kakinya, tas jinjing yang kubawa terbuka lebar-lebar tanpa disengaja. Hewan unggas yang sesak berdiam di dalamnya otomatis berontak serempak ingin keluar merasakan udara bebas.
Aku yang tidak tahu cara menangkapnya hanya bisa berdiri geming. Memegangi tiang kayu sambil bertirakat dalam hati, berharap ayam-ayam jantan yang sekarang dikepungi bisa ditangkap cepat sebelum kembali kabur ke sembarang arah. Soal ini, aku mengandalkan Kak Dekka sepenuhnya.
"Lin bantu nangkep, Lin!" Kak Dekka mendorong paksaku untuk maju ke tengah kerumunan.
"Ih, gak mau! Gak berani ah, Kak!" tolakku panik.
Kak Dekka mengembuskan napasnya, memutar kedua bola mata lalu diakhiri memicingkan mata. "Lo emang bener-bener nyusahin, ya." datarnya.
Ya udah, sih. Kalau nyusahin mending pulangin gue aja ke Ibukota. Apa susahnya?????
Ia meninggalkanku begitu saja saat melewati beberapa orang untuk maju ke tengah, berdiri seperti wasit yang ingin memulai pertarungan. Niatannya tentu saja hanya ingin menangkap ayam-ayam Mbah Warno.
Namun dua ayam kampung jantan berada di depan Kak Dekka malah saling unjuk gigi. Jambul-jambulnya menegak bangga, seakan-akan memamerkan identitas ayam yang paling kuat di muka bumi. Paruh runcingnya melincip tajam, seolah-olah siap mematuk-matuk bila terjadi adu serangan satu sama lain. Pedagang dan pembeli sedetik kemudian menjelma menjadi penonton, tak sabar ingin menyaksikan sabung ayam yang diadakan dadakan tanpa terencana.
Sementara satu ayam lainnya justru berlarian hendak menepi, agak beda dari yang lain. Ia mendekati para pengunjung pasar serta pedagang yang melebarkan tangan bersiap ingin meringkus. Terlalu lincah, ayamnya terus berlari mengelilingi putaran seperti mengikuti lomba jalan cepat. Tak ketinggalan suara berkokoknya dilantunkan keras-keras, lehernya mencondong kiri ke kanan lalu sebaliknya, yang kuyakini sedang sibuk mencari sang majikan.
Kak Dekka gelagapan selagi menangkap ayam Mbah Warno yang lebih jago menghindar daripada ayam-ayam peliharaannya sendiri. Tangan kakakku yang dinilai sangat cekatan menjadi payah dalam sesaat. Ayam jago Mbah Warno sejatinya dipelihara untuk dijadikan sebagai sabung atau pertaruhan ayam, atau terkadang diikutkan kontes ayam tingkat kecamatan.
Pernah sekali Mas Braga membahas tentang ayam Mbah Warno yang menang telak usai mengalahkan tiga ayam jago lainnya di kampung sebelah. Salah satu ayam Mbah Warno yang berbulu paling lebat, paruhnya hitam pekat, dan terkenal paling kuat itu juga pernah mendapat juara umum kategori ayam terindah. Pialanya dipajang di lemari kaca ruang tamu rumah Mbah Warno.
"Mau berapa-berapa, nih?" ujar seorang pria paruhbaya yang nampak lebih tua dari usia bapak mengajak taruhan.
"Lima puluh, Pakde. Gimana?" sahut seorang anak muda.
"Kurang kalo segitu! Tambahin, tambahin!"
"Seratus! Mentok nih!"
"Yang mana?"
"Yang paruhnya hitam! Tuh, tuh yang mau ditangkap sama Masnya!"
"Ya udah, aku yang satunya!"
"Oke."
"Ayo siapa lagi ini yang mau ikutan???" berbondong-bondong si bapak beruban yang hampir rata di sebelah kiri menunjuki diri memimpin gacoan. Beliau menerima uang ratusan ribu dari para penonton yang penasaran ingin menyaksikan siapa pemenangnya.
Kak Dekka yang tak peduli dengan bisnis orang lain masih saja sibuk mengekori ayam-ayam Mbah Warno yang secara berurutan mulai lari mengitari tepian. Kakakku berada di paling belakang bagai pengikut, sedangkan tiga ayam di depannya tetap berpacu pada misinya untuk terus berlari. Ketiganya enggan berhenti sebelum menemukan celah di sela-sela kaki manusia yang sedang berdiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Dekka
General FictionBagi Delin, Dekka adalah sosok kakak yang tingkahnya sulit diprediksi karena mereka tak satu frekuensi. Usai menjadi sarjana, Dekka justru memutuskan untuk tinggal di kampung halaman sendirian. Apesnya, Delin yang masih pengangguran dipaksa menyusul...
