🧚✨
Haiii guys, ini pertama kali nya aku buat cerita hehe.. semoga kalian suka ya sama cerita ini, dan bisa baca dari part 1 sampe habis. Jangan lupa di vote sama komen yaa🥰
Cerita ini murni dari pikiran aku sendiri, kalo ada sedikit yang sama aku mohon maaf ya..
“Rumah adalah tempat di mana teriakan pagi terasa lebih akrab dari alarm.”
Pagi hari, di kediaman rumah Atmaja.
"KILAA, BANGUN!"
Teriakan itu menggema dari lantai bawah, tepat dari arah dapur. Suaranya nyaring, penuh semangat, dan..sudah sangat familiar.
Naqilla Farasya Atmaja cewek cantik berlesung pipi dengan pipi bulat yang selalu bikin orang gemas menggeliat malas di balik selimutnya. Hari ini adalah hari pertamanya masuk SMA Garuda, sekolah baru yang katanya sih keren banget. Tapi ya tetap saja, kasur selalu lebih menggoda dari apa pun.
"Hmm lima menit lagiii, Ma.." gumam Naqilla sambil menarik selimut sampai ke hidung.
Siska Anastasia yaitu mama nya pun melihat ke arah anak tangga yang masih belum menemukan anaknya turun, sontak mengumpulkan energinya lagi.
Dan..
"KILA! Mau Mama siram nih beneran!? Air es ada di kulkas tinggal tuang!"
Detik itu juga, Naqilla sontak duduk tegak. "Iya iya iyaa!! Kila udah bangun! Bahkan udah kentut!"
Dari ruang makan terdengar tawa.
Naqilla pun langsung turun menuju ruang makan.
"Pagi-pagi udah pamer kentut," celetuk suara laki-lakinya itu Satria Danu Atmaja, Abang sekaligus penggoda utama dalam hidup Naqilla.
"Ih apaan sih, Bang! Kentut juga ekspresi kejujuran, tau!" balas Naqilla dari atas tangga, lalu buru-buru turun.
Di meja makan, keluarga kecil itu sudah berkumpul.
Atmaja, kepala keluarga sekaligus papa Naqilla dan Satria, sedang menyuap nasi goreng buatan istrinya sambil tersenyum mendengar ocehan anak-anaknya.
"Pagi, Ma, Pa, Bang... walau abang-nya skip aja deh," sapa Naqilla sambil duduk, lalu dengan cepat mencomot telur dadar dari piring kakaknya.
"Heh, itu punya Abang, Kil!" protes Satria.
"Punya Abang? Yang masak Mama. Hak milik belum berpindah," jawab Naqilla santai.
Siska terkekeh kecil. "Kalian ini, belum sarapan aja udah perang mulut."
"Ya mau gimana lagi, Ma. Pagi-pagi disambut kentut, terus disapa pake pencurian telur. Hidup Abang berat," keluh Satria drama.
"Abangmu tuh ada-ada aja," ucap Atmaja pelan, menatap putra sulungnya yang kini sibuk rebutan sambal dengan adiknya.
Tapi di balik kehebohan kecil itu, ada kehangatan yang nyata. Keluarga Atmaja memang begitu—ramai, sedikit rusuh, tapi penuh sayang. Walau dikenal sebagai keluarga terpandang, mereka tidak pernah membesarkan diri dengan harta. Nilai kesederhanaan dan kebersamaan selalu jadi nomor satu.
"Cepetan habisin sarapan kalian, jangan sampe telat hari pertama sekolah," ujar Atmaja sambil menatap arloji.
"Tenang, Pa. Ga bakal telat. Kecuali Kila yang make up-nya setengah jam sendiri," sindir Satria.
"Bang, make up Kila natural, beda sama hidup Abang yang penuh kepalsuan," balas Naqilla datar.
Siska tertawa keras. "Ampun deh kalian, ada aja bahan ribut tiap hari."
