PART 5 : INSIDEN

51 9 0
                                        

Sebelum dini hari menjadi pagi,
aku berangan mendengarkan napasmu
perempuan berjantung rembulan,
mahir menidurkan badai dengan kata kata yang menenangkan.

Sangka ini melahirkan ribuan anak danau di mataku tempat tata surya berkaca,
menerka jumlah denyut di kedalaman duka,
mengukur ceruk luka yang semakin dalam karena kecewa

Gelap malam telah menyerupai warna bir yang kutuang
rindu menjelma degub yang meramaikan jantung serigala hutan
menuduh bibirmu sebagai korban,
sebait metafora dari kelenjar sayap yang
mengajakku terbang.

Ceritakan padaku,
seperih apa gerimis malam ini menjatuhi ubun-ubunmu
lebih nyeri dari jantung binatang buruan yang terpanah,atau melebihi anyir sayatan yang dilembabkan nanah?
—monolog kala itu

***

Pagi hari, sebelum berangkat sekolah, seperti apa yang telah Raja niatkan sebelumnya—mampir sebentar ke rumah si gadis misterius yang tak sengaja saat insiden di toko buku kemarin ia ikuti.

Dengan transportasi kesayangannya, Raja membelah jalanan yang terpantau tidak ramai, sebab dengan kecepatan 80 km/s kendaraanya itu masih bisa melaju tanpa harus kena batu.

Setibanya di rumah dengan pagar hitam tinggi menjulang. Raja mencoba menggoyangkannya, tak kunjung dapat sahutan. Tanpa pikir panjang, cowok itu masuk menerobos halaman rumah, diketuk pintu rumah sampai menimbulkan suara bak adanya perampokan.

"Ck, kayaknya sih tuh cewek udah berangkat ke sekolah duluan, deh," gumam Raja.

Langkah kaki Raja menjauh dari rumah itu. Ia bergegas pergi, menunggangi kuda besi tercinta. Lalu benak Raja berhenti berpikir sejenak, mengapa bisa-bisanya ia berada di tempat ini? Raja tak habis pikir bagaimana otaknya memanipulasi untuk membuat ia penasaran setengah mati dengan gadis misterius itu.

"Astaga, 'kan sekarang senin. Upacara!"

Raja dengan segera menyusuri padatnya jalanan. Sekarang ini, jalan sudah tak selenggang tadi, bisa jadi karena waktu semakin berganti, alhasil riuh terjadi. Raja terjebak macet, ia tidak memiliki harapan banyak untuk beberapa waktu yang akan datang, barangkali gerbang sekolahnya sudah tidak menerima lagi kedatangan Raja.

"Gila, lama banget!" rutuk Raja di balik helm full face-nya itu.

Klakson bersahut-sahutan, awan teduh tak kunjung memberi ruang bagi matahari untuk menampakkan diri. Naungan teduh bumantara pagi agaknya sedikit meneduhkan rasa dongkol Raja atas kemacetan ini.

Sesampainya Raja di sekolah—segera ia menuju lahan parkir yang berbeda letak dengan gedung utama. Prediksinya tidak melenceng. Benar saja, kala Raja datang, pagar tinggi itu sudah tertutup cantik. "Arghhh! Terlambat 'kan gue datangnya," kesal raja sambil menendang pagar.

Namun, keberuntungan sedang berpihak padanya. Ada satpam yang baik hati dan tidak sombong mempersilakan Raja untuk menapakkan kaki berbalut sepatu converse-nya memasuki lapangan penuh manusia.

"Langsung masuk aja!" titah si satpam baik hati.

"Dihukum enggak, Pak?"

"Iyalah." Jawaban dari satpam tersebut membuat Raja mendengkus sebal. Sesaat kemudian ia membantin, 'Yah, gak jadi baik deh.'

***

Istirahat kali ini, Raja tidak berminat mengunjungi tempat penuh sesak, berisi manusia mengantre makanan. Entah mengapa, Raja tidak merasakan perutnya minta diberi makanan, barangkali sebab saat jam pelajaran biologi tadi, Arka mengajak dirinya untuk ke toilet yang mana adalah alibi bocah itu untuk belok ke kantin.

Raja memilih untuk berjalan mengitari sekolah ini, anggap saja ia sedang menikmati masa ospek. Saat Raja sedang melintasi ruang berpelat baja bertuliskan,  'PERPUSTAKAAN' netranya menangkap sosok gadis yang berhasil meraja di kepalanya. Dari jendela bening ruang penuh buku itu, tampak gadis berambut kuncir kuda sedang berkutat dengan kegiatan membaca buku.

Rasa penasaran Raja kian memuncak, ia menerobos masuk ke dalam perpustakaan, berjalan mendekati gadis itu. Telapak tangannya menepuk bahu gadis itu, ini tentu membuat si empunya tersentak kaget.

"Huah!?"

Gadis itu histeris, banyak orang mengalihkan fokus hanya karena jeritannya. Buku antropologi yang sedari tadi ia baca dengan khidmat, kini tergeletak mengenaskan di lantai, buku itu terlempar berbarengan kala ia menjerit tadi.

Raja merasa bersalah. Tidak lain dan tidak bukan karena daksa gadis itu terus saja berguncang, wajah oval yang menyembur ketakutan. Ini tentu memicu rasa bersalah Raja kian berkecamuk.

Jalan selanjutnya yang menjadi pilihan Raja adalah menenangkan gadis itu. Entah reaksinya bagaimana, akankah lebih kalut atau mungkin akan reda. Raja tidak tahu, setidaknya ada usaha untuk berdamai.

"Hei!" Tangan Raja menempel pada bahu gadis itu. "Jangan takutlah! Gue juga orang kok, bukan hantu. Lo kenapa, sih, kalo ketemu gue kek ngeliat setan?"

Tak ada jawaban, bibir gadis itu masih terbelenggu bisu. Memejamkan mata, hingga akhirnya badai kalut itu reda. Ditatapnya kosong rak-rak penuh akan buku, netra teduh itu beralih menatap orang yang berada di samping kanannya—Raja segera melepas pegangan yang bertaut sempurna di bahu gadis itu.

"Eh, maaf," ujar Raja sebelum pandangannya beralih ke arah buku yang tergeletak bisu di bawah. Tanpa titah dari siapa pun, Raja dengan inisiatif tinggi tapi hanya terkadang—mengambil buku si gadis. Sekilas ia membaca nama yang tertera di sampul buku. "Mentari Saras Ayunda. XI Bahasa 2."

Gadis misterius yang selalu saja membuat Raja mengalihkan fokus, kini sedang menatap tidak suka pada Raja. Gadis yang Raja ketahui bernama Mentari itu merampas buku antropologi dari tangannya.

"Eh!" Raja kaget kala buku yang ia baca ditarik paksa. "Yah! Sobek, deh," lanjutnya, berbarengan dengan suara yang dihasilkan dari sampul buku.

"Ck," decak Mentari lalu menjauh pergi meninggalkan Raja yang masih terpaku pada posisinya. Sedang Raja sendiri menatap nanar sembari mengulang-ulang nama dan kelas gadis tersebut.

Gadis berhasil menguasai benaknya dalam waktu singkat, sikap misterius nan aneh darinya dapat membuat Raja gila. Mengucapkan nama dan kelas gadis itu masih Raja lakukan sampai ia duduk di bangku kelas.

"Mentari Saras Ayunda. Kelas XI Bahasa 2."

"XI Bahasa 2."

"XI Bahasa 2."

Tanpa diminta, Arka dengan tiba-tiba mengacaukan aktivitas Raja. "XI Bahasa 2? Kenapa, Ja? Ada siapa di situ?"

***

Debu jalanan mengepul dengan indah. Bau asap kendaraan menyergap masuk ke indra penciuman. Manusia berlomba-lomba agar bisa mendahului. Tidak terkecuali dengan remaja bersepeda motor itu. Matanya perih terkena debu, tapi bukanlah penghalang. Jiwa kepo Raja meronta ria, harus dituruti, jika tidak ia akan menyalahkan diri sendiri.

Tempat pemberhentian Raja ternyata adalah gedung bercat putih, yang mana tempat itu sangat kentara dengan bidang medis. Miliyaran neuron Raja melancarkan spektrum, sengatan listrik yang dihasilkan menciptakan perpaduan yang sangat cepat. Dalam cerebrum-nya timbul pertanyaan menggelitik yang segera harus Raja ulik.

Kini dirinya bagai seorang mata-mata, mengikuti kegiatan seseorang tanpa diketahui. Dari kejauhan, berpijak pada harumnya lantai rumah sakit, netra cowok tersebut tidak dapat lepas dari punggung gadis yang mengenakan tas berwarna merah.

Gadis itu Raja yakini bersama ibunya—menghampiri resepsionis, barangkali sedang mengurusi administrasi. Raja tetap setia menunggu hingga akhir tujuan si gadis. Ternyata dan ternyata, gadis dan ibunya itu menginjakkan kaki pada sebuah ruangan. Namun, di sini Raja tidak mendapati bau obat-obatan yang menyeruak, damai, tenang, dan suara orang sedang berbincang.

"Ini, 'kan ...."

Raja berhenti sejenak, benaknya melanglang jauh menembus atmosfer hingga beberapa saat kemudian berlabuh di asteroid. Telapak tangan Raja melayang, dihempaskannya lagi ke bawah. Ia bergidik ngeri kala membaca pelat di atas pintu. Sungguh, Raja ingin rasanya segera menyelimuti atma dengan gelapnya palung mariana.

"Jadi ternyata begitu."

Bersambung~

•••
Hai! Selamat datang di part 5 kelompok 4, jangan jadi silent reader's yaa^^.

-Annisa
-Zila
-Arka
-Meilani
-Daves

Salam sayang❤️

Raja BumiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang