[4] Tadika mesra

10.2K 1.3K 70
                                        

Mark bangun duluan.

Menatap lamat muka tidur milik Caca beberapa saat, sebelum mengeratkan pelukan. Tersenyum dengan gemes saat melihat mulut Caca terbuka, iler aja sampe menetes.

Setelah itu tangan kanan Mark sedikit terangkat. Mendorong pelan - pelan dagu milik Caca ke atas, hingga mulut sang istri tertutup rapat kembali.

Kepala Mark tertoleh ke arah sebelah kanan Caca. Melirik adek yang masih asik bobo miring sambil mengemut jempol tangan kanan, sebelum balik menatap langit - langit kamarnya.

Memikirkan suatu hal seperti alasan kenapa dia mau menerima Caca jadi istri. Jujur atau sebenarnya Mark juga bingung, saat pertama kali melihat muka Caca dia langsung ngangguk.

Kayaknya kena pelet deh.

"Hghhh.." lenguhan panjang dari Caca menyadarkan renungan Mark.

Caca menggeliat pelan bahkan sampe nguletin semua bagian tubuh, mem- buat tangan kiri tanpa sadar nonjok muka paripurna mas Mark.

Sedangkan Mark cuma menghindar dengan tampang muka 'aku rapopo'

"Eh!" keluh Caca saat merasakan kalo dia lagi ngga sendirian.

Biasanya kan kaya jomblo karatan, sendirian terus.

Menolehkan kepala ke arah mas Mark dengan ekspresi kaget. Sebelum tiba - tiba memundurkan kepala refleks karena bibir mereka hampir cipok.

Eh nempel.

"Mas kok udah bangun." ucap Caca random sambil mengelus rambut adek Zeyuna.

"Di kira gue apaan ngga bangun." kata Mark sebelum beranjak dari ranjang dan meregangkan otot-otot pinggang.

Berjalan mendekat ke arah meja nakas, mengambil hp iPhone setelah itu berbalik pergi menuju keluar kamar.

Meninggalkan Caca dengan gumanan lirih serta raut kebingungan.

"Bukan gitu ihh." guman Caca sambil masih mengelusi rambut adek.

Sebelum tiba-tiba pintu depan kamar terbuka kembali, muncul mas Mark tapi cuma kepala celingukan. Caca semakin di buat bingung, karena setelah itu mas Mark membuka pintu lebar dan pergi begitu saja.

"CA! ambilin handuk ijo!" Teriak mas Mark dari arah kamar mandi depan sebelah ruang kerja.

Membuat Caca turun dari ranjang buru - buru untuk mengambil handuk di gantungan sebelah lemari. Terus berjalan keluar kamar menuju mas Mark berada.

Tok
Tok

"Mas ini handuknya." ucap Caca setelah sampai di dekat pintu kamar mandi.

Tapi ngga ada respon sama sekali dari Mark, bikin Caca panik. Padahal kaya- knya belum ada semenit menutup pintu, masa udah mandi sih.

"Mas! ada di dalem kan?" tanya Caca sambil menggigit jari.

Sebelum pundak Caca berasa di tepuk singkat, membuat dia langsung balik badan dan ternyata mas Mark dong bahkan sekarang masih telfonan.

Ihh Caca kesel.

"Nih! handuknya. Caca kira udah masuk tau, Caca udah nungguin kaya orang bloon." ucap Caca dengan suara merengek, habisnya kesel.

Sedangkan Mark menatap handuk serat muka Caca bergantian dengan heran. Sebelum berbicara pada lawan telepon untuk mengakhiri panggilan.

"Udah gitu aja der, thanks." kata Mark sebagai penutup terus mengambil handuk tadi.

Menatap wajah kesal Caca sambil menggaruk kepala belakang.

"Perasaan gue ngga minta, dari tadi di balkon. Gue dateng karena kaget lo teriak."

Mas Mark ΩTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang