Naqilla - 04

2K 103 1
                                        


🧚✨

Di kelas Satria...

"WOI GAIS! GUA PUNYA BERITA PANAS NIH!!"
Teriakan seseorang dari depan pintu kelas sontak membuyarkan suasana.

"Apaan sih ribut banget, Jamal."
"Berisik, bego!"

"Heh! ini penting, bro! Murid baru, cewek..sumpah, cakepnya kebangetan!" ujar Jamal dengan napas ngos-ngosan seolah baru lari dari mimpi indah.

Satria langsung noleh. "Ha? Murid baru?"

"Gue serius. Gue doain tiap malem biar ada cewek cakep masuk sini, dan hari ini doa gue dikabulin, men."
Jamal menepuk dadanya bangga.

"Buset. Niat banget lu, bro" celetuk Arka dari belakang Satria.

"Udah-udah, gas gue deketin. Siap-siap jadi calon mantu emak gue!" lanjut Jamal sok pede.

"Informasi gak penting," gumam seseorang dari pojokan kelas, malas.

"Yailah bos, lu aja ntar juga ikutan naksir," balas Jamal sambil nyengir.

"Heh, Jamaludin."
Suara dingin itu datang dari arah meja guru. Seorang cowok duduk santai di sana, kakinya selonjoran, satu tangan menyangga dagu.

"Lu bisa diem ga sih? Gosip doang yang lu bawa."

Siapa lagi kalau bukan Kenzio si dingin, si cuek, si cowok yang gak gampang deketin siapa pun. Duduk di sebelahnya ada Arka, si sarkas yang jago debat. Di pojokan, Arsen, yang hobi bercanda tapi diam-diam pengamat jitu. Mereka bertiga adalah teman-teman terdekat Satria, si keponakan pemilik sekolah.

"Eh, eh. Ada guru mau masuk tuh," bisik ketua kelas panik.

Satria langsung berdiri. "Kuy. Kantin sekarang."

"Gaspol."
"Gue ikut."
"Gue juga laper," sambung yang lain.

Mereka pun melangkah keluar kelas… tepat sebelum suara familiar meneriaki mereka dari ujung koridor.

“KENZIO! SATRIA! ARKA! ARSEN! MAU KE MANA KALIAN!?”

Pak Roni, guru matematika yang sudah nyerah dengan kelakuan keempat murid itu.

"Bolos, Pak" jawab Kenzio datar, bahkan tanpa menoleh.

"Iya, Pak. Nanti kalo saya pingsan belajar di kelas, Bapak yang tanggung jawab, ya," timpal Arsen santai.

"Terserah kalian, saya sabar kok. Tapi jangan nyesel kalo nilai jeblok!" seru Pak Roni sambil memijit pelipis.

"Udah pinter, Pak!"
Mereka pun tertawa dan kabur.

Di kantin...

"Huft, untung gak dikejar," ujar Arsen sambil duduk.

"Lu tuh ya, bisa gak sekali aja gak mancing marah guru?" sindir Arka, nyuap nasi goreng.

"Eh, gak semua pahlawan pake jubah. Kadang pake mulut yang bawel," sahut Arsen santai.

Satria tertawa. "Udahlah, yang penting kita selamat sampe sini. Gue laper parah."

Sementara ketiganya ribut sendiri, Kenzio hanya duduk diam, menatap kosong ke arah luar kantin.

"Halo? Bang? Kok lo diem aja?" tanya Arsen sambil melambaikan tangan di depan wajahnya. "Mikirin cicilan rumah?"

Kenzio menghela napas, pelan. Tidak menjawab.

"Ah udah jelas. Ini sih gara-gara si Asya, ya kan?" sindir Satria.

Mereka tahu, Kenzio punya satu nama yang masih tersimpan di hatinya—Asya, teman masa kecilnya yang menghilang tanpa jejak. Bukan cinta monyet biasa, tapi sahabat bermain yang dulu mengisi harinya. Tiba-tiba menghilang, dan tak pernah kembali.

Sampai sekarang pun, Kenzio masih sering mencari... walau samar.
Ia tak tahu seperti apa wajah Asya sekarang. Semua tentangnya sudah kabur dari ingatan kecuali nama panggilannya.

'Asya'

"Hadeh... galau mulu, bro. Awas kesambet," celetuk Arka sambil nyengir.

"Diem, lu" balas Kenzio, suaranya berat tapi tenang.

Tapi, siapa sangka?
Hari ini, nama yang ia simpan diam-diam itu, sedang duduk tak jauh dari mereka.
Di kelas lain, seorang gadis bernama Naqilla sedang menata ulang hidup barunya.

Tanpa mereka sadar, takdir sudah mulai mempertemukan mereka.
Sedikit demi sedikit.

“Beberapa kenangan masa kecil memang pudar.. tetapi rasa kehilangan yang tertinggal, tetap terasa nyata.

TBC.

NAQILLA [ ON GOING ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang