Pagi ini tidak seperti pagi biasanya. Sekarang sudah pergantian musim dari musim kemarau menjadi penghujan. Seperti pagi ini,langit seakan tak ingin memberikan warna biru dan matahari menerpa bumi. Mendung,yap pagi ini sangat mendung.
Aira saat ini tengah berada di jalan dengan lelaki yang akhir akhir ini dekat dengannya. Leon,entah kebetulan atau di sengaja saat Aira keluar dari rumahnya tiba tiba ada Leon yang tengah melewati jalan depan rumahnya.
Dengan sedikit paksaan kini menjadikan Aira tengah duduk tengah di jok belakang motor merah milik leon. Sesekali Leon melihat wajah cantik Aira dari kaca spionnya,hingga tak sadar sudut bibirnya ikut terangkat menampilkan senyum tipis namun tak di sadari oleh Aira.
Aira memperhatikan di sekeliling jalanan Jakarta,banyak gedung gedung tinggi berderet di sekitar jalan. Ia berharap pagi ini tidak hujan sampai ia berada di sekolah.
Terlalu asik melihat sekeliling hingga Aira tak sadar jika mereka telah memasuki gerbang SMA Harapan. Seperti biasa riuh suara siswi siswi yang memekik melihat kedatangan mereka. Aira sebenarnya tak nyaman jika di lihat intens oleh banyak orang.
Seperti biasa,ketika mereka sampai Aira selalu mengucapkan terimakasih dan hanya di balas deheman kemudian di tinggalkan di parkiran sendirian layaknya orang hilang.
Aira menghembuskan napas pelan,kakinya melangkah menyusuri koridor mengabaikan bisikan bisikan yang masuk di dalam Indra pendengarannya.
Saat sampai di depan kelasnya hanya berisi beberapa orang karena saat ini masih terhitung pagi,ia sudah melihat Leon tengah menelungkupkan kepalanya di meja seperti biasanya. Kini netranya tengah melihat ke arah sahabatnya yang tengah sibuk menulis sesuatu. Langkah kakinya mendekat ke arah sahabatnya dengan hati hati hingga tak sadar jika ada seseorang yang berada di sampingnya.
"Dor!!" Teriak Aira mengagetkan Alysa hingga sang empu berjengit kaget.
Leon berjengit kaget ketika mendengar teriakan seseorang. Matanya menatap tajam kepada pelaku namun sang pelaku tidak menyadarinya. Mata tajam Leon terus mengamati wajah Aira dari samping yang kini tengah tertawa kencang menambah kadar kecantikannya.
Alysa menatap Aira dengan tatapan menghunus,mata sipit itu menatapnya tajam malah terlihat seperti tidak memiliki mata.
"Hahahaha Alysa kamu kaget ya hahaha." Ucap Aira dengan tawa menggelegar sembari memegangi perutnya yang sakit karena terlalu tertawa.
Alysa masih menatap tajam Aira tanpa ada niatan membalas ucapan Aira. Pipinya menggembung menandakan ia tengah kesal dengan bibirnya yang monyong beberapa cm itu mengalihkan pandangannya dari Aira dan kembali fokus pada buku catatannya.
Melihat itu sontak Aira menghentikan tawa kerasnya. Matanya melihat ke arah Alysa yang kini kembali sibuk mencatat pada buku bergarisnya. Aira segera duduk di samping Alysa dan kedua tangan kecilnya saling menggenggam satu sama lain.
Ada perasaan bersalah pada dirinya karena telah mengganggu Alysa yang tengah sibuk mencatat. Dengan tekat bulat akhirnya ia memanggil sahabatnya.
"Alysa." Ucap Aira dengan lembut.
....
"Alyssa ihh." Ucap Aira ketika tidak ada sahutan dari sahabatnya.
"Hmm." Balas Alysa dengan deheman karena jemarinya tengah sibuk mencatat.
Ketika ia ke rumah neneknya yang berada di Bogor, membuat tugas sekolahnya menumpuk. Banyak soal latihan maupun catatan yang belum ia kerjakan. Ia kini teringat pada pesan Aira bahwa pagi ini Pak Indra akan mengecek catatan beserta tugasnya pada pertemuan kemarin yang sialnya Alysa hanya mengerjakan soal hingga larut malam hingga matanya yang lelah karena mengantuk melupakan bahwa ia belum mencatat barang sedikitpun. Ia berniat ingin mencatat di sekolah dengan caranya berangkat lebih awal dari biasanya.
"Alysa maafin aku ya. Aku tadi cuma bercanda ihhh." Ucap Aira dengan tatapan sayu,ia takut sahabatnya marah kepadanya.
"Iya,udah dulu Ra gue lagi sibuk nyatet nihh!! Mana banyak lagi,dasar pak Indra kebangetan,tangan gue udah capek lagi." Sungut Alysa sembari mencatat pada bukunya.
"Emang kamu semalem ga nyatet sa?" Tanya Aira kepada Alysa.
"Gue semalem cuma ngerjain soal, Maya di gue udah ngantuk soalnya kemarin pulang dari Bogor pas isya." Ucap Alysa menghentikan acara menulisnya.
Aira yang mendengar itu merasa iba kepada sahabatnya,pasti capek sekali karena baru pulang dari Bogor langsung mengerjakan tugas dengan jumlah yang banyak. 20 Soal fisika beserta caranya cukup membuat anak kelas IPA 1 menjambak rambutnya karena terlalu banyak soal.
"Yaudah sini aku bantuin,kamu istitahat dulu aja." Ucap Aira sembari menarik buku milik Alysa.
Alysa membelalakkan matanya mendengar ucapan Aira tadi. Ia tak enak jika harus merepotkan sahabatnya itu. Tangannya menghentikan buku yang tengah di tarik Aira. Dahi Aira mengernyit ketika Alysa menahan buku itu.
"Udah ga udah Ra. Lo pasti juga capek kan semalem juga ngerjain tugas." Ucap Alysa tak enak.
Aira yang mendengar itu hanya menyunggingkan senyum manisnya, sahabatnya selalu seperti itu. Tak mau jika Aira membantunya.
"Yaudah kalo gamau. Ga usah ngomong sama aku lagi!" Ancam Aira sembari melihat ke arah lain.
Alysa yang mendengar ancaman itu langsung melebarkan matanya,ia tak menyangka g
Sahabatnya akan mengancam seperti itu. Alysa tak bisa jika tak berbicara kepada Aira,lantas siapakah yang akan mendengarkan suara cempengnya?
"Iya iya,ini. Sok tulisan yang rapi ya. Gue mau tiduran dulu capek nih." Ucap Alysa kembali menyodorkan bukunya kepada Aira.
Aira yang mendengar itu lantas tersenyum dengan lebar, akhirnya sahabatnya menurutinya. Ia menulis catatan di buku tersebut dengan rapi karena memang tulisannya yang rapi dan juga cepat kala menulis.
Aira tak menyadari jika mata tajam di belakangnya sedari tadi menatapnya. Leon masih betah menatap punggung Aira yang kini sibuk mencatat tugas milik Alysa.
"Baik." Gumam Leon.
KAMU SEDANG MEMBACA
Patah(On Going)
Fiksi Penggemar"Pergi kau pembunuh!!" "Dasar anak tidak berguna!!" "Saya tidak pernah memiliki anak seperti kamu!!" "Saya tidak sudi memiliki anak seperti kamu!!" "Lebih baik engkau mati!!" Lontaran kalimat kasar itu sudah terbiasa masuk ke dalam telinga Aira. Ga...
