"Lo beneran mau pulang sendiri Ra?" Tanya Alysa kepada Aira yang tengah berjalan di koridor sekolahnya.
"Iya sa,aku juga mau ke toko buku bentar mau nyari novel." Ucap Aira karena memang ia berniat untuk membeli novel yang tengah di incarannya.
"Ehm yaudah,maaf ya ga bisa nemenin soalnya rumah lagi ada kakak aku juga." Ucap Alysa tak enak hati kepada Aira.
"Udah santai aja,kamu bukannya alergi sama buku ya?" Tanya Aira dengan tawa yang memenuhi mulutnya,ia hafal dengan kelakuan sahabatnya itu.
Alysa menggaruk lehernya yang tak gatal dan terkekeh pelan. Memang benar ia tak menyukai dengan aroma buku dan membaca deretan huruf yang membuatnya pusing.
"Yaudah gue pulang duluan ya. Hati hati di jalannya." Pamit Alysa yang akan berjalan ke arah parkiran.
Aira menganggukkan kepalanya perlahan,ia segera berjalan ke arah pintu gerbang dan segera memasuki angkot yang melewati toko buku di tengah tengah kota. Tangannya melihat ke arah jam tangannya,pukul 15.00 WIB masih ada waktu untuk pergi ke toko buku yang tak terlalu jauh dari sekolahnya.
Setelah sampai di depan perpustakaan nasional,ia segera masuk dan segera mencari buku yang di carinya. Tangannya dengan lincah menarik buku yang tengah ia cari. Sembari mencari ia juga membaca blurb beberapa novel yang membuat ia tertarik tanpa ragu ia akan membelinya.
Setelah menemukan novel yang di carinya dan juga beberapa buah novel yang menarik perhatiannya ia bawa ke arah kasir.
Kaki jenjangnya keluar dari pintu dan memilih mendudukkan tubuhnya di kursi halte tempat menunggu bus yang akan melewati depan rumahnya. Disini sangat jarang ada angkot sehingga mau tidak mau ia harus menaiki bus supaya sampai di toko buku.
Netranya menatap ke arah toko toko di depannya. Pandangannya terpaku melihat sebuah anak perempuan kecil yang tengah di gandeng oleh seorang lelaki paruh baya yang diyakini adalah ayahnya.
Terlihat dengan jelas wajah keduanya yang tengah tersenyum bahagia tanpa ada raut keterpaksaan dari raut wajah ayahnya. Aira yang melihat itu hanya tersenyum kecut,kapan ia bisa seperti itu dengan ayahnya? Sepertinya hanya angan angannya saja. Ayahnya takkan pernah mau pergi bersamanya,hanya sarapan bersama pun ayahnya memilih menyudahi daripada satu meja dengannya. Dalam hatinya terasa sakit, impiannya dari kecil hanya ingin mendapat kasih sayang dari ayahnya. Ia ingin di genggam oleh tangan besar milik ayahnya dan di lindungi layaknya putrinya yang lain namun sepertinya itu tidak mungkin.
Setelah beberapa saat ia tersadar jika ia sudah satu jam menunggu bus yang akan di tumpanginya namun bus itu tak terlihat dari pandangannya. Matanya melihat ke arah jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 17.15 WIB. Ia takut jika sampai malam tak bisa sampai di rumahnya dan akan mendapat amukan dari ayahnya.
Aira mengigiti bibirnya menandakan bahwa ia tengah khawatir kali ini. Ia merapalkan doa supaya keajaiban datang kepadanya. Selang beberapa saat ada suara deru motor yang berhenti di depannya.
"Pulang." Ucap lelaki itu yang masih duduk di jok motornya.
Aira bingung akan maksud di depannya. Ia tau siapa lelaki yang tengah duduk di motornya itu. Dia Leon,entah kebetulan atau kesengajaan yang mempertemukan keduanya.
"Eh?" Tanya Aira dengan kerutan di dahinya.
"Ayo pulang,gue anterin." Ucap Leon dengan wajah datar seperti biasanya.
"Ngga ah,nanti ngerepotin." Tolak Aira yang tak enak kepada Leon.
"Udah buruan,keburu hujan." Ucap Leon yang merupakan sebuah perintah.
Aira yang mendengar perintah tersebut segera beranjak dari tempat duduknya dan segera mendekati motor merah tersebut. Ia tak ingin membuat Leon marah kepadanya hanya karena ia membangkang. Ketika di rasa Aira telah nyaman duduk di jok belakang dan tangan Aira yang bertengger di perutnya ia segera menjalankan motornya perlahan membelah jalanan kota yang cukup lenggang.
Leon tersenyum tipis di balik helm full facenya,ia nyaman jika berada di samping Aira dan Aira juga merasakan hal yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Patah(On Going)
Fanfiction"Pergi kau pembunuh!!" "Dasar anak tidak berguna!!" "Saya tidak pernah memiliki anak seperti kamu!!" "Saya tidak sudi memiliki anak seperti kamu!!" "Lebih baik engkau mati!!" Lontaran kalimat kasar itu sudah terbiasa masuk ke dalam telinga Aira. Ga...