Setelah sarapan selesai, mereka semua bersiap. Naqilla dan Satria berjalan ke depan rumah. Supir keluarga sudah siap mengantar, tapi...
"Kila gak bareng abang." ujar Naqilla cepat. "Masih kesel, pagi-pagi dikatain anak pungut."
"Wah, itu kan bener," sahut Satria sambil nyengir. "Dulu Papa nemu lo di kardus Indomie depan rumah, masih bawa popok."
"ABANGG!"
Satria pun tertawa puas sambil kabur ke arah motornya.
Atmaja menggeleng pelan, menatap dua anaknya dengan tatapan geli. "Tiap hari kayak sinetron komedi."
Siska tersenyum sambil merapikan tas anak perempuannya. "Nanti di sekolah jangan lupa senyum ya, jangan jutek. Ingat, hari pertama tuh penting buat kesan."
Naqilla mengangguk. "Iya, Ma. Doain ya..."
Siska mengecup kening anak gadisnya. "Mama doain selalu. Kamu pasti bisa."
Di balik kehebohan kecil pagi itu, sebenarnya hati Naqilla berdebar.
Bukan cuma karena hari pertama.
Tapi karena perasaan asing yang muncul sejak ia kembali ke Jakarta..
Dan ia belum tahu, bahwa hidupnya akan berubah sedikit demi sedikit karena sekolah yang satu ini.
°°°°
Naqilla duduk di kursi belakang mobil, menatap keluar kaca jendela sambil menggigit ujung sedotan minumannya. Jalanan Jakarta yang ramai mulai terasa akrab di matanya. Mobil-mobil berseliweran, motor saling salip, dan gedung-gedung tinggi berdiri seperti barisan cerita baru yang menunggu untuk dibaca.
Tapi... di balik semua itu, dadanya terasa penuh.
Dia menarik napas panjang, lalu membuka jendela sedikit. Angin pagi menyentuh wajahnya lembut.
"Jakarta.. aku balik lagi."
Pikirannya melayang ke Bogor. Ke rumah nenek. Suara kakeknya yang selalu memanggilnya 'Ndut' setiap kali ia habis makan dua piring nasi. Wangi dapur nenek setiap pagi. Suasana yang tenang, jauh dari hiruk pikuk kota.
Tapi di sisi lain.. ia juga tahu, sudah waktunya kembali.
"Asya."
Sebuah suara menggema di dalam dirinya.
Suara kecil yang pernah ia dengar... dulu.
Samar. Tapi nyata.
"Asya, jangan tinggalin aku ya."
Ia masih ingat kalimat itu.
Waktu mereka masih kecil. Waktu mereka duduk berdua di bawah pohon mangga belakang rumah tetangga. Waktu dia pergi tiba-tiba, dan tidak pernah sempat mengucapkan salam perpisahan.
Bahkan, ia tak pernah tahu nama asli anak laki-laki itu.
Yang ia ingat, ia memanggilnya "io."
Dan io memanggilnya "asya."
Nama panggilan kecil mereka, entah siapa yang pertama memulai.
Naqilla menghela napas panjang. Matanya kembali menatap jalan.
Ia tidak tahu kenapa kenangan itu muncul lagi. Tapi entah mengapa, ia merasa seperti sedang berjalan ke arah cerita yang belum selesai.
Dan mungkin... SMA Garuda adalah tempat di mana semua akan dimulai lagi.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAQILLA [ ON GOING ]
Humor"Kak zio kenapa sih gasuka sama kila?" "Bisa gak sih berhenti manggil gua zio" "Emang kenapa sih?" "Bukan urusan lo, kil" "Kak, kila nebeng boleh ya?" "Ga" "Awas loh suka nanti sama kila" "Gaakan pernah!" ____ "Kila, gue...
![NAQILLA [ ON GOING ]](https://img.wattpad.com/cover/268626670-64-k592559.jpg)