Aku dan Kak Dekka sedang beristirahat. Usai mengobati luka adiknya menggunakan obat merah, ia tengah berbincang dengan seseorang melalui telepon genggamnya di ruang TV. Barusan aku mengadu ke Bapak soal kejadian hari ini, apalagi kalau bukan cerita digigit kambing Kak Dekka. Aku terpaksa mengetik menggunakan tangan sebelah kiri, akibat luka tangan kanan yang masih terasa perih. Satu persatu jari telunjukku aktif bermain keyboard pada layar HP.
Bahkan aku belum jadi mandi, dalam lamunanku menunggu balasan Bapak aku baru tersadar akan sesuatu hingga gerik kepalaku terlonjak membelalak, 'LHO, BERARTI TADI AKU KETEMU MAS JANIT PAS LAGI BULUK BEGINI?'. Aku merutukinya lagi, kian bertambah sudah daftar kesialanku bertubi-tubi hari ini.
Di depan mataku hanya tersisa dua iris tempe goreng di meja makan. Aku mengunyahnya satu sewaktu dapat notifikasi pesan dari Bapak.
'Bapak makan pizza nih, Del.'
(send a picture)
'Kamu cepat sembuh ya. Nanti Bapak omelin kakakmu.'
IH CURANG! Bisa-bisanya Bapak makan pizza di saat anaknya sakit begini. Tega sekali.
Alhasil aku menahan rasa iriku pada Bapak selagi masih ada tempe goreng tersisa satu. Kalau aku minta dibelikan pizza pada Kak Dekka sekarang, pasti dia enggan menuruti. Atau nggak dia akan menawariku urusan transaksional lagi dengan melakukan berbagai pekerjaan rumah lain yang jelas tak akan becus kukerjai. Kak Dekka salah memilihku untuk jadi babunya. Jelas salah.
Masih disibukkan dengan smartphone jadulnya—yang dilengkapi fitur antena panjang untuk nonton TV—berwarna merah, terdengar suara Bapak yang menelpon putra sulungnya. Tombol pengeras suara baru saja dinyalakan, sehingga sapaan khas Bapak di sana sangat mudah kukenali.
"Dekka anak kesayangan Bapak. Lagi apa kamu, nak? Delin di mana?"
Kurang lebih beliau selalu mengucapkan kalimat yang sama ketika berkomunikasi denganku, tinggal diubah subjeknya saja. Kami sama-sama diperlakukan persis secara adil. Bapak tak pernah berat sebelah dalam mendidik kami, lebih tepatnya sesuai porsi. Ada momen di mana aku iri setengah mati ketika Kak Dekka diperbolehkan menyetir mobil di usianya yang pantas untuk mendapat SIM A. Sedangkan aku yang belum menginjak usia 17 hanya diperbolehkan menaiki transportasi umum, atau diantar Kak Dekka kemanapun aku pergi.
Cih, boro-boro diantar betulan. Kak Dekka hanya mau mengantarku sampai ke halte terdekat, katanya supaya aku khatam jadi penumpang bus kota yang ramainya selalu melebihi kapasitas. Sempat kuberpikir Kak Dekka akan menggunakan fasilitas mobil sebagaimana fungsinya. Satu kendaraan Freed hibahan Bapak rupanya dimanfaatkan Kak Dekka untuk menyimpan pupuk-pupuk serta ragam tanaman pot kecil di bagasi.
Sebelumnya dia pernah bekerja sebagai supplier dengan mengantar puluhan pupuk berkarung di berbagai tempat sekitaran Ibukota. Saat itu ia masih kuliah semester tujuh kalau tidak salah. Jaman-jaman Kak Dekka sedang sibuk magang di sebuah lembaga non-profit yang berfokus di bidang peternakan.
Bisa dibayangkan, betapa kami sekeluarga menanggung aroma tak sedap tiap kali mobil Kak Dekka digunakan untuk keperluan ke luar kota. Prinsip Kak Dekka, 'Apapun jenis mobilnya selagi bisa dimanfaatkan ya kenapa tidak?'. Terserah dia sajalah.
Bapak? Hmm, sebetulnya mobil yang dia hibahkan pada Kak Dekka sengaja agar dia membeli baru lagi setelah diberi izin Ibu. Sedangkan aku? Ya tetap naik kendaraan umum, aku belum mendapatkan SIM selain untuk motor. Tapi aku juga belum berani berkelana menggunakan kendaraan matic milik Bapak yang ukurannya bahkan lebih besar daripada tubuhku sendiri.
"Kak, Delin tuh belum ada seminggu di rumah. Jangan kamu paksa kalo dianya gak mau." tutur Bapak berbicara dengan Kak Dekka yang duduk selonjoran kaki di bawah bersender pada kursi kayu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Dekka
General FictionBagi Delin, Dekka adalah sosok kakak yang tingkahnya sulit diprediksi karena mereka tak satu frekuensi. Usai menjadi sarjana, Dekka justru memutuskan untuk tinggal di kampung halaman sendirian. Apesnya, Delin yang masih pengangguran dipaksa menyusul...
