Semua orang dibuat panik, karena Kirana tiba-tiba jatuh pingsan. Hal tersebut terjadi ketika Kirana dan Kaivan yang mengjungi rumah kedua orang tuanya, serta menikmati makan malam. Kirana yang memang sejak awal terlihat kurang sehat, mulai merasa mual dan pada akhirnya jatuh tidak sadarkan diri ketika menguras isi perutnya di dalam kamar mandi. Untungnya, Kaivan memang mengikuti Kirana menuju kamar mandi, hingga bisa meminimalisir hal buruk yang kemungkinan terjadi.
Kini, Kaivan, Rama dan Helga tengah menunggu hasil pemeriksaan yang tengah dilakukan okeh para dokter. Ketiganya tengah berada di rumah sakit terdekat dari kediaman Mahaswara, di mana Kirana mendapatkan penanganan. Sebenarnya, Rama bisa saja memanggil dokter pribadi keluarga mereka untuk memeriksa kondisi sang menantu. Namun, Kaivan yang rupanya panik, segera membawa Kirana ke rumah sakit, karena berpikir ada hal buruk yang terjadi pada sang istri.
Sebagai orang tua, Helga dan Kaivan sama sekali tidak pernah melihat Kaivan bertingkah seperti itu. Sadar atau tidak kehadiran Kirana di dalam hidup Kaivan memang membawa dampak begitu besar. Karena itulah, kini keduanya berdoa agar tidak ada hal buruk yang terjadi pada Kirana. Jika sampai ada hal buruk yang terjadi, bisa-bisa Kaivan akan lepas kendali. Tak lama, dokter yang memeriksa kondisi Kirana ke luar dari ruang UGD dan bertanya, "Siapa wali Nyonya Kirana?"
Kaivan maju dan menjawab, "Saya. Saya suaminya."
Dokter itu melepas masker yang ia kenakan. Ia tersenyum ramah dan berkata, "Selamat Tuan, Anda akan menjadi seorang ayah."
Ucapan sang dokter tentu saja membuat Kaivan dan kedua orang tuanya merasa sangat bahagia. Ternyata, apa yang mereka harapkan menjadi kenyataan. Kini Kirana hamil, dan itu artinya akan segera hadir seorang penerus baru di dalam kediaman Mahaswara. "Lalu bagaimana kondisi istriku?" tanya Kaivan setelah sadar dari keterkejutan yang terasa sangat membahagiakan itu.
"Nyonya berada dalam kondisi yang baik-baik saja, begitupula dengan janin dalam kandungannya. Hanya saja, tolong pastikan untuk ke depannya Nyonya Kirana mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan tidak terlalu lelah. Apalagi di trimester pertama yang riskan ini," jawab sang dokter.
Kaivan mengangguk mengerti. Rama dan Helga mengajukan beberapa pertanyaan lagi mengenai kehamilan menantu mereka, sementara Kaivan tidak ingin membuang waktu lebih lama. Ia beranjak masuk ke dalam ruang rawat dan melihat Kirana yang sudah kembali sadar. Kaivan menahan Kirana untuk tidak bergerak dari posisinya, dan membuat Kirana mengeluh, "Aku ingin duduk."
Pada akhirnya, Kaivan menuruti keinginan Kirana dengan membuat istrinya itu duduk di ranjangnya. "Apa aku pingsan?" tanya Kirana.
Kaivan mengangguk. "Kau muntah, lalu pingsan. Karena itulah, aku membawamu ke rumah sakit. Takut jika ada hal buruk yang terjadi padamu," ucap Kaivan memasang ekspresi serius.
Melihat ekspresi itu, Kirana pun merasa tegang. Ia takut jika pemeriksaan dari dokter menyatakan jika dirinya ternyata memiliki penyakit berbahaya yang selama ini tidak ia ketahui. Kirana berdeham, mengenyahkan pikiran macam-macam tersebut sebelum bertanya, "Apa yang terjadi? Apa ada hal buruk?"
Kaivan lalu mengusap pipi Kirana dengan lembut. Jelas membuat Kirana merinding bukan main. Meskipun mereka sudah pernah melalui malam panas di mana kulit mereka bersentuhan secara langsung tanpa pembatas, tetapi Kirana sama sekali tidak bisa terbiasa akan kontak fisik tersebut. Apalagi, akhir-akhir ini, detak jantung Kirana selalu tidak stabil ketika berhadapan dengan Kaivan.
Kirana sadar, bahwa kini Kaivan sudah memiliki ruang tersendiri di dalam harinya, tetapi berusaha untuk terus menepis fakta tersebut. Hal itu terjadi mengingat jika dirinya hanyalah pengantin pengganti yang sewaktu-waktu akan tersingkir ketika pengantin yang sesungguhnya hadir. Kirana tidak ingin melakukan kesalahan yang akan membuat dirinya sendiri menderita. Sudah cukup luka yang ia miliki selama ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Pengantin Pengganti
Romansa[Karena mengandung unsur DEWASA maka SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE. FOLLOW SEBELUM MEMBACA. Biar nyaman bacanya😄] Di usianya yang mencapai dua puluh lima tahun, Kirana belum memikirkan pernikahan. Ia masih sibuk sebagai seorang desainer yang tengah n...
