Naqilla - 08

1.8K 87 0
                                        

🧚✨

Parkiran sekolah menjelang sore tuh punya aroma khas. Campuran dari debu, suara motor knalpot berisik, dan anak-anak yang baru bebas dari "Penjara Pendidikan."

Naqilla berdiri sambil mengipasi dirinya pakai buku. Matahari masih terasa sangat panas walau udah lewat jam tiga. Beberapa anak lain ribut menyalakan motor, ada yang ngeluh helm-nya panas, ada yang panik karena kunci motornya entah ke mana.

"Aku kayaknya bakal meleleh," keluh Naqilla sambil ngelap keringat pakai ujung kerah seragam.

Tak lama kemudian, Satria datang sembari menyodorkan botol minum.
"Minum dulu, bocah Bogor,” katanya.

Naqilla nerima, lalu nyeruput airnya sambil duduk di jok belakang motor Satria.

"Masih inget rasa panas Jakarta?" tanya Satria sambil masang helm.

Naqilla menangguk pelan. "Inget. Tapi dulu Kila ngga peduli. Sekarang, Jakarta kayak oven disuruh nyambut tamu."

Satria ketawa pendek. "Selamat datang kembali di oven yang disuruh nyambut tamu."

Setelah siap, mereka menaiki motor. Satria yang nyetir, Naqilla di belakang.

"Jangan pegang pundak gue!" kata Satria.

"Terus Kila pegangan apaaa? Masa helm Abang?" balas Naqilla kesal.

"Tangan lo jangan gerak-gerak! Nanti motor oleng!"

"Yaa maaf, kaki Kila pegel, masa harus duduk bersila?!"

Satria mendecak. "Kenapa sih lo ribet banget?"

"Karena Kila adek Abang. Emang tugas adek tuh ngacak-ngacak hidup kakaknya."

Satria tak bisa menyangkal itu. Karena dalam hati kecilnya, dia tahu ribetnya hidup dengan adiknya itu justru bikin hidupnya berasa lebih menyenangkan.

Sepanjang jalan, Naqilla banyak terdiam. Bukan karena ngambek. Dia cuma.. menikmati. Kota yang dulu cuma ia lewati saat libur, sekarang jadi rutinitas lagi.

Motor melaju pelan saat mereka melewati taman kecil. Naqilla menunjuk sambil setengah teriak.

"Ituuu! taman yang dulu kita pernah main layangan!"

Satria ngelirik sebentar. "Iya. Dan layangannya nyangkut di kabel PLN."

Naqilla tertawa, keras sekali sampai Satria harus ngerem pelan.

"Lo dulu nangis tiga jam karena itu," tambah Satria.

"Kila sedih bukan karena layangannya. Tapi karena Abang bohong. Katanya bisa panjat tiang listrik."

"Ya masa gue naik? Mau mati muda?"

Mereka tertawa berdua. Tawa yang bukan sekadar lucu, tetapi tawa yang disimpan bertahun-tahun. Tawa yang sempat hilang karena waktu dan jarak.

"Ada tawa-tawa yang nggak butuh alasan. Cuma butuh orang yang tepat untuk diajak pulang ke kenangan."

Sesampainya di depan rumah

Satria berhenti di depan rumah. Rumah mereka masih sama. Halaman kecil di depannya masih bersih. Ada bangku kayu di teras, tempat mereka dulu sering makan mie instan tengah malam.

Naqilla turun duluan, berdiri memandangi rumah itu sejenak. Matanya berkaca-kaca.

"Lama ya Kila nggak ngeliat rumah ini dari deket."

Satria ikut turun, ngelepas helmnya.

"Gue juga lama nggak ngeliat rumah ini... rame."

Naqilla nyengir kecil. "Yaa maaf kan dulu dititipin."

NAQILLA [ ON GOING ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang