Naqilla - 03

2.1K 107 0
                                        


"Baiklah, silahkan kamu duduk di sebelah Bianca, ya." ucap Bu Indri sambil menunjuk baris kedua dari depan.

Naqilla tersenyum kecil, lalu melirik ke arah yang ditunjuk. "Maaf, Bu.. yang mana ya Bianca?" tanyanya sopan.

Seorang siswi mengangkat tangannya sambil tersenyum lebar. "Sini, sini!" katanya ramah.

"Nah, itu Bianca. Silakan duduk," lanjut Bu Indri.

"Baik, terima kasih, Bu" balas Naqilla, kemudian berjalan pelan ke kursinya.

Saat duduk, Bianca langsung menyambutnya dengan senyum yang sama cerahnya seperti tadi pagi.

"Hai! Kita ketemu lagi," ucap Bianca sambil sedikit mencondongkan badan.

Naqilla mengenali wajahnya seketika. "Eh iya! Kamu yang tadi anterin aku ke kantor, kan? Wah, kebetulan banget bisa sekelas" sahutnya senang.

Bianca mengangguk mantap. "Kayaknya emang udah jodoh deh duduk bareng gue."

Naqilla tertawa kecil. "Aku Naqilla Farasya Atmaja. Panggil aja apa yang kamu nyaman, ya."

Bianca membulatkan mata. "Gue udah tau, barusan lo perkenalan di depan, inget?" godanya sambil mengangkat alis satu.

"Hehe iya juga, ya"  sahut Naqilla malu-malu, menunduk sedikit.

"Gue Bianca Stella Abraham. Panggil aja Bianca, Bi, atau Bibi juga boleh, tapi jangan 'tante' ya" canda Bianca sambil menjulurkan tangan.

Naqilla menyambut uluran itu dengan senyum lebar. "Salam kenal, Bi."

Di luar jendela, langit Jakarta mulai cerah.
Di dalam kelas, dua anak perempuan baru saja menemukan satu hal yang mungkin akan jadi awal dari banyak cerita, teman pertama di tempat baru.

Bianca melirik ke arah depan kelas, lalu berbisik pelan, "Lo dari tadi diliatin satu kelas, tau gak?"

Naqilla memiringkan kepala. "Hah? Maksudnya?"

"Ya... lo tuh cantik, Kil. Gak heran semua orang penasaran."

Naqilla menggeleng sambil tertawa pelan. "Enggak ah, biasa aja. Mungkin karena aku murid baru aja, jadi diliatin."

Bianca menyikut pelan lengan Naqilla. "Yakin bukan karena cantik? Sumpah, tadi pas lo masuk, ada yang nyenggol temennya terus bilang"
'Anjir, tuh cewek cakep banget.'

Naqilla menutup wajahnya pakai buku. "Aduh.. malu banget, Bi."

"Biasa aja, ntar juga lo terbiasa jadi pusat perhatian," sahut Bianca santai.

Naqilla cuma bisa tertawa kecil. Walau sedikit gugup, ia merasa lega bisa duduk di samping orang seperti Bianca—ramah, terbuka, dan nggak bikin canggung.

Bel istirahat belum berbunyi, tapi pelajaran belum juga dimulai karena Bu Indri keluar sebentar untuk rapat mendadak. Suasana kelas jadi lebih bebas, beberapa siswa mulai ngobrol sendiri-sendiri, ada juga yang sibuk membuka bekal diam-diam.

Bianca mencondongkan badannya ke arah Naqilla lagi.

"Ntar istirahat bareng gue ya. Gue kenalin ke temen-temen yang asik. Tapi hati-hati ya..."

"Hati-hati kenapa?"

"Karena gak semua temen itu temen," jawab Bianca sambil nyengir.
"Ada juga yang hobi cari masalah kalau liat yang baru dan bersinar."

Naqilla terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. "Siap, Kapten. Aku udah cukup kenyang pengalaman di sekolah lama soal yang begituan."

Bianca tersenyum. "Good. Berarti lo bakal tahan banting di sini."

“Kadang, yang paling menenangkan bukan tempat baru... tapi orang pertama yang bikin kita ngerasa gak sendirian di dalamnya.”

TBC.

NAQILLA [ ON GOING ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang