Gadis itu melangkahkan kakinya kedalam rumah yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Rumah itu sebenarnya cukup unik, karena berbentuk layaknya kapsul besi besar dan letaknya agak tersembunyi dari kota.
"Kau memang suka hewan ya.." ucap gadis itu takut-takut menatap dinding yang dipenuhi oleh kepala hewan dan karpet dari bulu singa.
"Yah begitulah, keluarga kami adalah keluarga pemburu." Ucap Aldio enteng membenarkan posisi salah satu kepala rusa kutub yang tertempel didinding. Gadis itu hanya mengangguk-anggukan pelan kepalanya dengan polos.
"Ohiya duduk dulu ya, mau minum apa? Aku ingin menghampiri ayah dulu.. ohiya rumah ini cukup hangat, kau bisa melepaskan wintercoatmu itu.." ucap Aldio dengan sopan mempersilahkan Riva duduk.
"Tidak usah repot-repot Al" ucap Riva melepaskan wintercoatnya, Aldio menerima wintercoat Riva dan menggantungnya di sisi belakang pintu, ia permisi untuk berjalan ke belakang meninggalkan Riva sendiri.
Gadis itu mulai menyenadakan hentakan kakinya, diam menunggu Aldio kembali. Namun yang ia dengar hanya seruan Aldio dari dalam rumah.
"Riv... bisa bantu aku?" Teriak suara dari dalam, tidak salah lagi itu suara Aldio.
"Apa Al?" Teriak Riva membalas sahutan Aldio barusan.
"Bisa bantu aku disini?" Suara itu kembali terdengar, Riva berdiri.
"Apa yang bisa kubantu?" Riva kembali membalas sahutan Aldio.
"Keluarkan aku dari jeratan ini.." Suara itu mendengus,
"Kau dimana?" Riva kini khawatir akan keadaan temannya itu.
"Didalam, bisa cepat sedikit?" Sepertinya suara itu tengah habis kesabaran. Nadanya meningkat.. Riva mengiyakan, gadis itu melangkah masuk lebih dalam kerumah.
"Riv? Disini..." Ujar Aldio dari ruangan tengah, Riva mulai memasuki ruangan hangat itu.
"Hmmmmpppfffttt..." Gadis itu tersentak ketika ada yang membekapnya dari belakang. Dan kurasa itu adalah kloroform pekat, dengan mudahnya gadis itu terlelap dalam tidurnya.
———–————***———————
(Riva Allegra)
Dimana aku? Dan Hey kenapa aku ada disini? Sial, dunia terus berputar-putar, terlalu pusing, sakit, sesak.
Aku menyadari bahwa tubuhku ini terikat oleh tali, tangan dan kakiku tak bisa kurasakan. Tenggorokanku kering, gatal.
Tolong...
Kata-kata itu bagai tertahan di tenggorokanku. Sepatah katapun tidak keluar dari bibirku. Hanya teriakan-teriakan semu batinku. Aku,,, tidak bisa bicara?!
"Akhirnya kau bangun nona kecil.." Kata sebuah suara berat diambang pintu. Aku menaikkan kepalaku, mencoba meneliti sosok yang berdiri tegap mendekatiku.
"Al? Apa kau yakin dia kekasih si manusia salju?" Teriak si suara besar menggelegar. Seseorang masuk dari ambang pintu dengan langkah gontainya.
"Apa aku pernah berbohong padamu yah?" Ucapnya yang kini berdiri dihadapanku. Itu.... Aldio?! Aku benar kan?! Yah? Lelaki besar itu ayah Aldio?
"Kalau begitu, mana si salju brengsek itu? Akan kubuat dia menjadi eskrim. Biar dia merasakan rasanya kehilangan." Lelaki besar itu mencengkeram daguku. Aku menatap matanya sinis.Mulutku masih tidak membiarkan suaraku keluar.
"Ohiya, kau ini bisu... Kapan efek obat ini akan berakhir Al?" Tanya lelaki besar itu, yang ternyata ayahnya Aldio.
"Sekitar setengah jam lagi.." Ucap Aldio.
"Baiklah kita tunggu sekitar setengah jam lagi, kalau monster itu belum datang juga. Kita eksekusi gadis kecil ini dan cari cara lain untuk menghabisi salju itu." Lelaki besar itu berjalan menuju ambang pintu.
"Kuharap kau tidak kepanasan gadis kecil.. Ayo Al.." Ucap lelaki itu memutar sebuah benda yang tertempel didinding kurasa itu adalah pengatur suhu. Sebelum ia keluar bersama Aldio. Kesadaranku masih belum pulih namun aku tahu, Devan dalam bahaya.
