Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ramen di hadapan Miko memanglah cukup menarik dengan rasa kaldu yang gurih, tapi tidak semenarik gadis di seberangnya.
Mata elang Miko melirik gadis asing itu beberapa detik sekali. Gadis itu makan dengan sangat amat anggun.
Lirikan entah keberapa kali Miko tiba-tiba terbalas. Miko langsung membuang mukanya ke hadapan lain. Malu ketahuan memperhatikan gadis itu sejak tadi. Miko buru-buru menghabiskan ramennya dan segera pergi dengan telinga memerah.
Seminggu kemudian, dia bertemu kembali dengan gadis itu di tukang batagor. Pandangan Miko dan gadis elegan itu bertemu satu sama lain. Miko awalnya kaget, tapi ia hanya mengangguk kecil dan tersenyum.
Untungnya gadis itu sudah mendapatkan pesanannya, sehingga tidak perlu rasa canggung sambil menunggu pesanan.
Setelah gadis itu pergi, Miko memperhatikan gadis itu sedang menengok kanan kiri untuk menyebrang, berlari kecil ketika jalan sudah sepi, kemudian berjalan sambil memakan batagornya.
Menurut Miko gadis itu sangat imut dan elegan. Namun, pandangannya mengisyaratkan misteri didalamnya. Miko bersumpah kalau dia bertemu dengan gadis itu lagi, dia akan mengajaknya kenalan.
Dan pertemuan ketiga terjadi tiga hari kemudian. Kali ini berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Kopi yang dibawa Miko tersenggol oleh gadis itu. Menyebabkan noda hitam pada kemeja putih Miko dan juga kain yang dibawa oleh gadis itu.
"Aduh, astaga. Maaf Pak, Maaf," ucapnya dengan nada bersalah sedangkan Miko malah tersihir dengan suara lembut gadis itu.
Miko baru tersadar ketika gadis itu memegang kemejanya yang basah. Kulit bapak nggak terbakar kan?"
"Ah, nggak kok. Kopi ini sudah nggak terlalu panas." jawab Miko tetapi tidak membuat wajah khawatir di gadis itu menghilang.
"Kemeja bapak biar saya ganti. Apakah bapak masih ada pertemuan penting?" tanya gadis itu cemas.
"Nggak usah, nggak apa-apa. Saya juga salah karena nggak lihat kamu bawa banyak kain ini. Saya ganti semua kain ini, ya?"
"Eh, nggak usah, Pak. Seharusnya saya yang ganti kemeja bapak." Miko sadar makin banyak orang yang memperhatikan mereka. Miko juga sadar kalau gadisnya semakin pucat.
"Saya minta nomor kamu saja kalau begitu," ucap Miko karena tahu kalau begitu terus tidak akan ada habisnya.
Miko menyerahkan ponselnya ke gadis itu kemudian memunguti kain putih yang dibawa gadis itu.
Seusai terkumpul semua Miko menyerahkannya ke gadis itu dan gadis itu menyerahkan ponselnya.
"Aduh, terima kasih, Pak. Maaf juga. Bapak bisa hubungi saya kapan pun." Miko menatap ponselnya dan menarik kedua ujung bibirnya ketika mengetahui nama perempuan ini.
"Nama saya Miko. Salam kenal, Milka."
Fin
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Author Note: Jangan di hapus dulu dari library karena masih ada bonus chapter. xixixixi.