"Kak Dekka! Kambing-kambing lo masih bisa dijual gak?"
Usai berbincang-bincang dengan Wilson di telepon kemarin, aku juga sempat mengirim pesan singkat pada sahabatku Dita. Dia merupakan sahabat semasa kuliah yang paling aku banggakan karena kepribadian serta prestasi akademiknya yang menjulang.
Setelah lulus, kami mulai dipisahkan dengan kesibukan masing-masing. Membuat kami sedikit berjarak karena pekerjaan barunya yang tampak menyenangkan. Aku termasuk salah satu penikmat konten sosial media Dita yang sering memperbarui beranda akunnya, dengan beberapa unggahan foto jalan-jalan ke luar negeri setiap minggu.
Sayangnya aku tak bisa iri terlalu lama dengan segala privilege yang Dita miliki. Sebab sudah sepantasnya ia mendapatkan keberuntungan dalam segi karir, setelah keluarganya terancam bangkrut beberapa tahun lalu.
Dita yang saat itu sedang senggang mulai bertanya-tanya tentang kabarku selama berada di sini—selain apes digigit kambing. Tanpa rasa jaim sedikitpun aku jadi curhat soal duniaku yang jungkir balik. Mengisi keseharian dengan mengurus peternakan Kak Dekka. Aku merasa sedih karena setiap pasar hewan dibuka, Kak Dekka yang menjual kambingnya selalu berakhir dibawa pulang tanpa hasil.
Usai mendengarkan, Dita jadi berniat ingin membeli kambing milik Kak Dekka. Padahal mulanya aku tidak bermaksud menawarkan kambing padanya sama sekali.
"Ya masih, lah. Kenapa emang?" lantas aku segera melanjutkan obrolan soal penawaran Dita tadi.
"Gak! Gue gak akan jualin ke temen lo!" serunya menolak.
Sebelum berbicara mengenai hal ini, Kak Dekka sempat merasakan kegembiraan tak seperti biasanya. Pagi tadi, ia sudah sibuk mengurus ayam kesayangan yang bertelur banyak. Wajah berseri-serinya tak bisa disembunyikan dari pandanganku sampai terheran-heran.
Bahkan dia semangat sekali saat menyiapkan sarapan pagi berupa omlet dan roti tawar buatannya sendiri untuk dimakan bersama. Tanpa menggunakan adegan drama suruh-menyuruh adiknya, mood Kak Dekka terlihat sangat baik.
"Delin hari ini mau makan apa? Nanti gue masakin!" itu janjinya setelah mengumpulkan hasil ternak benda berkerak kasar dari kandang.
Ini sudah kesekian kalinya aku selalu menyebut Kak Dekka aneh, sangat aneh, betul-betul aneh.
Aku yang tengah menyesap secangkir teh tubruk hangat menimpali, "Kan lumayan dapet duit, Kak. Gini-gini kan gue bantuin lo jualan, loh. Nanti bisa gue masukin juga ke pengalaman kerja di CV. 'Berpengalaman dalam mengelola usaha peternakan keluarga dengan target penjualan rata-rata 2-4 juta rupiah per ekor.' Lo bakalan terbantu banget loh, simbiosis mutualisme kita."
"Kalo gue bilang nggak, ya nggak! Bilang aja suruh cari tempat lain, jangan di sini!" tolaknya dua kali.
Aku mengerucutkan bibir kala Kak Dekka beralih menuju ke dapur. Ekspresinya lumayan bete. Aku pikir setelah kutawari kambingnya bakal laku terjual, dia makin senang mendengarnya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya, aku bingung dengan tingkahnya yang terkesan plin-plan. Padahal saat kambingnya tak laku dijual di pasar, pulang-pulang ia hanya beraut murung sambil menggiring hewan ternaknya ke kandang.
Pemandangan pagi tak jauh berbeda seperti kemarin, masih terselimuti kabut tebal. Dedaunan pohon tumbuh mengedar di sekitaran rumah, timbul banyak bercak-bercak air akibat mengembun.
Bertelanjang kaki aku bolak-balik berjalan di alas bebatuan kerikil yang sengaja disediakan khusus oleh Kak Dekka. Posisi lahannya sendiri persis di sebelah kanan halaman rumah.
Sejenak telapak kakiku seperti dipijat-pijat, seluruh aliran darah dalam tubuh terasa menjalar sampai ke kepala. Pelan-pelan aku menikmati sejuknya udara sebelum fajar datang benderang sekitar setengah jam lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Dekka
General FictionBagi Delin, Dekka adalah sosok kakak yang tingkahnya sulit diprediksi karena mereka tak satu frekuensi. Usai menjadi sarjana, Dekka justru memutuskan untuk tinggal di kampung halaman sendirian. Apesnya, Delin yang masih pengangguran dipaksa menyusul...