Devan... Aku minta maaf... Aku tahu... Kau benar... Aku salah.. Maaff,, kumohon jangan datang kesini. Kumohon kau pergi, dan melupakanku. Kumohon jangan datang..
Jantungku berdegup sangat kencang, suhu disini cukup panas untuk merebusku disini. Aku tahu, Aku akan mati ditempat ini. Aku harap, ia tidak datang kemari. Karena ini satu-satunya cara menebus kesalahanku.
Aku tahu, tadi siang adalah kesempatan terakhirku untuk memilih. Apa aku akan menyelamatkannya atau menyakitinya. Setiap orang takkan terpacu dengan kesempatan kedua, kesempatan ketiga atau kesempatan seterusnya. Setiap orang hanya akan bijak apabila diberi kesempatan terakhir. Dan tadi siang, aku melewatkannya. Aku memilih untuk menyakitinya..
Semoga, ia telah melupakanku. Semoga ia tak tau apa yang terjadi sebenarnya. Semoga ia tak datang kemari.
Ambang pintu terbuka, Anak buah Ayah Aldio dengan pakaian serba hitamnya.
"Tenang, aku hanya ingin menambahkan obat biusnya.." ucap lelaki itu kepada temannya yang berada diluar pintu. Aku mendengus, Silahkan saja buat aku overdosis disini.
Lelaki itu menutup pintu, dan berjalan mendekatiku. Jantung ini berdegup kencang ketika ia semakin dekat.
Ia kini berada dihadapanku, ia memajukan wajahnya tepat berada di telingaku.
"Tenanglah,,, Riva..." Suara itu.. Suara Devan? Lelaki itu membuka ikatan tali tambang yang selama ini mengikatku.
Aku berdiri terhuyung-huyung, efek obat bius itu masih terasa. Dan aku masih belum bisa menggerakan anggota tubuhku.
Lelaki itu menangkap tubuhku dan menggendongnya di punggungnya. Jujur, aku senang sekaligus khawatir.
Kami mulai mencari jalan keluar, anehnya kami tidak menemukan satupun anak buah Ayah Aldio.
Tubuhnya masih dingin, seperti saat pertama kali kami bertemu. Aku memeluknya lebih erat, aku tahu dingin. Tapi entah kehangatan apa yang kurasakan sekarang.
Devan... Hatiku benar-benar kacau, melihatnya datang dan menolongku.
"Hmm?" Dia mendengar batinku?
Aku minta maaf, Suaraku masih enggan keluar, tapi aku tahu.. ia mengerti.
"Tidak diterima.." jawabnya enteng. Aku menenggelamkan wajahku kedalam tengkuknya. Ia seketika tertawa ringan.
"Aku tahu itu bodoh, permintaan maafmu sudah kuterima jauh sebelum kau minta maaf. Sudah jangan menangis, aku bisa tambah meleleh dengan air matamu yang hangat itu.." Katanya tertawa ringan. Ia masih Devan yang dulu, Aku tahu itu.
Tak terasa kami baru saja melewati lorong dan 2 lorong lagi kami akan berhasil keluar dari rumah ini. Devan meraih gagang pintu untuk keluar dari lorong itu,
"Aaaahh..." Devan mengaduh, memegangi tangannya yang meleleh. Dan ini adalah kali pertamanya aku melihat ia meleleh. Sungguh, mengerikan.
"Ini jebakan Riv.." Ucapnya melihat beberapa anak buah Ayah Aldio berlari-lari kecil menghampiri kami.
Devan dengan cepat kembali membuka gagang pintu yang membuatnya meleleh tadi. Tak peduli pada tangannya yang rapuh itu. Ia berusaha lari dari para penjaga. Aku menenggelamkan wajahku kedalam tengkuknya lebih dalam lagi. Kuharap aku cukup ringan untuk dibawanya saat berlari.
—————————***—————————
A/n: haii,, btw maafkan aku kalo semakin absurdd... wahaha cie Aldio... terimakasih sebesar-besarnya pada semua yang sempet-sempetin baca (kalo masih ada yang baca hehe) btw menurut kalian bakal gimana?#abaikan aku..
Kritik dan saran selalu diterima ^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Story on Winter
Novela JuvenilIni kisah antara aku dan musim dingin. antara aku dan salju. antara aku dan dingin. antara aku dan dia. ya, ini kisah kita. Kita memang tidak mungkin bersatu Cinta kita tidak mungkin bersama tapi kita masih saling memiliki setidaknya sampai musim se...
