Naqilla - 07

1.8K 106 0
                                        


🧚‍♀️✨

"MAKANNNNNNNNNNNNNNNNN!!!"
Teriakan Arsen membuka babak baru kekacauan di meja pojok kantin itu.

"Astaga Kak Arsen! Kakak mau manggil tentara apa gimana sih?" omel Natasya sambil mengelus dada nya.

"Gua cuma pengen bakso gua nambah sendiri gitu loh. Siapa tau Tuhan kasih mukjizat," jawab Arsen dengan ekspresi sok sedih sambil menatap mangkok kosongnya.

"Tapi ternyata... Tuhan kasihnya tagihan, bukan bakso tambahan."

Naqilla terkekeh pelan, merasa senang bisa ikut dalam lingkaran yang ramai tapi terasa hangat seperti keluarga itu. Rasanya seperti main ke rumah tetangga yang nggak ada batas antara tamu dan tuan rumah. Semua bebas ngomong, bebas ketawa.

"Kalian tuh rame banget ya," ucap Naqilla sambil mengaduk-aduk es krim stroberinya.

Naqilla tersenyum, sambil menatap satu per satu wajah di sekelilingnya.
Ada kehangatan dalam kekacauan kecil itu.

"Kadang, rumah itu bukan tempat... tapi orang-orang yang bikin kamu pengen pulang."

"Eh Kil," panggil Bianca tiba-tiba.

"Gue tuh udah kepo dari tadi... Gimana rasanya sekolah bareng Kak Satria?"

Naqilla langsung menatap Satria sambil pura-pura meringis.
"Hmm... kayak hidup di dua semesta. Di rumah dia jadi Abang, di sekolah dia jadi tembok Berlin."

"Heh maksud lu apa?" seru Satria tak terima.

"Ya tembok." Naqilla langsung menyengir tanpa merasa bersalah sedangkan sang empu merasa kesal mendengar jawaban adiknya itu.

"Lu diem bae ngapa bang?" senggol Arka kepada Satria.

"Gue mikirin satu hal," ucap Satria kepada Arka dan Arsen

"Apa tuh?"

Satria menoleh ke arah adiknya yang sedang mengusap es krim yang meleleh di tangan.

"Kayaknya... sekarang gue ngerti kenapa bokap nyokap nyuruh dia balik ke Jakarta."

"Karena kangen?" tebak Arka.

"Bukan cuma itu," jawab Satria pelan.

"Karena rumah kita butuh suara dia lagi."

Suasana sempat diam sejenak.
Ada keheningan yang... bukan canggung, tapi justru nyaman.

"Terkadang, suara tawa seseorang bisa mengisi ruang kosong yang bahkan kamu tidak sadar pernah ada."

Naqilla menatap abang nya sambil mengernyit.

"Lagi nyusun puisi ya, Bang?"

Satria melotot. "Lagi menyentuh jiwa, ngerti ngga sih?"

"Dikit," jawab Naqilla datar.

"Eh gue udah kenyang, tapi kayaknya masih bisa muat satu piring kentang goreng lagi sih," ucap Arka sambil menatap dompetnya.

"Kak Arka, kalau dompet Kakak bisa ngomong, dia pasti udah minta ampun kali," ucap Natasya.

NAQILLA [ ON GOING ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang